Ridwan Kenalkan Pemikiran Disruptive Innovation
Selasa, 5 September 2017 | 12:05 WIB

TRB 4_9_2017 Ridwan Kenalkan Pemikiran Disruptive Innovation

Universitas Katolik (Unika) Soegyapranata memiliki rektor barn Ridwan Sanjaya, menggantikan Budi Widi­anarko, Kamis (31/ 8). Ridwan akan menjabat sebagai Rektor Unika masa bakti 2017-2021. Bagaimana kiprah Ridwan Sanjaya selama ini?

SEBELUMNYA Ridwan menjabat sebagai Wakil Rektor Empat Bidang Kerjasama dan PengembanganUnika Soegi­japranata. Ridwan dikenal ahli dalam dunia teknologi.

Disruptive Innovation menjadi era baru dalam dunia pendidikan tinggi. Inovasi tersebut merupakan langkah tepat agar suatu perguruan tinggi agar tidak hilang tergerus oleh Itulah salah satu pemi­kiran Ridwan Sanjaya, yang akan diaplikasikan dalam memimpin Unika. Ia menje­laskan jika Disruptive Inno­vation menipakan langkah tepat bagi dunia pendidikan * khususnya pendidikan tinggi agar tidak mati dan hilang oleh perubahan.

"Disruptive Innovati­on mau tidak mau hares dilakukan oleh seluruh perguruan tinggi agar tidak mati atau hilang karena perubahan. Masyarakat Indonesia sekarang sangat dinamis oleh perubahan teknologi," ujarnya.

Dengan memanfaatkan teknologi, ia berencana menjembatani seluruh civitas akademika Unika dengan industri yang ada di Indonesia. "Disruptive Inovation sangat bergantung, kepada pemanfaat­an teknologi. Nantinnya program tersebut dapat menjadi jembatan antara seluruh civitas akaderni­ka Unika yang di dalamnya ada dosen dan mahasiswa dapat langsung terhubung langsung dengan industri. Hal itu memudahkan ke­tika dalam mencari kerja," tandas Ridwan Sanjaya.

Ia mengaku telah prak­tikkan mengenai Disrup­tive Innovation dan telah diluncurkan pada akhir April 2015 di Unika, satu di antaranya ialah aplikasi U­nika Menyapa.

Aplikasi tersebut merupa­kan jawaban kebutuhan ma­hasiswa, orangtua dan dosen dalam lingkungan kampus.

Menurutnya, Disruptive Innovation mengenai peru­bahan dalam sistem pendi­dikan tinggi tidak langsung menjadi pemenang namun membutuhkan proses untuk terus berkembang menjadi lebih baik.

Ia pun menjelaskan jika Inovasi tersebut dapat mengalahkan inovasi yang telah ada sebelumnya. "Dis­ruptive Innovation dengan memanfaatkan teknologi tidak langsung jadi peme­nang menurut saya itu membutuhkan proses da­lam perkembangannya. Se­perti contoh inovasi gadget dahulu tahun 2000, gadget berantena sangat banyak digemari. Namun sekarang tergerus oleh perubahan gadget yang stylis," jelasnya.

Ridwan telah banyak memiliki karya tulis dalam bentuk buku. 108 buku telah is tulis dan telah diter­bitkan melalui penerbit Elex Media Komputindo.

Ia pun mengaku saat masa kecil dan remaja, pria kelahiran 17 Juli 1977 saat berada di daerah Demak tempat dia tinggal semasa kecil hingga remaja, sebe­lum sekolah ia sempatkan untuk membantu sang ayah mengantarkan koran ke pelanggan. Sedikitnya lima perusahaan koran menjadi alat jualannya.

Dan pada saat remaja, Ridwan dan kakaknya mengantarkan koran ke pelanggan dengan sepeda onthel.

"Minat baca saya tumbuh karena harus tahu lima koran sebelum sampai kepelanggan. Dari situlah akhirnya saya menumbuh­kan niat menulis saya," kenang Ridwan.

Kegemarannya dalam bel­ajar bahasa komputer se­masa perkuliahan memba­wanya hingga meraih gelar S-3 Computer Information System, Assumtion Univer­sity Bangkok pada 2011. Sedangkan untuk S1, ia raih dari Program Studi Manaje­men Universitas Diponegoro ( 1995-2001) dan program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Stikubank Semarang (1996 – 2000).

(►Tribun Jateng 4 September 2017)

Kategori: