Aksi Duo Budi di Bukber 1000 Hati – Charity for Unity
Kamis, 22 Juni 2017 | 8:07 WIB

Duo Kiai-Romo Budi kembali “beraksi” merawat kebinekaan. Kali ini, Kiai Budi Hardjono – Pengasuh Pondok Pesantren Al Islah Tembalang dan Romo Aloys Budi Purnomo Pr – Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) yang juga Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang, tampil di acara "Bukber 1000 Hati – Charity for Unity".

Acara yang diselenggarakan Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jawa Tengah (FWPJT) bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Daerah Kongres Advokat Indonesia (DPD KAI) Jawa Tengah, di Taman KB Jl Menteri Supeno, Jumat (16/6) itu, untuk para penyapu jalan, pemulung dan tukang sampah Kota Semarang.

Mereka antusias mendengarkan Kultum yang disampaikan Kiai Budi. Saat Romo Budi tiba Kiai Budi sudah memberikan pencerahan melalui kultum kepada para hadirin. Namun Kiai Budi langsung memanggil Romo Budi menuju panggung terbuka yang dipersiapkan dan seketika mengalirlah dialog-dialog spontan tentang kerukunan, perdamaian dan keberagaman indahnya Nusantara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semua berlangsung serba cair dan mengalir jernih dan indah.

Sambil berangkulan Kiai dan Romo Budi menyanyikan lagu "Syukur". Bersama salah seorang tukang sapu yang kebetulan mengenakan caping, mereka menyanyikan tembang "Caping Gunung". Akhirnya mereka berkolaborasi dengan Grup Akustik melantunkan Tamba Ati gaya keroncong. Biola, gitar, perkusi dan saksofon Romo Budi mengiringi Kiai Budi dan empat penari yang meliukkan tarian sufi.

Damar Sinuko, Ketua FWPJT menerangkan, "Acara ini merupakan bentuk kepedulian insan jurnalis dan advokat Semarang kepada saudara-saudari yang tidak mampu."

"Kita harus berterima kasih kepada para tukang sapu dan sampah. Tanpa mereka, kota kita menjadi kotor dan kalau hujan bisa banjir. Kita harus bersama mereka menjaga kebersihan lingkungan kita," ujar Romo Budi.

Baik Kiai Budi Hardjono maupun Romo Aloys Budi Purnomo mengapresiasi peristiwa ini sebagai upaya nyata pendidikan kerukunan dan persaudaraan.

“Kota Semarang harus menjadi contoh dalam upaya menjaga kebineka-tunggal-ika-an demi keutuhan bangsa ini. Justru kebersamaan rukun akar rumput seperti ini yang harus terus kita jaga dan wartakan selalu,” kata duo Budi.

(►http://investor.id)

Kategori: