Transformasi Unika Soegijapranata
Sabtu, 2 September 2017 | 14:32 WIB
Serah terima Rektor Unika Soegijapranata dari Prof Dr Y Budi Widianarko ke Prof Dr Ridwan Sanjaya saat upacara Dies Natalis kampus tersebut ke-35 di Auditorium Gedung Albertus, Kamis (31/8).

Serah terima Rektor Unika Soegijapranata dari Prof Dr Y Budi Widianarko ke Prof Dr Ridwan Sanjaya saat upacara Dies Natalis kampus tersebut ke-35 di Auditorium Gedung Albertus, Kamis (31/8).

Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata melakukan pergeseran kepemimpinan, Rektor Prof Dr Y Budi Widianarko menyerahkan kepada Prof Dr Ridwan Sanjaya saat Dies Natalis ke-35 universitas tersebut. Prof Dr Y Budi Widianarko menyebut, masih banyak yang harus dikerjakan untuk kampus ungu tersebut.

“Saya hanya bisa menyiapkan kapal yang siap berlayar tapi masih dekat dengan pantai,” kata Prof Budi kepada wartawan di kampus setempat, kemarin.

Beberapa hal yang harus dikerjakan menurutnya antara lain, dari sisi ukuran yaitu jumlah mahasiswa antara 10 ribu sampai dengan 12 ribu. Berikutnya adalah kampus dua di Bukit Semarang Baru (BSB) yang harus segera jadi dalam waktu tidak terlalu lama.

“Kapal Unika ini harus siap menghadapi dinamika perubahan teknologi, butuh pemimpin yang mampu berselancar di dunia maya. Universitas harus mencari bentuk yang pas menghadapi teknologi, jangan sampai seperti dinosaurus yang punah,” tuturnya.

Ia merasa senang karena penerusnya ahli di bidang Sistem Informasi dimana saat ini dunia luar mengalami perubahan yang sangat luar biasa. Unika selama dipimpinnya diakui mengalami banyak perubahan positif tetapi perubahan di luar berjalan lebih cepat, terutama perkembangan teknologi informasi.

Budi menyebut, ke depan lebih banyak rezim perangkingan. Kemenristekdikti sudah akan meluncurkan satu program lagi yaitu Sinta dimana semuanya lebih terbuka lagi. Ini sambungnya, menuntut kelihaian dalam bisang sistem informasi.

Sementara Rektor Unika Soegijapranata yang baru Prof Dr Ridwan Sanjaya menyatakan, perjalanan kapal masih panjang barangkali ganti isi kapal karena ada yang muda-muda muncul.

“Kalau ganti generasi ganti isi itu harus solid, happy, safety dan terkoneksi. Harus bisa membawa lebih jauh lagi sampai ke tanah baru yang diharapkan, seperti dalam cerita bahtera Nuh,” tambahnya.

Dari sana tantangan sudah terlihat. Ada beberapa pendapat menyampaikan, kalau tidak merubah diri dan tidak terkoneksi satu sama lain maka ke depan tidak bisa sendiri, justru harus bersama dimana satu sama lain memahami karena masing-masing punya keahlian.

Ridwan melanjutkan, teknologi informatika sebagai dasar saja orang bergerak sehingga ketika gotong royong terjadi lebih mudah terjadinya karena kedepan kecepatan meningkat sehingga tidak bisa mengandalkan hanya orang-orang tertentu saja tapi bisa melibatkan gerakan-gerakan di bawahnya. Gerakan di bawah ini bisa tercipta jika ada platformnya.

(►http://berita.suaramerdeka.com)

Kategori: