Rektor Pun Berperan sebagai Adipati – Pentas Ketoprak di Unika Soegijapranata
Rabu, 30 Agustus 2017 | 14:07 WIB

sm 30_8_2017 Rektor Pun Berperan sebagai Adipati

Untuk kesekian kalinya Unika Soegijapranata kembali menggelar acara nguringuri kebudayaan Jawa. Kali ini dengan kembali menggelar pentas kesenian Ketoprak pada Senin (28/8) malam di halaman Kampus Bendan Dhuwur, Semarang.

Ketoprak dengan lakon “Setya Ing Ubaya” ini juga melibatkan warga komunitas Unika Soegijapranata, para karyawan, dosen dan staf tenaga pengajar. Rektor Prof Dr Ir YBudi Widianarko MSc kedapuk memerankan tokoh Adipati Tirtamardawa.

Selain itu, ada yang menarik dari pentas itu, diawali dengan sambutan dari Rektor Unika terpilih Prof Frederik Ridwan Sanjaya. Ridwan menyampaikan sambutan pembuka dalam bahasa Jawa.

‘’ Sugeng ndalu para pamiarsa sedaya. Selanjutnya saya baca teks biar tidak salah,’’ kata Ridwan sembari mengeluarkan teks dalam bahasa Jawa dari sakunya yang disambut tawa dan tepuk tangan para penonton.

Sebagai rektor terpilih menggantikan Budi Widianarko, Prof Ridwan rencananya akan dilantik bertepatan pada  Peringatan Dies Natalis Ke-35 Unika Soegijapranata, Kamis (31/8) mendatang. Di antara para pemain, selain rektor tampil pula Romo R Sugihartanto Pr yang berperan sebagai seorang patih wanita, Patih Daruwati.

Bintang Tamu
Tak ketinggalan Romo Aloys Budi Purnomo Pr, Pastor Kepala Campus Ministry turut bermain dengan peran sebagai Tumenggung Adyaksa. Dalam pementasan Seni Ketoprak Pranata Raras Unika ini, naskah dikerjakan Val Suroto dari The Java Institute Unika Soegijapranata. Bertindak sebagai sutradara Kristanto dari Dinas Pariwisata Semarang. Ketoprak yang diiringi pangrawit Seni Ketoprak Pranata Raras Unika dimeriahkan bintang tamu pelawak Teguh Hoki.

Lakon dalam pentas ini menceritakan ontran-ontran di Kadipaten Argabendha yang dipimpin Kanjeng Adipati Tirtamardawa yang hendak lengser untuk memilih penggantinya. Ada dua keponakannya siap mengganti, yakni Raden Prabantala dan Raden Bramantya.

Kedua bersaudara ini memiliki sifat berbeda. Prabantala lemah lembut dan rendah hati. Sementara kakaknya, Bramantya, seorang yang arogan sombong dan pemarah. Dia juga berambisi ingin menjadi Adipati.

Lewat caranya sendiri dengan penuh bijaksana Adipati Tirtamardawa memilih Prabantala sebagai Adipati yang baru. Si Sulung Bramantya yang tidak terpilih, merasa kalah dan dipermalukan sehingga bertekad merebut kekuasaan.

Terjadilah ontran-ontran di kadipaten itu. Bramantya meluapkan kemarahannya dengan memberontak membuat  kerusuhan dimana-mana.

Namun pemberontakan itu berhasil diatasi. Adipati Prabantala bersikap bijaksana dan tetap merangkul bahkan mengampuni kakaknya Bramantya. Bahkan masih tetap dianggap sebagai keluarganya.

(►Suara Merdeka 30 Agustus 2017)

Kategori: