Disruptive Innovation dalam Pendidikan Tinggi
Selasa, 18 Juli 2017 | 8:10 WIB

image

“Perubahan melalui disruptive innovation telah membuat banyak pemimpin bisnis gugup menghadapi perubahan peta persaingan”

INOVASI yang mengganggu atau istilah populernya disebut disruptive innovation dimunculkan oleh Clayton Christensen sejak tahun 1995 melalui tulisannya di Harvard Business Review dan buku The Innovator’s Dilemma.

Istilah ini menjadi bahasan yang hangat setelah berbagai bisnis dengan memanfaatkan teknologi muncul mengancam eksistensi bisnis konvensional yang mapan sebelumnya yaitu layanan taksi, pemesanan kamar, penjualan tiket perjalanan, bahkan pusatpusat penjualan.

Perubahan melalui disruptive innovation telah membuat banyak pemimpin bisnis gugup menghadapi perubahan peta persaingan. Beberapa perusahaan sukses melakukan adaptasi menghadapi perubahan tersebut, namun banyak yang menghadapi kegagalan karena terlambat menyikapi.

Dunia pendidikan tinggi perlu bersiap-siap sejak awal agar tidak terlambat dalam menghadapi perubahan akibat disruptive innovation.

Dalam buku The Innovator’s Dilemma, keengganan untuk berubah dan melihat hal-hal yang baru karena telah terbiasa dan yakin dengan hal-hal lama yang dijalani selama ini hanya akan membawa organisasi dalam ketertinggalan, menjadi tidak kompetitif, dan kemudian lenyap ditelan oleh perubahan.

Seringkali perubahan yang diciptakan mungkin gagal atau bahkan lebih buruk dari yang telah ada sebelumnya, namun sangat dimungkinkan akan menggantikan pasar di kemudian hari.

Gejala ini mungkin sudah dapat mulai kita lihat dalam pasar mobil elektrik yang semula tidak dilirik karena industri otomotif yang relatif stabil, serta kecepatan dan kualitas produknya masih belum terkalahkan.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mobil elektrik akan menggantikan produk pemenang dari industri otomotif saat ini. Hal yang sama juga akan terjadi pada dunia pendidikan salah satunya melalui pembelajaran daring.

Dampak Orchard Road

Banyak pihak menilai pembelajaran daringbelum masuk dalam tahapan mampu menggantikan pembelajaran konvensional karena kelebihannya akan interaksi antara dosen dan mahasiswa. Masih dibutuhkan waktu untuk menyesuaikan, menyempurnakan, dan membuktikan perannya secara lebih maksimal.

Berbagai penyempurnaan baik dari metode pembelajaran, pendekatan kepada siswa, maupun teknologi yang semakin mudah perlu dilakukan agar dapat semakin disukai. Berbagai inovasi dalam teknologi ini juga memunculkan efek samping dalam bentuk perubahan peta pasar seperti yang terjadi di Singapura.

Pada pertengahan tahun 2016 beberapa media melaporkan bahwa mulai tahun 2014 telah terlihat gejala bahwa Orchard Road Singapura tidak lagi menjadi surga belanja karena turunnya minat belanja seiring dengan perlambatan ekonomi dan diikuti dengan penutupan sebagian besar toko sehingga menjadikannya semakin sepi dan tidak menarik.

Menariknya, perilaku konsumen dalam berbelanja di situs online justru dilaporkan meningkat. Namun masyarakat Singapura sepertinya tidak membiarkan kematian surga belanja mereka dengan mendorong pemerintah untuk lebih banyak menyelenggarakan event, mendorong ruang komunitas, dan menggabungkan teknologi ke dalam penjualannya.

Dalam acara Great Singapore Sale pada awal Juni 2017 yang lalu, turut diluncurkan aplikasi GoSpree mobile app yang memungkinkan pembeli mengunduh eCoupon dalam bentuk QR Code dan menunjukkannya agar mendapatkan diskon ataupun hadiah.

Istilah Massive Open Open Course (MOOC) yang muncul pada tahun 2008 sering disebut-sebut sebagai bentuk disruptive innovation dalam pendidikan tinggi yang dimaksudkan oleh Christensen. Beberapa contoh situs MOOC atau kursus daring yang sudah dikenal masyarakat antara lain edX (edx.org), Udacity (udacity. com), Udemy (udemy.com), dan Coursera (coursera. org).

Berbeda dari Udacity, Udemy, dan Coursera, edX menawarkan kelasnya secara gratis kepada siswanya. Di Indonesia, situs indonesiax.co.id yang didirikan pada tahun 2015 memiliki tujuan yang sama dengan edX.

Dalam praktiknya, pembelajaran daring telah ada sejak lama dan diterapkan baik sebagai pengganti kelas, tambahan dalam kelas, maupun digabungkan dalam bentuk hybrid/blended learning. Bahkan YouTube dan situs-situs penyimpanan presentasi telah lama menjadi rujukan pengguna internet untuk mempelajari pengetahuan atau memenuhi keingintahuannya terhadap suatu hal.

Anak-anak generasi millenial bahkan telah menggunakannya sejak usia dini. Dalam buku The Innovative University, Christensen dan Eyring menekankan bahwa perguruan tinggi perlu memikirkan kembali keseluruhan model pendidikan tinggi melalui disruptive technology serta menawarkan cara-cara baru terkait dengan kurikulum, fakultas, pendaftaran, retensi mahasiswa, tingkat kelulusan, pemanfaatan fasilitas kampus, dan isu mendesak lainnya. Teknologi memungkinkan penyederhanaan terhadap masalah dan kebutuhan yang ada di dalam perguruan tinggi. (42)

Ridwan Sanjaya, guru besar Bidang Sistem Informasi Unika Soegijapranata Semarang. Ringkasan Orasi Pengukuhan Guru Besar.

(Wacana Nasional, Suara Merdeka, 17 Juli 2017, hal. 4, http://www.suaramerdeka.com)

 

Softcopy buku Orasi Ilmiah: Disruptive Innovaton dalam Pendidikan Tinggi

Youtube: Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar

 

Tautan terkait:

 

.

Kategori: , ,