KKN Unika Bukan Basa Basi Akademik
Rabu, 26 Juli 2017 | 7:45 WIB

Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr Y Budi Widianarko menyematkan jaket KKN kepada perwakilan mahasiswa, sebagai tanda dimulainya program ini secara resmi, di Lapangan Basket kampus setempat, Selasa (25/7). (suaramerdeka.com/Puthut Ami Luhur)Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan oleh Unika Soegijapranata setiap semesternya, dalam empat tahun terakhir bukan lagi disebut basa basi akademik. Menurut Rektor Unika Soegijapranata, Prof Dr Y Budi Widianarko, bahwa mahasiswa dan dosen yang terlibat sebagai pendamping lapangan benar-benar mengalami proses yang sama dan rasa memiliki program tersebut.

“Kami mempunyai Kepala LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) yang hebat, sudah bisa menggeser dari sebuah proses akademik biasa ke proses kecintaan. Kalau melihat wajah-wajah mahasiswa itu tanpa keterpaksaan,” kata Prof Budi, usai melepas 672 mahasiswa Unika Soegijapranata menjalani program KKN II Semester Genap di Lapangan Basket setempat, Selasa (25/7).

Untuk membangun itu ketika memilih lokasi untuk dilaksanakannya KKN, sebelumnya dosen dan karyawan sudah lebih dulu memulai semacam KKN kecil pada Februari lalu datang ke Wonosobo. Sudah ada penghayatan, tidak sekadar kenal bupati, camat dan kepala desa. Tetapi semua merasakan, sehingga ada dukungan dan rasa memiliki dari fakultas-fakultas ketika anak-anaknya ditempatkan pada suatu tempat.

“Jujur pada KKN selama empat tahun belakangan, kami merasa puas karena biasanya program semacam ini kesulitan cari tempat. KKN di tempat kami terbalik, banyak kabupaten yang meminta. Tetapi karena universitas kami kecil dalam jumlah mahasiswa, maka perlu hati-hati dalam membagi mahasiswa dalam penempatannya,” tuturnya.

Program KKN di Wonosobo misalnya, seharusnya sudah sejak awal tahun begitu ada kerja sama dengan Pemerintah setempat. Tetapi baru dilaksanakan program KKN di Wonosobo pada periode kali ini dan baru dilaksanakan di beberapa desa.

“Pernah menghentikan untuk sementara di Purwodadi, ternyata pada 2015 ada permintaan sangat kuat ke sana, sehingga harus kembali lagi. Walau pun wujud kecil kehadiran kami, ada maknanya, mudah-mudahan tidak sekedar membebani, kami ingin merubah image itu,” kata Prof Budi.

Lalu mengapa Unika Soegijapranata selalu kerja sama dengan Pemprov dan Pemkab setempat, karena ada keuntungannya antara program universitas dan kebijakan pemerintah akan terhubung. Pemerintah mempunyai goal apa, sambungnya, Unika mengikuti saja. Karena bukan tugasnya mengembangkan masyarakat.

“Mengembangkan masyarakat merupakan tugas utama pemerintah, kami tidak ingin mengembangkan versi lain. Kami tidak mau, maaf program KKN ini disebut basa-basi akademik. Hanya demi kepentingan kurikuler ada KKN maka diberi program tersebut,” tuturnya.

Lebih hebat lagi, ke depannya hasil riset-riset yang telah dilakukan mahasiswa dan dosen akan dipakai dan perkembangannya menuju ke arah sana. Seperti misal, keterlibatan Unika dalam Technopark di Grobogan.

“Baru saja saya mendapatkan permintaan dari Kabupaten Grobogan untuk mengembangkan lebih jauh lagi rumah kedelai dengan teknologi pangan. Sehingga yang dikerjakan mahasiswa di laboratorium terhubung. Termasuk pengembangan toilet di Wonosobo itu menarik, perkuliahan terpaksa mengajarkan itu,” tambah Prof Budi.

(►http://berita.suaramerdeka.com)

Kategori: