Kurangi Kuantitas Pengembangan Aplikasi
Kamis, 31 Agustus 2017 | 12:09 WIB

WWS 31_8_2017 Kurangi kuantitas pengembangan aplikasi

Konsep Semarang sebagai smart city sudah diterapkan sejak 2013. Pelayanan berbasis internet tersebut, dinilai lebih efektif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sekaligus lebih efisiensi dari sudut tenaga yang dikeluarkan. Berbagai kernudahan ini ditawarkan, untuk memotong birokrasi yang terlalu panjang sehingga masyarakat dapat menikmati pelayanan dengan maksimal.

"Selain itu, masyarakat juga bisa memantau bagaimana kinerja pemerintahan, sekaligus memberikan masukan atau pengaduan secara lebih cepat melalui melalui aplikasi tersebut. Semarang saat ini bahkan menjadi kota percontohan dalarn menerapkan konsep smart city," papar perwakilan Bappeda Kota Semarang Safrinal Sofaniadi, dalam diskusi Ruang Rabu Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) Unika Soegijapranata, di kampus Bendan Dhuwur, Selasa (29/8).

Diterangkan, seluruh pelayanan sudah dialihkan dengan sistem online, mulai dari pengurusan perijinan, pengelolaan transportasi khususnya BRT, hingga sistem tata lampu jalan yang ada di wilayah Semarang. "Pemkot Semarang sudah serius dalam menanggapi trend smart city yang sudah mendunia," tambahnya.

Wakil Rektor IV Unika Prof Dr Ridwan Sanjaya menuturkan, pemahaman smart city selain sebagai kota yang terintegrasi, juga dikaitkan dengan layanan informasi yang dapat diakses dengan efektif dan efisien sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh pengelola kota, penduduk dan pihak ketiga yang memiliki kepentingan dalam kota tersebut.

Kehebatan
"Smart city bukanlah ajang untuk untuk menunjukkan kehebatan teknologi atau semata-mata pemanfaatan anggaran, namun juga penggunaan sedikit atau bahkan satu aplikasi saja yang terintegrasi dengan semua kebutuhan masyarakat. Hal ini memungkinkan masyarakat tidak banyak mencari aplikasi yang berbeda, untuk kepentingan yang berbeda pula," tandasnya.

Ditambahkan, tolok ukur keberhasilan smart city bukan berada pada jumlah teknologi yang disediakan untuk menjembatani konsep tersebut, melainkan tingkat kepuasan warga, peningkatan pendapatan daerah dan tersalurkannya peluang-peluang di wilayah tersebut.

"Perlu adanya sinergi antar data dan layanan untuk mengurangi kuantitas pengembangan aplikasi. Sehingga apa yang saat ini tidak begitu efektif dan cenderung mengganggu; dapat dipangkas dan dikurangi agar dapat rnenghasilkan hasil yang lebih baik," pungkasnya.

(â–ºWawasan 31 Agustus 2017 halaman 19)

Kategori: