Jalan Humanis Atasi Kecanduan Internet – Temu Ilmiah Nasional X IPPI
Jumat, 25 Agustus 2017 | 14:11 WIB

SM 25_8_2017 Kecanduan Internet

Apakah berbahaya menggunakan internet? Apakah pecandu internet seorang kriminal? Apakah jalan terbaik mengatasi adiksi internet menciptakan kembali ruangruang fisik di dunia yang dikepung oleh dunia virtual? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam Temu Ilmiah Nasional X Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) yang berlangsung sejak Rabu (23/8) di Hotel Grasia Semarang.

Mengutip survei Kominfo pada 2012 yang dipaparkan dalam makalah bertajuk ‘’Adiksi Internet Ditinjau dari Perspektif Neuropsikologi’’, Dr Donny Hendrawan, pengajar dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menyatakan, dari 400 remaja Indonesia berusia 10-19 tahun, telah 80 persen menggunakan internet.

Sekitar 52 persen dari pengguna itu mengoperasikan internet lewat ponsel dan pada usia 12-17 tahun mereka bisa berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal. ‘’Media sosial konten yang paling sering dibuka. Tidak ada larangan membuka game online di sekolah.

Sekitar 52 persen terpapar konten pornografi.’’ Ada juga data lain. Dalam makalah ‘’Adiksi Internet Ditinjau dari Psikologi Sosial’’, Drs DP Budi Susetyo MSi, pengajar Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, membeberkan pengguna internet di Indonesia pada 2016 sekitar 132 juta orang. Mereka paling banyak mengunjungi web online shop (62 persen).

Adapu media sosial yang paling banyak dioperasikan Facebook (54 persen). Tentu saja pada 2017, situasi semacam itu menimbulkan persoalan. Mengutip aneka penelitian, Donny mengingatkan telah terjadi peningkatan skor depresi, kecemasan, permusuhan, kebohongan, pencurian, muncul masalah interpersonal, prestasi belajar rendah, dan gangguan psikotis.

Yang tak kalah penting, muncul sexual permisiveness, aktivitas seksual pada usia muda, dan kekerasan seksual. Bagaimana cara mengatasi? Berbasis neuropsikologi, Donny menyatakan, ‘’Kita harus menggunakan teori plastisitas otak. Kita hindarkan orang-orang yang teradiksi internet dari hal hal-hal yang memicu.

Recovery pada adiksi internet akan menurunkan skor depresi, permusuhan, dan kecemasan sosial.’’ Ada juga penanganan yang terpadu. Ada wawancara mengenai motivasi. Ada intervensi cognitive behavioral. Ada manajemen stres, konseling orang tua dan parenting. Perlu juga diperhatikan ada perhatian terhadap kegiatan setelah sekolah dan farmakoterapi.

Fungsikan Ruang Fisik

Muncul juga pertanyaan: karena begitu berbahaya apakah orang-orang yang kecanduan internet perlu dihukum? Lewat makalah ‘’Korban (Tanpa) Kejahatan’’, Dr Benny D Setianto, Dekan Fakultas Hukum dan Komunikasi Unika Soegijapranata, berpendapat, ‘’Meski bisa menimbulkan kecanduan, internet bukan barang berbahaya (terutama jika dibandingkan dengan narkotika, obat psikotropika, dan judi.’’

‘’Menyelamatkan orang kecanduan internet itu tidak serta-merta dengan menghilangkan sumbernya, tetapi lebih kepada memberi perhatian kepada mekanisme tersistematis melalui pranata sosial lain sehingga memunculkan kesadaran. Memberi label kejahatan kepada perilaku kecanduan internet lebih merugikan. Sama sekali tak menguntungkan.’’

Apakah tak ada jalan keluar lain? Budi memberi alternatif: (1) publik harus diedukasi untuk menggunakan internet yang sehat, (2) munculkan regulasi bisnis yang sehat dan etis, dan (3) aktifkan kembali fungsi-fungsi ruang fisik sesuai peruntukan dalam upaya meredam kepungan ruang virtual.

‘’Itulah jalan humanis yang bisa ditempuh ketika bangsa ini mulai kecanduan internet,’’ ujar Dr Endang Widyorini, pengajar Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, ketua panitia kegiatan yang berlangsung sejak Selasa (22/8) hingga Kamis (24/8) itu.

(Suara Merdeka 25 Agustus 2017, http://berita.suaramerdeka.com)

Kategori: ,