Unika Gaungkan Arsitektur Populis
Rabu, 20 September 2017 | 18:21 WIB

Arsitektur merupakan cikal bakalnya Unika Soegijapranata, yang masa itu masih bernama Institut Teknologi Katolik Semarang (ITKS) dengan dekannya adalah Romo Mangunwijaya yaitu seorang  rohaniwan, novelis dan arsitek. Beliau  merupakan tokoh penting yang telah dipersiapkan khusus oleh Mgr. Soegijapranata untuk melaksanakan visi dan amanat tentang keberpihakan kepada orang kecil dalam bidang arsitektur, dan beliau pula yang memunculkan semangat  arsitektur populis dalam beragam karyanya, salah satu karyanya adalah yang mendapat penghargaan internasional Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992 pada proyek permukiman Kali Code, Yogyakarta.

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka 50 tahun Pendidikan Arsitektur Unika Soegijapranata, dan untuk menjawab pesan moral Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ, sebagai patron Unika dengan semboyan “Talenta pro patria et humanitate” yang artinya talenta terbaik dipersembahkan demi bangsa-negara serta kemanusiaan, maka diadakanlah Seminar Nasional dengan tema “Arsitektur Populis Dan Tantangan Masa Kini”.

Dalam seminar yang dilaksanakan pada hari Rabu (20/9) bertempat di ruang Teater, gedung Thomas Aquinas ini, turut menjadi pembicara seminar adalah Dr. Rudyanto Soesilo sebagai salah satu cikal bakal berdirinya arsitektur Unika yang hingga sekarang masih aktif mengajar di Program Studi Arsitektur Unika Soegijapranata, dengan topiknya tentang “Arsitektur Populis dalam Konteks”.

“Kami di arsitektur, sudah saatnya setelah 50 tahun ini kita akan memformalkan pengejawantahan pesan Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ itu dengan membuat mata kuliah pilihan dengan nama arsitektur populis. Dan saat ini kita akan menyeminarkan dan menggaungkan apa arsitektur populis itu. Hal lain kita juga sudah mulai dengan tugas akhir mahasiswa dengan arsitektur populis,”jelas Dr. Rudyanto.

Selain itu Dr. Rudyanto juga menyinggung tentang kawula alit yang tidak pernah tercatat dalam sejarah arsitektur,“Biasanya yang tercatat dalam sejarah adalah Grand Architecture, dan saya mengkategorikan arsitektur menjadi tiga meliputi Grand Architecture yaitu istana atau rumah ibadah seperti misalnya Borobudur, istana Taj Mahal, kemudian ada Ordinary Architecture yakni arsitektur yang kita pakai sehari-hari seperti misalnya Ruko, Kantor dan yang ketiga adalah Populis Architecture yaitu arsitektur untuk orang kecil, kaum termarginalkan, tertinggal dan sebagainya,” imbuhnya.

Undang-Undang Yang Baru

Sementara itu pembicara kedua, Dr. Tjuk Kuswartojo pendiri Pusat Penelitian Lingkungan Hidup ITB, juga turut hadir dengan bahasannya tentang “Peluang mengembangkan arsitektur untuk rakyat dan Arsitek berwawasan kerakyatan”.

Dalam seminar itu Ia menjelaskan, ”Arsitektur itu sebetulnya lahirnya dari rakyat. Arsitektur menjadi permainan para arsitek yang elit itu kan baru pada abad ke-16. Arsitektur juga dipahami dengan bermacam-macam, dan baru abad ke-20 arsitek yang elit itu mulai luntur, karena banyak penulis yang menyatakan bahwa pada dasarnya karya arsitek itu terlampau kecil, hanya 5 % dari kehidupan ini, yang sebagian besar itu justru dibuat oleh rakyat sendiri,” tutur Dr. Tjuk.

“Yang menarik adalah dengan terbitnya undang-undang yang baru tentang arsitek yaitu UU No.6 tahun 2017 oleh pemerintah pada bulan Agustus lalu. Dan saya menilai undang-undang ini lebih advance atau maju karena pemahaman tentang arsitektur itu jauh lebih luas dari undang-undang yang di Malaysia, Singapura maupun di Inggris. Kalau undang-undang yang di Inggris itu masih menempatkan arsitek itu sebagai kelompok yang elit. Sedangkan undang-undang yang baru di Indonesia menjelaskan arsitektur sebagai Beyond Building atau diluar batas gedung, artinya arsitektur itu bukan gedung tapi ruang dan lingkungan binaan, jadi arsitektur itu lebih luas daripada gedung. Yang berikutnya dalam undang-undang ini ada klausul yang menyatakan bahwa untuk bangunan sederhana dan rumah adat tidak perlu punya sertifikasi dalam praktek arsitektur,” tambahnya.

Pada sesi seminar ini, juga turut hadir Prie GS yaitu seorang seorang budayawan yang menyampaikan pandangannya tentang arsitektur populis yang bisa menetralisir ancaman artistik dan rasa keberbedaan publik.(Fys)

Kategori: ,