Game Bisa Jadi Alternatif Pembelajaran
Senin, 7 Agustus 2017 | 9:22 WIB

SM 7_8_2017 Game Bisa Jadi Alternatif Pembelajaran

Teknologi informasi kini menjadi sangat penting untuk mendukung proses edukasi. Oleh sebab itu, guru dituntut tak hanya memberikan pelajaran secara formal di dalam kelas, melainkan bisa menciptakan kreatifitas siswanya, salah satunya dengan game edukasi.

”Pada era sekarang ini sebenarnya untuk mendidik tidak harus dengan tanya jawab di kelas anatra guru dan siswa saja, namun bisa juga dengan aplikasi game,” ungkap peneliti game edukasi Unika Soegijapranata Prof Ridwan Sanjaya di sela-sela seminar nasional teknologi informasi dan komputer
di Gedung Pusat Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Jl Sidodadi Lantai 7, Semarang, Sabtu (5/8).

Acara yang dibuka Wakil Dekan I Fakultas Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi Informasi (FPMIPATI) UPGRIS Supandi, ini juga menghadirkan pembicara Andi Taru dari Educa Studio, pencipta game pembelajaran untuk anak-anak.

Ridwan menambahkan melalui game edukasi ini, jika siswa atau mahasiswa dapat membuatnya sendiri akan memiliki prospek bisnis yang bagus. Dengan demikian, selain bisa digunakan sebagai edukasi, juga bisa untuk peluang menghasilkan uang.

Pendidikan Anak
”Bahkan, penghasilan pembuat game bisa mencapai Rp 3 miliar per bulan,” jelas Ridwan.

Ridwan juga telah menghasilkan dua penelitian tentang game. Pertama, meneliti bagaimana game menjadi model kewirausahaan bagi guru atau calon guru. Kedua, bagaimana gamemenjadi metode pembelajaran.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dia lakukan, game media pendidikan yang menarik perhatian anak-anak. Namun, banyak orang tua yang berpikir sebaliknya karena khawatir dampak negatifnya.

”Melalui permainan, secara tidak langsung, nilai- nilai pendidikan bisa mudah dipahami oleh anak. Jika dilakukan secara berkelanjutan, bisa mengubah karakter mereka,” jelasnya.

Sementara itu, Andi Taru mengungkapkan permainan dengan konten edukasi kini banyak diminati oleh masyarakat, tak hanya pelajar tetapi juga orang tua. Karena itu, hal ini bisa menjadi salah satu potensi selain misi untuk meningkatkan kecerdasan di masyarakat juga dari sisi ekonomi
cukup prospektif.

”Bahkan, kini kami juga membuat channel di youtube yang berisi pendidikan untuk anak. Mengingat anak sekarang yang mengkonsumsi konten-konten dalam youtube. Channel itu saya beri nama Marbel TV,” jelasnya. Sementara itu, Wakil Dekan I FPMIPATI UPGRIS Supandi mengungkapkan kegiatan ini untuk mengasah kreativitas para mahasiswa agar tidak terpaku pada pembelajaran konvensional.

Para mahasiswa juga calon guru ini diharapkan tidak hanya bisa mengajar dan bisa meraih Indeks Prestasi (IP), namun perlu memiliki keterampilan lain. Salah satunya sebagai praktisi game edukasi.

”Dengan demikian, dengan kemampuan yang dimiliki, mahasiswa yang telah lulus diharapkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” tambahnya. Ia juga berharap mahasiswa tidak hanya lulus dengan Indeks Prestasi (IP) tinggi, namun juga memiliki kemampuan di bidang lain seperti menjadi praktisi
aplikasi.

(►Suara Merdeka 7 Agustus 2017 hal. 22)

Kategori: