Jonan dan Uskup Rubiyatmoko Orasi Ilmiah di Unika Soegijapranata
Sabtu, 2 September 2017 | 15:13 WIB
Ignatius Jonan menyampaikan orasi (semi) ilmiah dalam Dies Natalis XXXV Unika Soegijapranata

Ignatius Jonan menyampaikan orasi (semi) ilmiah dalam Dies Natalis XXXV Unika Soegijapranata

Dua figur istimewa yakni Ignatius Jonan dan Mgr Robertus Rubiyatmoko memberikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis XXXV Unika Soegijapranata dan serah terima jabatan serta pelantikan Rektor baru, Kamis (31/8).

Demikian dikemukakan Romo Aloys Budi Purnomo Pr, Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata.

“Orasi saya bukan ilmiah tetapi semi-ilmiah ya..” ujar Menteri ESDM tanpa naik podium, yang kemudian disambut tawa hadirin.

“Oh ya bagus tadi Pak Rektor menyanyi. Cuma lagunya tidak sesuai usianya ya. Lain kali kalau pilih lagu jangan pilih lagu yang seusia saya…. biar bisa menghayati…”, canda Jonan mengawali orasinya yang kembali disambung tawa para hadirin.

Pentingnya Wisdom
Menurut Jonan, orang harus memiliki wisdom di tengah arus kemajuan teknologi. Jonan memutar film pendek Jack Ma yang mengajak never lose hope.

“Kita tidak bisa menghentikan perubahan jaman. Juga antara lain melalui online store. Kompetisi makin ketat dan serius. Untuk itu kita harus inovatif. Jack Ma buat Alibaba yang hasilnya dahsyat. Maka kita harus melakukan transformasi leadership. Perubahan kepemimpinan. e-Commerce menjadi salah satu terobosan. Ini cocok dengan kompetensi Rektor Unika yang baru. Benar ya Pak?”, kata Jonan.

Lebih lanjut Jonan mengatakan, tidak ada kebudayaan yang bisa bertahan tanpa melakukan perubahan sesuai dengan perkembangan jaman. Gereja Katolik pun mengalami perubahan.

“Dua film diputar tentang Jack Ma dari Hong Kong dan tokoh dari India itu menggambarkan sosok pribadi yang memanfaatkan perubahan dengan wisdom. Menggunakan kemajuan iptek untuk kemajuan dan kesejahteraan semakin banyak orang”, tegas Jonan.

“Di India orang belanja tanpa bawa uang tapi dengan menggunakan hp untuk memotret barkot barang yang dibeli. Anak-anak muda menggunakan semua itu.”

Terkait dengan pendidikan, Jonan mengatakan perlunya e-Education dikembangkan. Namun dalam semuanya itu wisdom harus tetap dipertahankan dan diperjuangkan.

“Kita kembangkan listrik dan kita menangkan Feeport. Itu semua berkat wisdom“, kata Jonan memberi contoh.

Jonan mengutip kalimat Ibu Teresa: tak semua orang bisa lakukan hal besar. Namun, lanjut dia, jika orang melakukan hal kecil dengan cinta yang besar maka ia pun melakukan hal yang besar.

“Makin tambah usia harus makin banyak memberi bukan menerima. Kalau banyak menerima bisa kena ott….”, canda Jonan yang kembali disambut tawa para hadirin.

Menurut Jonan, pemimpin itu harus melayani. “Jabatan itu amanah bukan cita-cita,” ujar Jonan menandaskan.

Mengakhiri orasinya, Jonan menegur halus tentang cara merawat Garuda Pancasila. “Pak Rektor…., Garuda yang di atas itu dari kuningan ya? Itu harus dibraso biar mengkilap! Begitulah kita harus menjaga dan merawat Garuda Pancasila agar tetap bercahaya!” Para hadirin pun tertawa termasuk Pak Rektor lama dan baru.

Kepemimpinan Kristiani
Sementara itu, Mgr Dr Robertus Rubiyatmoko menyampaikan orasi ilmiah dengan tajuk “Kepemimpinan Kristiani, Kepemimpinan Kreatif”. Doktor Hukum Gereja Katolik itu, menegaskan bahwa kepemimpinan tidak pernah dapat dipisahkan dari pemahaman atas otoritas sebagai pelayanan dan peranan seorang pemimpin untuk mengembangkan komunitas yang dipercayakan kepadanya.

Pemimpin Kristiani dan kepemimpinan pada umumnya, harus cakap dan kreatif. Kepemimpinan kreatif mesti ditandai pula menjadi kepemimpinan yang responsif, inklusif, inovatif dan transformatif. Keempat pokok model kepemimpinan itu diterangkan secara mendetil mendalam.

“Pemimpin yang responsif mengembangkan kepekaan pada sesama dan tim. Tanggap ing sasmita dan peka terhadap tanda-tanda zaman,” jelas Uskup.

Pemimpin inklusif, lanjut Mgr Rubiyatmoko, selalu melibatkan dan mengikutsertakan semua orang bahkan yang berbeda juga dalam hal agama (bdk Nostra Aetate 2). Ia tidak single fighter melainkan terbuka dengan siapa saja.

Pemimpin inovatif terbuka untuk pembaruan. Ia tak pernah puas diri. Mampu berdiskresi dalam keheningan dan doa.

Akhirnya pemimpin harus transformatif. Gereja memberi contoh kepemimpinan seperti ini dalam dir Yohanes XXIII yang menyerukan Konsili Vatikan II.

“Semoga kita semua dimampukan menjadi pemimpin Kristiani yang kreatif dalam sikap responsif, inklusif, inovatif dan transformatif untuk memajukan kehidupan bersama. Keempat model itu bisa ditemukan dan dicontoh dalam dan dari kehidupan Yesus!*.

(►http://www.beritasatu.com)

Kategori: