Arsitektur Hadapi Tantangan Milenial – Bangunan Harus Bermakna
Jumat, 22 September 2017 | 9:25 WIB

JTP 22_9_2017 Arsitektur Hadapi Tantangan Milenial
Sudah saatnya arsitektur Indonesia menjawab tantangan abad milenial. Salah satunya adalah melirik pengembangan kawasan pinggiran yang selama ini terbelakang disulap menjadi pemukiman moderen.

Selama ini pengembangan pembangunan hanya dilakukan di perkotaan dengan bentuk bangunan konvensional. "Kami ingin berbagi pengalaman dan menyebarkan virus pembangunan modem saat ini lewat istilah arsitektur populis," ujar Rudyanto Soesilo, pakar arsitektur Unika.

Saat ditemui usai seminar, Rudyanto menegaskan, Indonesia perlu bergerak mengembangkan arsitektur populis seperti negara Mesir dan India. "Kedua negara perekonomiannya tidak tinggi, sederhana, hal ini bisa karena dibantu oleh para arsitektur," jelas Dr Rudyanto Soesilo.

Dalam seminar bertema Arsitetur Populis dan Tantangan Masa Kini ini diadakan Prodi Arsitektur dan Desain Unika dalam rangka 50 tahun pendidikan arsitekur di Gedung Thomas Aquinas, Rabu (20/9). Acara juga mengundang pernbicara Prie GS Budayawan Semarang dan Ir Tjuk Kuswartojo, pendiri Penelitian Lingkungan Hidup ITB.

Tjuk menambahkan, sekarang ini masyarakat sudah tahu saatnya apakah itu arsitektur populis. Arsitektur populis sering disindir pembangunanya berpihak pada masyarakat berduit, dan sudah saatnya ada perubahan membantu pembangunan di kawasan pinggiran.

"Bantulah mereka pembangunanya agar bisa membaik," ucapnya. Menurut Prie GS, bicara arsitektur populis baginya tidak terlalu risau dan terpenting buatlah sebuah rumah yang bisa membuatmu nyaman.

(â–ºJateng Pos Jumat,22 September 2017) 

Kategori: