Penelitan Inovatif Butuh Komitmen
Rabu, 9 Agustus 2017 | 8:24 WIB

SM 9_8_2017 Penelitian Inovatif Butuh Komitmen

Dalam menciptakan hasil penelitian yang inovatif dibutuhkan komitmen kuat dari para penelitinya agar dapat berguna atau bermanfaat bagi masyarakat.

Sebab, tak jarang hasil penelitian yang sudah menghabiskan dana tidak sedikit belum bisa bermanfaat karena kurangnya komitmen penulisnya.

Hal itu terungkap dalam seminar dengan tema "Energizing Innovation Culture" di Ruang Theater Gedung Thomas Aquinas, Unika Soegijapranata, Semarang, Selasa (8/8). Hadir sebagai pembicara seminar dalam rangka Dies Natalis Ke-35 tersebut Guru Besar Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Prof Muhammad Nur, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Prof Bagong Suyanto dan Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata Semarang Prof Ridwan Sanjaya. Seminar dibuka oleh Rektor Prof Yohanes Budi Widianarko.

Prof Muhammad Nur yang memaparkan materi dengan tema "Industri Berbasis Teknologi Plasma untuk Pangan" menyatakan inovasi muncul dari sebuah suasana akademik yang kuat, multi disiplin, dan mempunyai komitmen yang tinggi untuk mengimplementasikan bagi kepentingan masyarakat banyak. "Jika telah melahirkan sebuah ide harus segera di implementasikan, entah itu ke dalam teknologi atau pun inovasi. Supaya hal tersebut bisa menghasilkan manfaat," paparnya.

Muhammad Nur mencontohkan salah satu dari sekian banyak hasil penelitiannya yakni generator ozon yang di gunakan untuk penyimpanan produk pertanian. Menurutnya banyak produk pertanian Indonesia membutuhkan sistem penyimpanan agar produk tetap segar hingga ke konsumen.

"Alat ini akan bermanfaat, salah satunya bagi petani cabai di tanah air untuk lebih tahan lama hingga 40 hari, sehingga petani terhindari dari kerugian yang lebih banyak karena tanaman ini cepat membusuk," ujarnya.

Teknologi Modern
Sementara Ridwan Sanjaya mengungkapkan untuk mewujudkan sebuah energy innovation culture perlu diciptakan sebuah crowdsourcing as inovation atau inovasi dengan cara bergotong-royong menggunakan teknologi modern.

"Dengan adanya crowdsourcing bisa membantu mendorong menyelesaikan masalah dengan memberikan satu informasi yang terlokalisasi pada usaha tersebut. Crowdsourcing ini contohnya antara lain wikipedia, istockphoto , threadless, spreadshirt, linux, apache, gimp; my starbucks idea, uber, grab, go jek, airbnb, airy komms, skilishare , reflik dan innocentive,"paparnya.

Pembicara lain Bagong Suyanto menjelaskan, dalam ilmu sosial, inovasi dapat dilakukan dengan cara mengubah cara pandang terhadap masalah kemiskinan. Selama ini pemerintah menganggap orang miskin hanya butuh modal, padahal hal itu tidak sepenuhnya benar. "Jika hanya diberi modal mereka akan bingung, usaha apa yang ingin dimulai," kata dosen Universitas Airlangga ini.

Rektor Unika Soegijapranata Budi Widianarko mengatakan seminar ini untuk menciptakan budaya inovasi para dosen muda di lingkungan Unika Soegijapranata Semarang. Tema budaya inovasi ini dipilih karena inovasi merupakan kata kunci yang saat ini digunakan untuk menggambarkan kemajuan suatu institusi.

"Inovasi yang dimaksud disini tidak terbatas pada penciptaan produk tetapi juga penciptaan proses dan ide. Selain itu, para dosen muda ini diharapkan dapat lebih kritis terhadap manfaat-manfaat dan juga dampak yang ditimbulkan oleh inovasi ini."

(â–ºSuara Merdeka 9 Agustus 2017, hal. 22)

Kategori: