Kepekaan Ekologis Bersama Masyarakat Miskin Kota
Sabtu, 15 Juli 2017 | 8:37 WIB

 

Kamis siang (13/7/2017), Romo Aloys Budi Purnomo Pr menerima kunjungan Donny Danardono dan Oely di Kantor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang. Donny dan Oely adalah bagian dari PMLP (Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Unika Soegijapranata Semarang), yakni program lintas disiplin yang menempatkan masalah lingkungan dan sosial perkotaan sebagai hasil interaksi antarkota dan lingkungan sekitarnya.

PMLP menawarkan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai ilmu dalam lingkungan sains dan humaniora. Dengan penguasaan holistik terhadap berbagai perspektif ilmu tersebut, PMLP bertekad menghasilkan birokrat, akademisi, konsultan, kontraktor, wartawan, pekerja LSM dan politisi yang menjadi antara lain, tenaga ahli profesional di bidang manajemen perkotaan, manajemen lingkungan, transportasi serta properti dan seror maupun konservasi alam.

Saat ini, PMLP Unika Soegijapranata Semarang bekerjasama dengan Department of Social Geoghraphy, Faculty of Management, Radbound Universiry, The Netherlands; Eckerd College, Florida, USA, Assesing Mangrove Planting in the Park Fishponds dan Free Waste Ocean, The Netherlands, Plastic River Polution and Ocean Clean Up.

 

Layanan Penyuluhan Sosial

Kedatangan Donny dan Oely di Kantor Campus Ministry dimaksudkan untuk mendapatkan masukan-masukan dari Romo Budi terkait dengan rencana layanan penyuluhan sosial bagi masyarakat kota Semarang. Lebih khusus terkait dengan masyarakat miskin kota dan kaitannya dengan relasi antarumat beragama dalam rangka membangun tata kota dan lingkungan hidup yang melibatkan warga masyarakat di wilayah kota Semarang.

Terhadap hal tersebut Romo Budi memberikan tiga gambaran masukan. Pertama, dari PMLP bisa bekerja sama dengan Bidang Diakonia Paroki Kebon Dalem untuk menyapa dan memberikan layanan sosial bagi warga yang tinggal di pinggir kali Semarang di sekitar Kebon Dalem.

“Saat saya bertugas di Kebon Dalem, saya sering berjumpa dan menyapa warga masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai di dekat gereja dan pastoran Kebon Dalem. Masih ada sejumlah warga yang tinggal di rumah kardus dan rumah seadanya di sepanjang jalan itu tiap malam. Juga yang ada yang tidur di becak sebagai ’rumah’nya tempat bermalam sambil nyetel radio sampai pagi,” jelas Romo Budi. “Apa yang bisa kalian buat untuk mereka?”, lanjutnya.

Masih di wilayah Kebon Dalem, Romo Budi menyarankan Donny dan Oely untuk bekerjasama dengan Komunitas “Germo” yakni komunitas seniman budayawan “Gerakan Orang Miskin Kota” (terbaca Germo) yang berbasis di Gabahan, Kebon Dalem.

Kedua, terkait dengan peran masyarakat lintas agama, Romo Budi mengusulkan PMLP bekerjasama dengan Kiai Budi Harjono di Ponpes Al-Islah, Tembalang. “Penyuluhan layanan sosial bisa dilakukan di halaman Ponpes beliau sambil nonton film bareng-bareng, lalu Kiai Budi Harjono bisa diminta memberi masukan!” Kata Romo Budi yang selama tiga belas tahun terakhir ini bersahabat dengan Kiai “Penari Sufi” tersebut.

Ketiga, PMLP bisa bekerjasama dengan Bidang Diakonia Paroki Tanah Mas terkait dengan tata lingkungan hidup yang terancam rob dan banjir.

“Warga Tanah Mas amat plural dari sisi agama, sosial dan ekonomi. Dari tukang becak hingga anggota DPRD tinggal di situ”, kata Romo Budi.

 

Ensiklik Laudato Sì’

Romo Budi juga menyarankan kepada Donny dan Oely untuk mengangkat Ensiklik Laudato Sì’  (Terpujilah Engkau), yakni Ensiklik yang ditulis Paus Fransiskus, tentang Perawatan Dunia sebagai Rumah Kita Bersama.

Menurut Romo Budi, Ensiklik ini ditulis dan dikeluarkan Paus Fransiskus pada tanggal 24 Mei 2015 yang lalu dan masih tetap aktual dan relevan hingga kini bahkan di masa mendatang.

Masih kata Romo Budi, “Paus Fransiskus telah menyetujui sebuah kampanye pengikraran yang bertujuan untuk menggerakkan setidaknya 1 juta orang untuk secara langsung terlibat dalam mengejawantahkan pesan ensiklik tersebut saat ini dan di masa depan!”

Baru-baru ini, ikhrar itu bahkan diselenggarakan dan dipromosikan oleh Gerakan Iklim Katolik Dunia, yang telah menandatangani untuk menjawab seruan Laudato Sì’ dengan berdoa bersama dan untuk ciptaan, hidup lebih sederhana, dan menganjurkan untuk melindungi rumah bersama kita.

Menurut Romo Budi, belum lama ini, Tomás Insua, Direktur Eksekutif Gerakan Iklim Katolik Dunia, mengatakan, “Kami bersyukur dan terilhami oleh persetujuan Paus Fransiskus terhadap pengikraran Laudato Sì. Bersama 1,2 miliar umat Katolik di seluruh dunia, kami memiliki peran penting dalam menangani perubahan iklim dan krisis ekologi yang semakin meluas.”

“Apa yang bisa dilakukan PMLP terkait dengan itu, bukan dalam kerangka teoretik saja melainkan juga dalam kerangka praksis di lapangan?”, pungkas Romo Budi yang selama ini juga dikenal aktif membela keutuhan ciptaan bersama Gunritno dan warga masyarakat Kendeng itu.

(http://id.beritasatu.com)

 

Kategori: