Unika Soegijapranata Curah Pendapat untuk Revitalisasi Pancasila
Selasa, 1 Agustus 2017 | 9:04 WIB

Investor - Unika Soegijapranata Curah Pendapat untuk Revitalisasi Pancasila

Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc mengundang sejumlah personil akademika Unika Soegijapranata untuk melakukan curah pendapat tentang Pancasila, Senin (31/7/2017).

Curah pendapat dilakukan menanggapi surat dari Romo Guido Suprapto Pr – Sekretaris Eksekustif Komisi Kerawam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang meminta pemikiran akademis terkait rencana penyelenggaraan Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia Revitalisasi Pancasila.

Hadir dalam kesempatan itu adalah Dr Angelika Riyandari MA, Drs Theodorus Sudimin MS –Ketua The Soegijapranata Institute, B Danang Setianto SH LLM, P Danardono SH Mag Hum, Drs DP Budi Susetyo MSi, Dr Fl Budi Setiawan MT, Dr Oct Digdo Hartomo MSi, Dr Antonius Maria Laot, Drs Ign Dadut Setiadi MM, dan Romo Aloys Budi Purnomo Pr sebagai Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata

 

Kekuatan Pancasila 
Romo Budi dalam keterangannya kepada Investor Daily, mengungkapkan curah pendapat yang dipimpin langsung Prof Budi itu, membicarakan kekuatan Pancasila sebagai ideologi dalam menghadapi tantangan ideologi lain baik  yang lama maupun kontemporer. Digarisbawahi bahwa Pancasila adalah identitas negara bangsa Indonesia.

Karenanya, Pancasila harus dipakai untuk memuliakan keberagaman baik agama, etnis, bahasa maupun budaya. Pancasila berakar pada sejarah peradaban Nusantara untuk menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.

Di tengah arus kehidupan saat ini, diperlukan strategi  penguatan Pancasila sebagai way of life yang dimulai dari kehidupan kenegaraan. Perlu dilakukan penguatan kehidupan bernegara yang berbasis Pancasila.

“Jangan hanya menuntut rakyat bersikap Pancasilais. Para pemimpin dan politisi harus pula berperilaku Pancasilais. Karenanya, dibutuhkan keteladanan menghayati Pancasila sebagai way of life oleh para pemimpin negara dan politisi kita,” ungkap Romo Budi.

Kecuali itu, perlu dilakukan peninjauan kembali kebijakan kebijakan politik nasional dan lokal yang tidak sesuai dengan identitas Negara Bangsa Indonesia. Pemerintah dan aparatus negara harus bersikap tegas terhadap setiap pengkhianatan atas Pancasila.

Kearifan Lokal
Dalam rangka revitalisasi Pancasila, perlu dilakukan penanaman nilai yang mengakomodir keberagaman dengan mendayagunakan kearifan lokal. Pemerintah harus menjaga jangan sampai memunculkan penafsiran kearifan lokal ke dalam konteks agama formal.

Untuk itu perlu mengoptimalkan strategi berbasis budaya, adat istiadat dan pranata sosial yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Ini perlu dikerjakan melalui jalur pendidikan formal dan informal.

Pemanfaatan media sosial
Revitalisasi Pancasila dapat dilakukan dengan pemanfaatan media sosial. Maka diperlukan pembentukan dan aktivasi tim cyber yang mendiseminasikan nilai nilai Pancasila dalam berbagai media sosial.

“Perlu pula mengembangkan content dan aplikasi tentang penguatan Pancasila bagi semua warga bangsa dan negara maupun masyarakat warga. Kita juga mendorong agar pemerintah memberi apresiasi keterlibatan warga dalam penguatan Pancasila melalui media sosial,” papar Romo Budi.

Mendarah-dagingkan Pancasila

Lebih lanjut dikemukakan Romo Budi, curah pendapat tantangan besar ke depan adalah bagaimana semua pihak berani mendarah-dagingkan Pancasila sebagai Kisah yang hidup yang terus menerus diperbaharui (Pancasila Semper Reformanda est). Dalam rangka itu, perlulah para pemimpin negara, politisi dan masyarakat merefleksikan dan membangun kebanggaan Pancasila melalui pendidikan formal dan informal.

Pancasila juga harus dikisahkan melalui strategi seni dan budaya tak hanya bagi rakyat melainkan juga para pemimpin bersama rakyat. Maka, kisah kelahiran Pancasila harus kembali dikisahkan secara menyentuh dari sisi afeksi, akal budi maupun pengalaman nyata.

“Kita harus memperbaharui pemahaman dan kontekstualisasi Pancasila secara terus-menerus. Pancasila bukan alat untuk menggebuk rakyat melainkan identitas untuk memberdayakan kehidupan bersama,” ujarnya.

Curah pendapat tentang revitalisasi Pancasila yang dilakukan dari pukul 09.00 – 12.00 WIB itu mendapatkan kerangka dasar yang harus segera dilengkapi dengan narasi yang utuh sebagai sumbangan gagasan komprehensif dan bertanggungjawab.

(►http://investor.id)

Kategori: