Menghargai Keberagaman Agama di Unika Soegijapranata
Kamis, 17 Agustus 2017 | 15:06 WIB

Bagi Unika Soegijapranata Semarang, Perguruan Tinggi Swasta Pertama di Jawa Tengah yang mendapatkan Akreditasi A Institusi Perguruan Tinggi itu, apa pun agama yang dianut oleh para mahasiswa tidaklah menjadi persoalan. Pada prinsipnya, Unika Soegijapranata terbuka untuk siapa saja, dari mana saja, tanpa diskriminasi, meski Universitas Soegijapranata merupakan Unika (Universitas Katolik).

Sebagai ungkapan sikap dan rasa hormat Unika Soegijapranata terhadap keberagaman, acara Pembekalan Terpadu Mahasiswa Baru (PTMB) juga diisi Sesi “Religion Time”. Berapa pun jumlah mahasiswa baru sesuai dengan agama masing-masing akan berkumpul sesuai dengan agamanya untuk mengikuti sesi Religion Time ini.

Sebanyak 1.803, sebagaimana disampaikan Alvonsius Ponco HC, Kepala Biro Administrasi Akademik terregistrasi sebagai mahasiswa baru Unika Soegijapranata mengikuti sesi Religion Time.

Menurut keterangan agama masing-masing, jumlah maba yang beragama Islam sebanyak (359), Hindu (7), Buddha (52), Kristen (651), dan Katolik (556), Konghucu (5). Masih ada sebanyak 172 orang yang belum/tidak mencantumkan agama dalam kolom registrasi dan ada 1 yang mengisi kolom “Lainnya” selain enam agama sesuai perundang-undangan di Indonesia.

Kecuali itu, Unika juga sudah menghubungi dan meminta para tokoh agama masing-masing untuk menjadi nara-sumber dan memimpin sesi Religion Time ini.

Pada PTMB 2017 ini, Romo Aloys Budi Purnomo Pr sebagai Kepala Campus Ministry menghadirkan para sahabat lintasagama yang juga kompeten di bidang kerohanian dan keilmuan sesuai dengan agamanya.

Mereka itu adalah Gus Ubaidillah Achmad (Islam), Ibu Sri Rahayu “Yayuk” (Hindu), Vijananda Tri W (Buddha), Andi Tjiok (Konghucu), dan Pendeta Sediyoko (Kristen). Sedangkan yang beragama Katolik pastinya diampu oleh Romo Budi sendiri bekerjasama dengan Tim Campus Ministry.

Para narasumber dari luar Unika Soegijapranata disambut oleh Romo Aloys Budi Purnomo, Dr Augustina Sulastri SPsi, Psi, Wakil Rektor I dan Ketua Panitia PMTB serta Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc, Rektor Unika saat ini maupun Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya MIEC, Rektor terpilih yang baru akan dilantik akhir Agustus 2017. Mereka tampak begitu enjoy hadir di Kampus Ungu. Kecuali Yayuk Dewa, para narasumber lain baru pertama kali menjadi narasumber untuk Religion Time ini.

100% Religius, 100% Nasionalis Sesungguhnya, sesi ini merupakan bagian dari Reksa Pastoral Kampus (Campus Ministry) untuk mahasiswa baru dari sisi agama masing-masing. Memang benar dan begitulah realitasnya bahwa Universitas Soegijapranata adalah Universitas Katolik, kendati demikian, Unika Soegijapranata tetap menghormati setiap dan para mahasiswa sesuai dengan agamanya, sebagaimana diajarkan Konsili Vatikan II bahwa Gereja Katolik menghormati dan menghargai semua yang baik, benar dan suci dalam agama-agama lain.

Maka sambil memberikan kesaksian tentang iman Katolik yang inklusif, Gereja Katolik mendorong agar umatNya bekerjasama dan berdialog dengan semua umat beragama lain dalam hal moral, sosial dan kultural.

Itulah sebabnya, pada sesi Religion Time, para mahasiswa baru dikumpulkan sesuai dengan agama masing-masing untuk mendapatkan pembekalan rohani dari tokoh agama masing-masing. Yang beragama Islam dari tokoh Islam.

Sesi Religiion Time pembekalan terpadu mahasiswa baru Unika Soegijapranata yang dibangun dalam suasana itu mengacu pada semangat Soegijapranata. Sebagai salah seorang Pahlawan Nasional dan Uskup Pertama Keuskupan Agung Semarang, Soegijapranata memiliki ajaran “100% Katolik, 100% Indonesia”.

Menurut Romo Aloys Budi, pada zaman sekarang ini dan dalam konteks Unika Soegijapranata, maka ajaran itu bisa dihayati siapa pun dan apa pun agamanya dengan prinsip “100 Religius, 100% Nasionalis”. Apalagi, mahasiswa Unika Soegijapranata tak hanya berasal dari Indonesia tetapi juga dari luar negeri, minimal dari Timor Leste.

(http://id.beritasatu.com)

Kategori: