Tanggapi Isu Beras Plastik, FTP Unika Gelar FGD
Jumat, 8 September 2017 | 11:13 WIB

Mencuatnya kasus beras plastik baru-baru ini mendorong Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika Soegijapranata menggelar diskusi dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Mencintai Beras Indonesia” pada hari Selasa (29/8) bertempat di ruang Oval, gedung Albertus lantai 2, Unika.

Diskusi yang dimoderatori oleh Dr. R. Probo Yulianto N., S.TP., MSc. dan Dr. Ir. Lindayani, MP telah menghadirkan narasumber Dewi (dari Gita Pertiwi Solo); Maya (dari PT. Marifood); Mustofa (dari Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah); serta Dr. B. Soedarini, S.TP, MP. dan Meiliana, S.Gz, M.S (dari FTP Unika).

“Bagi dunia, khususnya Benua Asia, keberadaan komoditas beras menjadi suatu hal yang vital. Terbukti, Dengan jumlah penduduk mencapai kira-kira 4,1 milyar jiwa, Benua Asia dapat memproduksi sekitar 90% kebutuhan beras dunia. Fakta yang berada di Benua Asia tersebut turut ditopang dengan fakta lainnya dari Negara Indonesia yang mengalami kenaikan produksi beras pada tahun 2015 hingga mencapai 6,37 persen dibandingkan tahun 2014. Meskipun jumlah produksi yang terus menanjak, Indonesia tetap harus mengimpor kebutuhan pangan yang satu ini dikarenakan status Indonesia sebagai negara dengan tingkat konsumsi beras per kapita paling tinggi di dunia dan penggunaan teknologi sebagai alternatif beras masih minim” jelas Meiliana.

“Sebagai perbandingan, Negara Indonesia memiliki jumlah konsumsi beras per kapita 140 kg dalam satu tahun. Bila dibandingkan dengan jumlah konsumsi beras rata-rata dunia yang hanya 60 kg dalam satu tahun, terdapat perbedaan 2 kali lipat. Untuk itu, Indonesia sampai dengan hari ini belum bisa terhindar dari impor beras” imbuhnya.

“Konsumsi beras tidak diharuskan bergantung pada satu jenis beras seperti misalnya Beras Putih, karena masih ada beberapa macam jenis beras lainnya yang dapat diunggulkan seperti misalnya  dalam Beras Merah yang merupakan varietas padi lokal yang dapat dikembangkan meliputi : Merah Anoman, Merah Mandel, Merah Slegreng, Merah Merba, dan Merah Arum Jenar. Keunggulan Beras Merah memiliki nilai energi dan kandungan mineral lebih tinggi jika dibandingkan dengan Jenis Beras Putih. Lain halnya dengan Beras Hitam, warna Hitam yang terkandung merupakan zat antikarsinogenik yang dapat digunakan sebagai pencegah kanker. Khusus untuk penderita Diabetes Mellitus (kencing manis), dapat digunakan Beras Jenis khusus yaitu Cisokan karena memiliki Indeks Glikemik yang rendah” tutur Mustofa.

“Hasil produk beras dapat mengalami diversifikasi menjadi tepung beras, jus bahkan makanan olahan. Tepung Beras Merah misalnya dapat digunakan untuk menurunkan kolesterol serta dapat mencegah penyakit menurun karena gen. Bagi Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah yang telah lama membudidayakan sistem pertanian organik menyadari bahwa pertanian organik saat ini kurang diterima oleh para petani dikarenakan petani yang telah terbiasa memakai cara yang praktis, akan tetapi dengan memakai cara organik membutuhkan waktu yang cukup lama untuk konversi ke sistem pertanian organik. Akan tetapi, dibalik kerugian yang ditimbulkan, pertanian organik membawa keuntungan, salah satunya hasil panen yang diperoleh mempunyai nutrisi tinggi karena bebas dari bahan kimia berbahaya dan tidak menimbulkan risiko kerusakan tanah bahkan berdasarkan pengalaman kami sistem ini dapat memperbaiki struktur tanah” jelas Mustofa.

Isu Beras Plastik

“Dari beberapa isu yang beredar baru-baru ini mengenai Beras Plastik, saya kurang setuju terhadap isu tersebut. Sudah banyak isu-isu yang dilemparkan pada komoditas beras sejak dulu antara lain : bihun yang merupakan produk olahan beras mempunyai sifat mudah terbakar; pemasakan lontong menggunakan plastik; beras mengandung pemutih. Sederhana saja, untuk beberapa isu tersebut seperti misalnya penggunaan plastik untuk membuat lontong dapat diuji dengan alat Spektrofotometer FTIR (Fourier Transform Infra Red). Sedangkan isu beras yang mengandung pemutih juga dapat diuji melalui Uji Povidone-Iodine” jelas Dr. B. Soedarini, yang merupakan salah satu dosen FTP Unika dari rumpun Keamanan dan Integritas Pangan.

“Semakin tingginya tingkat konsumsi beras di Indonesia menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat konsumsi beras tertinggi di dunia dan beras juga membawa Indonesia ke dalam masalah sebagai negara diabetes mellitus tingkat 2 dan obesitas. Untuk itu dalam mengatasi masalah ini, PT. Marifood membuat produk yang mencampur beras dengan biji-bijian lainnya. Produk tersebut diketahui bernama Kongbap. Produk makanan ini telah cukup populer di Korea Selatan dan Jepang. Produk Kongbap yang dibuat oleh PT. Marifood merupakan campuran dari beberapa biji-bijian antara lain : Beras Hitam, Beras Merah, Wijen, Millet Putih, Millet Merah, Jagung, Beras Ketan, Kacang Hijau, Basil, dan Barley. Walaupun dicampur dengan beberapa jenis biji-bijian lainnya, produk Kongbap tidak akan mengubah rasa dan aroma nasi serta dapat membuat nasi lebih pulen” jelas Maya. (Cal)

Kategori: ,