Inspirasi Mengajar Muncul Saat Studi Master di Amerika
Rabu, 27 September 2017 | 14:59 WIB

Ketertarikannya pada dunia gizi dan pangan sejak masa SMA membawa Meiliana, salah satu dosen baru Fakultas Teknologi Pertanian Unika Soegijapranata, menekuni dunia gizi di bangku kuliah. Sejak lulus dari SMA, Meiliana diterima di Jurusan Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang melalui jalur PSB (Jalur Prestasi).

“Saat saya masuk di Universitas Brawijaya melalui jalur prestasi, Universitas Brawijaya menyaring siswa-siswa berprestasi di tiap sekolah dan dari tiap sekolah hanya terpilih satu yang terbaik untuk jurusan tertentu. Waktu itu, ada satu teman saya yang diterima di Fakultas Kedokteran jurusan Kedokteran, sedangkan saya masuk di Jurusan Gizi Kesehatan” ujar Meiliana menceritakan proses seleksi Universitas Brawijaya.

Setelah lulus dari pendidikan sarjana, Meiliana mencoba mencari pengalaman dengan bekerja sekaligus pertukaran budaya Indonesia-Belanda sebagai Au Pair. Au Pair dimaksud adalah tinggal bersama host family di luar negeri dan membantu menjaga anak host family saat orangtuanya bekerja. Saat itu, Meiliana bekerja sebagai Au Pair di Negeri Belanda selama 1 tahun.

Setelah menyelesaikan program Au Pair, sejatinya Meiliana ingin melanjutkan pendidikan master. Akan tetapi, ia masih belum mendapatkan beasiswa sebagai bagian pembiayaan pendidikan lebih lanjut. Ia pun memutuskan mengisi waktu luangnya dengan bekerja sebagai ahli gizi di Rumah Sakit Siloam Bali selama 1,5 tahun.

Pengalaman Asisten Dosen

Meiliana akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa Fulbright Scholarship. Selain Meiliana, beasiswa Fulbright Scholarship juga berhasil diraih oleh Novita Ika Putri, S.TP., MSc. (salah satu dosen FTP lainnya). Selama di Amerika Serikat, Meiliana mengenyam pendidikan master di Saint Louis University selama 2 tahun dengan program peminatan Nutrition and Dietetics. “Alasan saya memilih program peminatan Nutrition and Dietetics karena program ini tidak terlepas dari latar belakang pendidikan sarjana saya yang berada dalam lingkup Gizi Kesehatan khususnya di bidang Klinik,” ungkap Meiliana, yang bernama lengkap Meiliana, S.Gz, M.S.

Seiring berjalannya waktu saat menempuh pendidikan master, minat Meiliana berubah dari yang sebelumnya sangat tertarik bekerja di rumah sakit menjadi lebih berminat untuk berperan di bidang pengajaran. Meiliana menyadari bahwa ia lebih menyukai hal-hal yang berkaitan dengan Nutrition Education, hal-hal lainnya berkaitan dengan bidang pertanian seperti berkebun tanaman yang masih memiliki hubungan dengan gizi dan memasak.

Minat Meiliana yang berubah semasa menjalani pendidikan master tidak terlepas dari pengalamannya bekerja sebagai asisten dosen semasa di Amerika Serikat. Meiliana bekerja sebagai asisten dosen yang tidak mengajar di kelas, melainkan di kebun milik Departemen Nutrition and Dietetics. Menurut Meiliana, di Saint Louis University, pendidikan Nutrition and Dietetics dicoba untuk dikaitkan dengan kegiatan berkebun. Hal ini bukanlah tanpa alasan karena Saint Louis University memiliki pandangan bahwa seluruh makanan ada karena berasal dari bidang pertanian. Di Saint Louis University, baik mahasiswa maupun komunitas sekitarnya diberikan pendidikan tentang gizi dan kesehatan melalui kegiatan bertani dan memasak. Meiliana pun banyak membantu program Departemen Nutrition and Dietetics tersebut yang dinamakan Summer Camp (Culinary Camp). Tidak hanya mahasiswa, anak-anak di tingkat Sekolah Dasar sewaktu libur musim panas banyak berdatangan ke kebun milik departemen Nutrition and Dietetics untuk belajar. Setelah pagi hari berkebun, anak-anak masuk ke ruangan Laboratorium memasak untuk belajar memasak. Saat proses memasak, pelajaran mengenai gizi dan kesehatan disampaikan pada anak-anak tersebut.

Semasa menjadi asisten dosen, Meiliana banyak mendapatkan inspirasi dari cara mengajar dosen-dosen di Negeri Paman Sam yang jelas berbeda saat ia mengenyam pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya. Meiliana merasa cara mengajar para dosen di Amerika Serikat lebih mendekatkan diri dengan para mahasiswa dan ia pun banyak bertukar pikiran dengan dosen pembimbing selama kuliah di Amerika Serikat. Dari hal inilah, ia pun mulai menyadari betapa asyiknya mengajar dan juga menyadari bahwa ia lebih menyukai menjadi pengajar. Pengalaman mengajar juga pernah ia dapatkan sebelum menjadi asisten dosen dengan menjadi guru les bagi anak-anak SMA untuk beberapa mata pelajaran, salah satunya Kimia semasa kuliah S1.(Cal)

Kategori: ,