Bisa Timbulkan Masalah Baru
Senin, 5 Juni 2017 | 12:12 WIB

TRB 5_5_2017 Bisa Timbulkan Masalah BaruPROYEK reaktivasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang memiliki panjang sekitar 30 kilometer. Proyek ini dimulai pada tahun 2014 dan hingga sekarang belum jelas pengerjaanya.

Pada saat awal-awal proyek, pembangunannya cukup cepat sekali. Namun entah kenapa, sepertinya ada sedikit masalah teknis sehingga penyelesaiannya menjadi tertunda.

Ironisnya, sekarang ada jaIan tol Bawen-Salatiga yang melintang di atasnya. Jalur bebas hambatan yang dibangun baru setahun setelah proyek reaktivasi Tuntang-Kedungjati itu ternyata sekarang sudah selesai dan siap dioperasikan.

Penggarapan rel yang sudah terbangun ini jangan sampai hingga lima tahun belum terbangun. Apalagi pemerintah berencana mereaktivasi jalur yang lainnya, seperti di daerah Banten dan sebagainya. Mestinya targetnya harus diutamakan. Setidaknya akhir 2018 reaktivasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang sudah bisa beroperasi.

Apabila terus molor dikhawatirkan timbul rasa tidak percaya dari masyarakat. Seperti misalnya di daerah stasiun Bringin, awalnya ada 750 kawasan perumahan. Kemudian dilakukan penertiban dengan cara dipindah. Nah, takutnya kalau pengerjaannya terlalu lama seperti ini muncul ketidakpercayaan dari masyarakat kepada pemerintah yang dulu sudah menyerahkan rumah-rumahnya. Lalu mereka akan kernbali membangun hunian di sekitar lokasi proyek.

Apabila kondisi tersebut terulang bisa menimbulkan masalah baru yang menghambat proses pembangunan. Jadi proyek ini harus segera dikerjakan kembali sehingga kepercayaan masyarakat terhadap proyek reaktivasi jalur rel KA Kedungjati-Tuntang tidak pudar.

Berdasarkan pantauan, sebenarnya proyek reaktivasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang sudah bisa digarap. Pembebasan lahan hampir rampung, tinggal pemasangan bantalan dan jalur rel saja. Apabila diteruskan jalur Kedungjati-Tuntang bisa sampai ke Magelang dan Jogja. Jangan sampai nanti dengan alasan rel tidak dihidupkan kembali, muncul jalan tol dari Bawen sampai Jogja.

Padahal tol Bawen-Jogja yang dikhawatirkan adalah di sana banyak tanah-tanah produktif. Jangan sampai lahan produktif tersebut hilang, lebih baik kita menghidupkan jalur rel karena itu juga sudah jalur lama namun sekarang ditingkatkan kembali.

Reaktivasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang memiliki dampak positif. Salah satunya, sebagai alternatif pilihan transportasi masyarakat selain jalur darat. Selain itu bisa semakin menggairahkan pariwisata sejarah.

Di Pulau Jawa diperkirakan 1.600 km jalur rel tidak aktif yang tersebar di Banten dan Jabar (410 km), Jateng (585 km) dan Jatim (615 km). Rencana reaktivasi lintas Kedungjati-Tuntang sepanjang 30 km sudah dimulai sejak 2014. Namun hingga kini belurn tuntas, bisa jadi bukan prioritas.

Di atas jalur ini, sejak 2015 dimulai pekerjaan Tol Bawen-Salatiga (37 km), bagian dari ruas Tol Semarang-Solo (72,64 km). Jelang mudik lebaran 2017, sudah dapat digunakan secara fungsional. Hampir semua jalur rel non-aktif di Jawa dan Sumatera sudah dilakukan Feasibility Study (FS) dan sebagian telah dibuatkan pula Detail Engineering Design (DED).

Jika ingin mengaktifkan seluruh rel mati di Pulau Jawa diperlukan anggaran sebesar Rp 48 triliun (Rp 30 miliar per km). Tidak mungkin tuntas dalam 5-10 tahun ke depan. Apalagi ditunjang dengan lemahnya komitmen.

Oleh sebab itu perlu program khusus dan prioritas dengan menerbitkan Perpres Jalur Nonaktif. Ada jalur yang memang diperlukan segera diaktifkan untuk menunjang operasi bandara baru, seperti jalur Bandung-Jatinangor hingga diteruskan ke Jawa Barat International Airport di Majalengka.

Jalur Bandung-Ciwidey ( 41 km) untuk mengurai kemacetan ke/dari Kota Bandung serta pengembangan wisata.

Reaktivasi lintas Kedungjati-Tuntang memiliki arti penting untuk pengembangan pariwisata kawasan Borobudur. Tidak hanya itu, juga menambah kapasitas mobilitas Semarang-Magelang-Yogyakarta yang selarna ini jalur jalan raya sudah cukup padat.

Di sisi lain, Kemen PUPR melalui BPJT sedang melakukan studi dan desain Tol Bawen-Yogyakarta (100 km). Dan telah masuk dalam rencana Kementerian PUPR. Tidak hanya aspek finansial yang diperhitungkan, namun jangan lupa aspek lingkungan harus dipertimbangkan dengan matang.

Dengan panjang 100 km diperkirakan puluhan desa dan belasan kecamatan akan terkena. Luas area yang akan dibebaskan sekitar 500 hektare. Hampir semua jalur yang akan dibangun tol tersebut merupakan lahan produktif dan sumber mata air.

Menghilangkan lahan produktif berarti mengurangi produksi pangan. Namun jika memanfaatkan jalur rel mati dari Bedono-Magelang-Yogyakarta yang tinggal menertibkan dari tempat usaha dan tempat tinggal, akan jauh lebih murah dan mudah dikerjakan. Dan jelas lebih ramah lingkungan dan menghemat keuangan negara. Membiarkan tidak membangun jalur rel mati, bukan alasan untuk membangun tol.

(â–ºTribun Jeteng 5 Juni 2017, hal. 1)

Kategori: