Ini Profesor ke-71 di Jawa Tengah
Selasa, 5 September 2017 | 22:32 WIB

Bertempat di Auditorium Albertus, Senin (17/7) pagi dilaksanakan Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar Prof Dr Federik Ridwan Sanjaya, SE, S.Kom, MS.IEC dalam bidang Sistem Informasi Universitas Katolik Soegijapranata. Ridwan Sanjaya adalah guru besar ke-71 dari 10.000 dosen yang berkarya di Jawa Tengah.

Fredrik Ridwan Sanjaya yang lahir di Demak, Jawa Tengah, 17 Juli 1977, menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan Guru Besar atau Profesor yang diserahkan oleh Prof Dr DYP Sugiharto selaku Koordinator Kopertis VI di kantor Kopertis Vl JawaTengah.

Pada kesempatan itu, Koordinator Kopertis VI mengatakan, melalui pencapaian ini penerima amanah guru besar diharapkan dapat menjadi fasilitator bagi dosen lain dalam meningkatkan karyanya dan mencapai jenjang kepangkatan akademik yang lebih tinggi. Selain itu penelitian dan publikasi ilmiah berskala internasional juga harus semakin ditingkatkan.

Hadiah HUT ke-40

Rapat Senat Terbuka pengukuhan Prof Fred sebagai guru besar dilaksanakan tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-40, 17 Juli 2017. Ini menjadi hadiah di hari ulang tahunnya.

Saat ini, Fredrik Ridwan Sanjaya menjabat sebagai Wakil Rektor IV Unika Soegijapranata dan dosen di program studi Sistem Informasi. Ridwan juga dikenal sebagai penulis buku-buku komputer, teknologi-bisnis, dan teknologi-psikologi di penerbit buku nasional, serta penulis aktif kolom di surat kabar Jawa Tengah.

Prof Fredrik juga sudah terpilih sebagai Rektor Unika Soegijapranata Semarang yang telah berhasil meraih akreditasi institusi peringkat A (Unggul) dari BAN PT, akan menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan Unika Soegijapranata, Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc.

Disruptive Innovation

Dalam Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar itu Prof Fred menyampaikan pidato ilmiah berjudul “Disruptive Innovation dalam Pendidikan Tinggi”. Menurut Ridwan, belakangan ini konsep disruptive innovation sedang hangat dibicarakan, khususnya di dunia bisnis. Misalnya, sedang marak bisnis transportasi online, penginapan online, tiket online dan sejenisnya.

Terinspirasi oleh realitas itu, Prof Fredrik menggagas peluang mengembangkannya dalam dunia pendidikan. Dalam tingkat dunia, sudah banyak dikembangkan konsep disruptive innovation dalam Pendidikan Tinggi. Mengacu, antara lain, dari Christensen & Eyring (2011), Prof Fred menggagas perlunya perguruan tinggi memikirkan kembali keseluruhan model pendidikan tinggi melalui disruptive innovation serta menawarkan cara-cara baru terkait kurikulum, fakultas, pendaftaran, retensi mahasiswa, tingkat kelulusan, pemanfaatan fasilitas kampus dan isu mendesak lainnya.

Prof Fredrik Ridwan menyatakan, tidak mustahil, Unika Soegijapranata mengembangkan dan mengaplikasikan konsep tersebut dalam proses pendidikan dan pembelajaran di masa mendatang. Hal ini justru akan menjadi inovasi layanan dalam pendidikan tinggi.

Menurutnya, melalui perangkat elektronik yang cerdas, mendukung mobilitas penggunanya, dan memudahkan dalam mengakses konten pembelajaran yang disediakan oleh perguruan tinggi, siswa akan semakin fleksibel dalam belajar dan memperdalam suatu pengetahuan. Kolaborasi dan metode pembelajaran kolaboratif yang makin mudah ditetapkan melalui perangkat cerdas, semakin memperkaya kualitas pembelajaran tanpa meninggalkan interaksi dengan sesama siswa.

Lebih lanjut anak agen koran yang kini jadi guru besar itu mengatakan, perguruan tinggi harus selalu bergerak menemukan berbagai hal yang baru agar dapat menjadi pemimpin dari disruptive innovation atau adaptif menjadi bagian dalam perubahan yang radikal agar tidak tertinggal dan tergantikan oleh yang baru. Transformasi perguruan tinggi yang lebih baik, lebih mudah, lebih sederhana dan lebih nyaman merupakan usaha terus-menerus yang tidak boleh berhenti. Dengan begitu, Perguruan Tinggi dapat menjadi lingkungan yang terus berkembang dan menginspirasi semua waega di dalamnya.

Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc dalam sambutannya mengatakan, Fredrik Ridwan Sanjaya merupakan guru besar ke-5 di Unika Soegijapranata bahkan yang tergolong muda dalam usianya 40 tahun.

Dalam sambutannya, Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc antara lain mengatakan, menjadi Guru Besar merupakan suatu pencapaian yang istimewa dalam dunia Civitas Academica. Itulah puncak akademik yang harus kian berbuah dalam kehidupan bersama.

http://sinarharapan.net

Kategori: