SPRT Merdeka Perjuangkan Hak Pekerja Rumah Tangga
Rabu, 12 Juli 2017 | 9:21 WIB

Serikat Pekerja Rumah Tangga (SPRT) Merdeka merupakan organisasi yang didirikan para PRT (Pekerja Rumah Tangga) yang bekerja di wilayah Semarang pada tanggal 27 Mei 2012, setelah melalui berbagai pertemuan-pertemuan.

Sudah 5 tahun sejak didirikan, sebagai organisasi demokratis dengan berbasis anggota, SPRT Merdeka merasa perlu ada pertanggungjawaban dan pembaruan atas kerja-kerjanya, untuk mencapai serikat yang lebih baik.

Untuk itu, SPRT Merdeka mengadakan Musyawarah Besar (Mubes) Ke-2 pada Minggu (9/7), karena pada hari tersebut merupakan hari libur PRT sehingga mereka semua bisa berkumpul. PRT yang sudah bergabung tercatat ada sejumlah 105 orang.

Mubes membahas laporan pertanggungjawaban Ketua periode 2012-2017, pembahasan Perubahan AD/ART, serta pemilihan Ketua baru periode 2017-2020. Ada 5 calon ketua yang mendfatarkan diri.

Setelah dilakukan pemungutan suara, Nur Kasanah terpilih kembali sebagai ketua. Dalam sambutannya, Nur menyampaikan kepada seluruh anggota yang hadir bahwa menjadi ketua merupakan amanah.

“Saya tidak bisa bekerja tanpa anggota, mari kita bekerja bersama untuk kemajuan organisasi serikat PRT dan terus mengajak PRT bergabung dengan serikat,” ujarnya.

Tujuan didirikannya SPRT Merdeka sendiri adalah agar PRT sebagai bagian kaum pekerja memandang penting untuk membentuk wadah bersama yaitu Serikat, guna menyuarakan persoalan dan memperjuangkan kepentingan mereka.

Khususnya PRT hingga kini masih belum memiliki Undang–Undang Perlindungan PRT dan bekerja dalam situasi tidak layak.

“Bekerja dengan jam kerja panjang, beban tidak terbatas, upah yang sangat rendah, tidak ada istirahat dan libur mingguan, cuti, jaminan sosial, tidak ada perlindungan dalam berorganisasi dan sebagainya,” papar Nur Kasanah.

Menurutnya, SPRT Merdeka beranggotakan para PRT yang bekerja di Semarang. Diharapkan SPRT Merdeka bersama-sama dengan organisasi lain seperjuangan dapat mewujudkan perlindungan dan pemenuhan hak-hak dan situasi kerja layak PRT serta UU Perlindungan PRT.

Kedua, wadah untuk berbagi dan belajar bersama berbagai pengetahuan serta pengalaman.

“Ketiga, wadah untuk saling membantu kawan PRT yang mengalami masalah dan mencari jalan keluar bersama,” ucapnya.

Tidak hanya itu, Mubes turut dihadiri tim peninjau yang dipilih serikat PRT diantaranya JALA PRT, Serikat PRT dari Jogjakarta, LBH APIK Semarang. Bahkan Prof Agnes Widanti, guru besar UNIKA Soegijapranata juga hadir.

Keberadaannya menunjukkan kepedulian besar terhadap kaum perempuan yang terpinggirkan yakni PRT. Tidak hanya itu, Agnes Widanti pun pernah melakukan penelitian tahun 2008. Walaupun diakuinya memang sulit mengumpulkan PRT di Jawa Tengah.

“Saya salut dengan serikat PRT bisa bekerja mengumpulkan PRT, ini pekerjaan yang tidak mudah. Apalagi majikan sekarang tidak mau kalau PRT-nya pintar. Saya alami sendiri, sering kontra dengan anak-anak saya di rumah. Saya mnegajak PRT makan bersama, anak anak marah. Saya sampaikan, kita sama, toh kita tidak tertular menjadi PRT kan,” paparnya.

(►https://asatu.id)

Kategori: