Mengasah Kepekaan Sosial Kebangsaan
Selasa, 18 Juli 2017 | 7:47 WIB

Dari kiri ke kanan: Benny, Heru, Prof Budi, Prof Ridwan, Donny, Romo Budi dan Harjanto HalimDari kiri ke kanan: Benny, Heru, Prof Budi, Prof Ridwan, Donny, Romo Budi dan Harjanto Halim

Seusai Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya SE SKom MS.IEC, Senin (17/7/2017), sambil menikmati hidangan, Romo Aloys Budi Purnomo Pr, Pastor Pelayan Kampus Unika Soegijapranata ngobrol dengan Harjanto Halim MSc, salah satu anggota Dewan Penyantun Unika Soegijapranata bersama Heru, tamu undangan khusus Mitra Unika Soegijapranata. Obrolan masif dengan tema majemuk tentang apa saja.

Harjanto Halim yang juga dikenal sebagai budayawan Pasar Semawis memancing pembicaraan tentang diet yang sedang dijalaninya. Diet keto namanya atau ketogenic diet. Mengurangi segala unsur makanan berkabohidrat dan manis.

"Meninggalkan yang manis-manis yang penting setia!" Begitu Harjanto Halim bercanda memelesetkan diet itu.

Kepekaan Sosial

Harjanto Halim memperkenalkan Romo Budi kepada Heru. Namun Heru menjawab, "Loh saya sudah tahu Romo Budi dan gerakan-gerakan kerukunan dan kemasyarakatannya. Itu perlu. Gereja harus bergerak ke luar. Jangan hanya ke dalam saja. Itu penting! Dengan begitu kita mengasah kepekaan sosial kita!"

Lebih lanjut, Heru, yang selama 37 tahun bekerja dan belajar otodidak dengan salah satu perusahaan Jepang mulai bicara tentang kepekaan sosial. Dia ambil contoh situasi jalanan yang sering abai kepekaan sosial sehingga mudah menimbulkan kecelakaan yang menjadikan orang harus menjadi korban karena keteledoran kita.

"Jalanan kita sekarang sudah tanpa etika," katanya, "akibatnya mudah terjadi kecelakaan."

Harjanto Halim mulai omong tentang keprihatinan seputar gerakan radikal. "Piye ya caranya bisa berkomunikasi dengan mereka?"

"Oh. Itu gampang. Ajak kerjasama menyangkut masalah-masalah sosial. Pasti bisa", jawab Heru optimistis.

Masalah Kebangsaan

Di tengah obrolan itu tiba-tiba datanglah Rektor Unika Soegijapranata, Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc bergabung di meja bundar tempat Romo Budi, Harjanto Halim dan Heru berbincang-bincang.

"Wah, pasti seru neh obrolannya", ujar Prof Budi berkomentar sambil menikmati es-putar campur buah. Lalu bergabung pula Donny Danardono dan Benny.

Kebetulan kacamata Donny dan Benny mirip. Frame bulat gagang tipis. "Wah, kalau yang orang-orang hukum kacamatanya harus seperti itu ya…" celetuk Romo Budi. Yang lain tertawa.

Obrolan pun mulai berubah menjadi soal-soal kebangsaan dan kemanusiaan. Mulai dari masalah pilkada hingga pendampingan penderita virus HIV/AIDS dan masalah-masalah pendidikan.

Saat bicara tentang masalah pendidikan, Prof Budi mulai kritis terhadap Heru yang tak terlalu fanatik dengan kuliah justru karena pengalaman pribadinya. "Saya ini SMP saja ndak selesai. Tapi saya hoki sehingga bisa tetap sejahtera sampai sekarang dan bertekad mengajak orang lain juga sejahtera," kata Heru.

"Wah ini bahaya. Bisa membuat orang muda nggak berminat kuliah", sergah Prof Budi.

"Ya orang itu masing-masing. Tergantung hoki dan kemauannya bekerja keras. Anak jaman sekarang ndak bisa dikerasi," sahut Heru.

Yang jelas, dari berbagai tema obrolan masif itu selalu muaranya adalah masalah kebangsaan dan kemanusiaan. Itu yang menjadi perjuangan manusia terus-menerus, apa pun profesinya. “Yang penting jangan menipu rakyat, jangan korupsi, perjuangkan keadilan dan kesejahteraan. Itu yang bisa membantu kita mencegah terror,” kata Romo Budi.

Asyik juga obrolan-obrolan yang meski tanpa tema dan moderator namun menjadikan martabat manusia yang beradab dan sejahtera sebagai muara. Alangkah indahnya bila semua orang memiliki cara pandang terbuka seperti itu yang menghormati orang lain lebih dari dirinya sendiri.

Selingan yang selalu muncul adalah motto diet keto, "Meninggalkan yang manis-manis yang penting setia!"

Obrolan pun bubar sesudah selfie-selfie bersama menggunakan perangkat Harjanto Halim, saat Prof Fred berpamitan hemdak mengantar keluarganya.

(►http://id.beritasatu.com)

Kategori: