Kunjungan, Sharing, dan Diskusi Informal Romo Budi
Senin, 10 Juli 2017 | 10:38 WIB

Romo Budi dan sejumlah dosen di Fakultas Hukum Unika Soegijapranata Semarang.

Kunjungan, perjumpaan, sharing dan diskusi informal bersama beberapa dosen Fakultas Hukum Unika Soegijapranata itu mengasyikkan bagi Romo Aloys Budi Purnomo Pr yang melanjutkan kunjungan dan sapaan sebagai Kepala Reksa Pastoral Kampus (RPK – Campus Ministry/CM) Unika Soegijapranata Semarang, Selasa (4/7).

Setelah memberitahu Sr. Elsa, Sekretaris RPK di ruang CM yang bersebelahan dengan Ruang Kepala CM, bahwa dirinya akan ke Gedung Antonius, Romo Budi melangkah turun dari lantai 4 Gedung Mikael. Sempat singgah sejenak di Ruang Kepala Biro Administrasi Akademik Unika Soegijapranata, Alvonsius Ponco HC, untuk bicara tentang rencana religion time dalam rangka Pembekalan Terpadu Mahasiswa Baru dan menghabiskan segelas teh manis buatan Alvon; Romo Budi melangkah menuju Gedung Antonius.

Romo Budi sudah mengenal Alvon sejak ia masih mudika, 25 tahun silam. Dan kini kedua putranya menjadi misdinar di gereja Kristus Raja Ungaran. Alvon kadang menjadi teman kadang lawan di saat bermain bulutangkis.

Sambil menyapa sejumlah mahasiswa-mahasiswi yang dijumpainya sepanjang perjalanan dari Gedung Mikael hingga Gedung Antonius, sampailah Romo Budi di Ruang 101. Di situ sudah duduk Pak Edi Krek dan Petrus Surya. Mereka sedang asyik mengerjakan sesuatu.

"Selamat siang…" sapa Romo Budi.

"Selamat siang Romo…" jawab Pak Edi.

Mulailah terjadi pembicaraan di antara mereka. Pembicaraan awal tentang beda cerutu dan cigaret. Itu gara-gara Donny Danardana yang memberikan cigarelos kecil kepada Edi Krek. Pembicaraan berkembang menjadi tentang es tembakau hingga hukum kanonik dan kaitannya dengan hukum sipil. Maklum, pembicaraan terjadi di salah satu ruang Fakultas Hukum bersama para dosen yang berkompetensi di bidang hukum.

 

Sepanas Neraka

Sharing dan diskusi informal yang berlangsung berkembang begitu hangat bahkan panas, "sepanas neraka". Dari hanya bertiga lalu berempat, mulai bertambahlah yang lain, ada Hesti, Hartya, Marsela dan Simon Dodit. Pembicaraan pun mulai serius dan panas, "sepanas neraka", tak hanya sepanas secangkir kopi yang dihidangkan Hartya untuk Romo Budi; atau sepanas nyala korek api yang membakar batang cerutu hadiah Donny Danardono.

Pembicaraan dimulai tentang "es tembakau" berubah menjadi tentang Hukum Kanonik, yakni Kitab Hukum Gereja Katolik yang mestinya disebut pula dalam mata kuliah di Fakultas Hukum Unika Soegijapranata, namun sampai saat diskusi ini belum bisa diwujudkan.

Yang memunculkan topik itu adalah Peter Surya. "Kami kesulitan menjadi narasumber yang berkompeten Romo!", kata Surya.

"Itu cocok.dengan bidang Bapak Uskup kita sekarang ya Romo," kata Surya lagi.

"Wow, iya. Beliau kan doktor di bidang Hukum Kanonik!", jawab Romo Budi.

"Kita ingin membahasanya!", sahut Edi Krek.

"Wah bagus ide itu. Minimal, pokok-pokok tentang hukum perkawinan dalam pandangan Hukum Kanonik bisa menjadi bahan pembelajaran bersama. Paling tidak cara pandang Gereja Katolik terkait dengan perkawinan dan bagaimana Gereja Katolik tetap memberikan penghormatan kepada pasangan yang berbeda agama tanpa harus membuatnya sama, ini bisa menjadi bahan yang menarik untuk dibahas. Kalau sebatas itu, saya ya siap membantu," kata Romo Budi seraya tertawa.

Ketika bicara tentang hukum gereja Katolik, mulailah banyak hal mengalir. Terutama, terkait dengan masalah-masalah, lebih khusus masalah perkawinan.

Dan Marsela pun mulai mengajukan beberapa kasus perkawinan. Demikian juga dengan Edi Krek.

Pembicaraan juga merembet ke masalah-masalah cara membangun hubungan antarumat beragama yang rukun dan damai.

 

Sesejuk Surga

Sesudah diskusi informal tentang masalah-masalah yang pelik terkait Hukum Kanonik, Romo Budi berpamitan. Ia melanjutkan kunjungan ke Gedung Thomas Aquinas. Gedung ini tak asing baginya sebab di salah satu kelas yang terdapat di gedung tersebut, Romo Budi mengajar mahasiswi-mahasiswa Pasca-Sarjana Hukum Kesehatan bersama Prof Agnes Widanti.

Dan memang tujuan utama Romo Budi ke gedung itu adalah untuk sowan Prof Agnes Widanti, selama ini menjadi guru dan sahabat dalam rangka kerukunan umat beragama serta Adorasi Ekaristi Abadi. Prof Agnes jualah yang suatu saat di masa lalu dimintai pertimbangan Romo Budi ketika Romo Budi bermaksud menggantikan Mary Jeane yang hendak dieksekusi mati. Kala itu, baik Prof Agnes maupun mendiang Mgr Johannes Pujasumarta melarang Romo Budi melakukannya. Secara hukum itu tidak bisa. Mendiang Mgr. Johannes pun tegas tidak mengijinkan Romo Budi melakukan hal itu. Itulah kenangan yang terlintas di pikiran Romo Budi saat hendak menuju ruangan Prof Agnes Widanti.

Menuju ruangan beliau bagi Romo Budi serasa naik ke surga, menggunakan lift ke lantai 4 dan ruangan Prof Agnes begitu sejuk, sesejuk surga.

Dengan penuh keramahan Prof Agnes menyambut Romo Budi yang berlutut sambil bilang, "Prof, masih dalam suasana Lebaran, saya mohon maaf lahir batin atas kesalahan saya selama ini."

Prof Widanti menyambut Romo Budi dengan membuatkan minuman sereal. Lalu mereka berdua terlibat dalam pembicaraan tentang masalah iman Katolik.

Dengan rendah hati Prof Widanti mengatakan, "Romo, bimbing kami agar iman kami semakin kuat dalam Tuhan sebab makin tua bertambah usia, kami ini merasa tidak semakin beriman!"

"Ah, Prof Agnes ini terlalu merendah. Saya tahu betapa panjenengan begitu rajin mendukung saya dalam gerakan Adorasi Ekaristi Abadi dan upaya merajut kerukunan terutama bagi kaum perempuan. Itu luar biasa buat saya Prof!", jawab Romo Budi.

Di ruangan Prof Agnes, sambil menikmati sate – entah apa namanya tapi tanpa nasi – dua guru dan murid itu saling belajar dan mengajar tentang iman Katolik.

"Kita mempunyai dua hal terkait iman Prof. Ada ungkapan iman. Ada perwujudan iman. Ungkapan iman selalu unik, ekslusif dan khas. Sementara perwujudan iman itu universal, humanis, dan inklusif. Panjenengan kan sudah melakukan keduanya secara seimbang!", kata Romo Budi penuh keyakinan.

Prof Agnes manggut-manggut. Pembicaraan kemudian beralih tentang buah-buah karya yang disyukuri dalam suka dan duka. Di balik setiap perjuangan selalu ada buah-buah sukacita dan kegembiraan.

Tanpa terasa kunjungan, sharing dan pembicaraan di ruangan Prof Agnes itu sudah lebih dari satu jam. Sharing pengalaman iman itu serasa perjalanan menuju surga, dalam kesejukan dan sukacita.

Romo Budi berpamitan. Sambil menyapa para staf dan karyawan di ruangan itu, Romo Budi kembali lagi menuju ruangannya sendiri di lantai 4 Gedung Mikael. Di Rektorat, Romo Budi sempat menyapa Dadut Setiadi, Kepala Sekretariat Unika Soegijapranata dan meminta maaf tidak bisa makan siang bersama seperti biasanya karena kunjungan ke Antonius dan Thomas Aquinas.

"Ndak apa-apa, tadi Simon sudah kirim foto-foto dari Antonius kok. Wah dapat komunitas baru nih ye…." sahut Dadut sambil menggoda Romo Budi.

Setiba di lantai 4, Romo Budi laporan lagi kepada Sr. Elsa. Seorang anggota tim CM berkata, "Romo… tolong ditulis nama lengkap Romo dan gelar akademik Romo untuk kepentingan surat-menyurat Campus Ministry…."

"Alamak… Mbak. Saya nggak pernah mencantumkan gelar-gelar itu. Lagian gelar saya apa ya… ditulis saja Romo Aloysius Budi Purnomo Pr…. Itu gelarnya Romo dan … Pr …" sahut Romo Budi.

"Serius Romo!"

"Iya. Serius!"

Demikian catatan sharing dari Romo Budi tentang pengalaman hidupnya di tempat pelayanannya yang baru sebagai Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

(►http://id.beritasatu.com, http://investor.id)

Kategori: