OMK dan Roh Politik
Rabu, 7 Juni 2017 | 10:41 WIB

 
imageSebuah Refleksi menyambut AYD 2017

Sejak era reformasi digulirkan tahun 1998 nuansa politik di Indonesia menjadi semacam euforia yang kalau digambarkan seperti seekor burung yang lepas dari sangkarnya. Bahkan politik menjadi sebuah tujuan untuk menghalalkan segala cara.

Akhir-akhir ini kita selalu membaca dan melihat di media cetak maupun media elektronik yang memuat tentang kasus mega-korupsi, E-KTP, sidang penistaan agama dan lain lain. Jika kita dalami banyak orang yang terlibat dalam kasus tersebut meskipun beberapa di antaranya masih berstatus saksi dari berbagai kalangan mulai Gubernur, ketua partai, anggota DPR, pengusaha dan orang-orang terdekat pejabat. Kalau kita amati bersama kasus ini sebenarnya bukan kasus pidana, tetapi ada gerakan politik. Sungguh ironis ketika politik yang bertujuan menghalalkan segala cara merasuk di sektor-sektor lain seperti ekonomi, budaya, keamanan bahkan yang lebih parah sudah masuk lingkaran tatanan spiritual. Politik dimanfaatkan segelintir orang yang punya kepentingan pribadi untuk mendongkrak popularitas bahkan untuk memperkaya diri.

Roh politik
Ketika politik dan kekuasaan dipadukan untuk mengejar kepentingan pribadi atau golongan maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang semakin tidak punya etika dalam berpolitik. Mengutip tulisan Haryatmoko, SJ dalam bukunya berjudul Etika Publik (2011), bahwa yang dimaksud dengan Etika Politik adalah upaya hidup baik (memperjuangkan kepentingan publik) untuk dan bersama orang lain dalam rangka memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusi-institusi yang lebih adil. Ada 3 (tiga) dimensi etika publik yaitu tujuan (policy), sarana (polity) dan aksi politik (politics). Upaya menghadirkan etika itu tentunya perlu dimulai dari para pemimpin atau pejabat publik yang dapat memberi teladan kebaikan dan kesungguhan dalam melayani masyarakat. Selain keteladanan dan kesungguhan tentunya kekuatari spiritual yang dapat ditemukan dengan melakukan sebuah refleksi batin para pemimpin rakyat untuk menemukan sebuah "roh politik" yang mampu menjadikan politik kembali pada tujuan yang mulia. Sebelum menguraikan tentang Roh politik tentunya penulis ingin menyampaikan dulu tentang kata "roh". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dimaksud dengan roh adalah sesuatu yang ada dalam jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan atau mahluk hidup yang tidak berjasad, tetapi berpikiran dan berperasaan (malaikat, jin, setan dan sebagainya). Sedangkan arti politik dalam KBBI adalah cara bertindak dalam menghadapi atau menangani sebuah masalah. Jadi dapat penulis simpulkan bahwa "Roh Politik" adalah sebuah spirit atau semangat hidup manusia untuk tetap berpikir dan berperasaan serta bertindak yang menjadikan manusia itu akhirnya menjadi seorang malaikat atau setan. Di Indonesia politik menjadi sebuah adikodrati yaitu mencakup segala dimensi termasuk dimensi rohani yang membawa nuansa "gosip" yang menggairahkan karena sangat sosial, proses tawar menawar, diskusi, kampanye, strategi dan lain-lain. Bahkan politik bisa melahirkan sebuah kecantikan, keelokan, nafsu, puncak kepuasan yang mengakibatkan perubahan kejiwaan seseorang yang kadang tidak bisa dibendung. Bagaimanapun politik mampu menampung seluruh aspek kehidupan manusia tanpa membeda-bedakan secara global.

Orang Muda Katolik (OMK) dan politik
Keuskupan Agung Semarang sebentar lagi akan menjadi tuan rumah sebuah ajang internasional yaitu pertemuan OMK se-Asia ke-7 yang biasa disebut Asian Youth Day (AYD) yang tahun 2017 ini bertema "Joyful Asian Youth! Living The Gospel in Multicultural Asia" (Sukacita orang muda! Menghidupi Injil dalam Konteks Asia yang Multikultural) yang akan dilaksanakan pada 30 Juli-2 Agustus 2017 di Yogyakarta. OMK se-KAS juga akan mengambil peran ini, dibuktikan dengan masing-masing Paroki mengirimkan 1 (satu) OMK dan sejak 28 Januari 2017 OMK yang mewakili parokinya telah menerima pembekalan di Wisma Salam Muntilan. Jika kita cermati bersama tema AYD 2017 ini mengajak OMK untuk selalu penuh sukacita. Namun kaum muda Katolik nampaknya perlu dikenalkan dengan situasi Indonesia dan dunia dalam masalah politik, seperti apa yang telah disampaikan oleh penulis bahwa politik mampu menampung seluruh aspek kehidupan manusia tanpa membeda-bedakan secara global.

OMK perlu melihat (seeing) realitas di sekitarnya terutama situasi perpolitikan di Indonesia bahkan dunia yang bila dilihat telah jauh dari etika politik yang bertujuan untuk mengupayakan kehidupan yang tidak lebih baik. OMK harus mampu menjalin kerjasama dengan orang-orang yang menderita (compassionete) dan menghayati Injil dengan setia (committed). OMK berani berbicara (speaking) untuk menjadi penyambung lidah mereka yang menderita dan penyalur berkat bagi orang lain yang membutuhkan.

Kalau kita amati bersama, OMK dewasa ini perlu di gembleng dalam hal perpolitikan, karena Gereja saat ini butuh kader-kader yang militan dalam hal perpolitikan. Tokoh-tokoh politik yang dilahirkan dari Gereja seperti Mgr. Soegijapranata, SJ, Ign. Kasimo dan Frans Seda telah tiada sehingga perlu dimunculkan bibit-bibit muda yang lahir dari Gereja. Mereka perlu dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan tentang politik agar mereka sebagai generasi muda Katolik tidak menjadi phobia terhadap politik. Namun yang sekarang perlu kita cari dan kenalkan kepada orang muda adalah "Roh Politik" bangsa Indonesia dimana peran Gereja diberikan tempat yang terhormat dan ada ruang untuk memberikan sumbang pikir serta gerakan nyata.

Sikap politik
Menyikapi masalah perkembangan politik di Indonesia dewasa ini perlulah kita berupaya untuk mengembalikan roh politik yang baik untuk kemaslahatan rakyat sebagai pemilik negeri ini. Kasih atau cinta kepada tanah air adalah salah satu roh politik yang perlu kembali diproklamasikan agar perpolitikan di Indonesia kembali menjadi gerakan yang bertujuan menyejahterakan seluruh rakyat di Indonesia.

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, Uskup Agung pertama Keuskupan Agung Semarang pernah menulis di sebuah majalah Hidup tanggal 17 November 1947 dengan judul tulisan " Rakyat dengan Kewajibannya". Salah satu kutipan tulisan beliau sebagai berikut : " Kasih akan tanah air itulah terutama melarang kita merugikan kepentingan umum, untuk menguntungkan suatu golongan atau lapisan. Barang siapa sudi mengorbankan keselamatan umum, untuk kepentingan ….orang perseorangan atau golongan, sungguhlah cinta kasihnya kepada tanah air itu tiada effectief meskipun dapat juga terlalu affectief (terasa), penuh dan menggempar. Sebaliknya barang siapa memperhatikan undang-undang dan keadilan sosial dengan ikhlas hati, ia itu sungguh kasih akan tanah airtiya….".

Dalam tulisan tersebut Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ tersebut mengajak para rakyat yang bergerak dalam perpolitikan untuk mengesampingkan kepentingan pribadi dengan tanpa mengorbankan kepentingan umum. Mgr. Soegija menegaskan bahwa kasih akan tanah air atau cinta pada negara dan rakyat adalah roh politik yang harus terpatri dan tertanam dalam hati setiap rakyat yang akan terjun dalam bidang politik. Semoga setiap orang yang berkecimpung dalam dunia perpolitikan selalu disinari dengan roh politik yaitu "Kasih dan Cinta Tanah Air". Niscaya dunia perpolitikan di Indonesia akan selalu bertujuan memakmurkan dan menyejahterakan rakyat Indonesia.

___________________________

Ign. Dadut Setiadi
Anggota The Soegijapranata Institute (TSI)
dan pengajar Prodi Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata

(â–ºInspirasi Nomor 154 Tahun XIII Juni 2017)

Kategori: