Pengamat ini ungkap alasan tidak adanya penolakan BRT Trans Jateng
Jumat, 21 Juli 2017 | 10:16 WIB

"Tirulah langkah Pemprov Jateng yg berani memberi subsidi operasional BRT Trans Jateng sepanjang 36,5 km."

Jateng Merdeka 20_07_2017 Pengamat ini ungkap alasan tidak adanya penolakan BRT Trans Jateng

Pengamat transportasi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno mengapresiasi pengelolaan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang diluncurkan baru-baru ini.

Ia menganggap pemerintah benar-benar serius menyiapkan angkutan masal untuk pekerja dan pelajar sebanyak 18 armada dengan tarif yang murah yakni Rp 1.000.

"Tirulah langkah Pemprov Jateng yg berani memberi subsidi operasional BRT Trans Jateng sepanjang 36,5 km, Koridor Bawen, Kabupaten Semarang dengan Stasiun Tawang, Kota Semarang, sebesar Rp 5,4 miliar mulai Juli hingga Desember 2017," ujar Djoko, Kamis (20/7).

Yang menjadi sorotannya adalah, dilibatkannya para operator maupun pengusaha angkutan yang jalurnya digunakan untuk trayek BRT tersebut. Sehingga mengurangi gesekan di lapangan antara BRT dengan angkutan yang telah ada.

"Operator adalah pengusaha angkutan umum di jalur yang sama. Berbadan hukum koperasi, yakni Koperasi Mulia Orda Serasi. Tidak ada gejolak atau demo dari pengusaha angkutan umum yang ada karena sebagian dari mereka sudah menjadi anggota koperasi yang menaunginya," tuturnya.

Dengan begitu, tidak ada lagi pengusaha atau pun operator angkutan yang mengeluh pendapatannya menurun karena penumpangnya berpindah menggunakan BRT.

"Pengemudi mendapat gaji tetap bulanan dan berkerja dengan sistem 2 hari bekerja 1 hari libur. Program ini dapat menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 150 orang," sebutnya.

Sebelumnya, pada Jumat (7/7) BRT Trans Jateng akhirnya meluncur berkat kerja sama Pemprov Jateng dan para pengusaha angkot di Kabupaten Semarang. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menegaskan bahwa hal ini sejalan dengan prinsip pembangunan yang merangkul, bukan menggusur.

Para pengusaha angkot tersebut tergabung dalam Koperasi Jasa Transportasi Mulya Olga Serasi. Koperasi ini bertugas mengelola BRT Trans Jateng koridor I Stasiun Tawang – Terminal Bawen. Dari penyediaan bus, personel, dan operasional hariannya.

“Kita kerjasamakan dengan anggaran Rp 5,4 miliar per enam bulan,” kata Ganjar.

Anggaran sebesar itu sudah termasuk dengan subsidi untuk masyarakat. Subsidi untuk masyarakat umum ialah Rp 11.000 per penumpang. Sedangkan pelajar dan buruh disubsidi Rp 14.000 per penumpang.

(►https://jateng.merdeka.com)

Kategori: