Ziarah Unika 2017 – Bersama Maria Memaknai Hidup sebagai Perjuangan
Sabtu, 20 Mei 2017 | 8:32 WIB

Sebagai umat Katolik tentunya kita tidak asing dengan Bulan Mei. Ya, Bulan Mei menjadi waktu untuk berdevosi atau menghormati Bunda Maria. Berkaitan dengan devosi kepada Bunda Maria tersebut, keluarga besar Unika Soegijapranata mulai dari mahasiswa, tenaga kependidikan, dosen, bruder, suster hingga Rama pun mengikuti Ziarah Unika 2017 di Gua Maria Ratu Kesederhanaan Nusakambangan, Jumat-Sabtu (12-13/5/2017). Ada dua bis besar yang membawa rombongan peziarah sekitar 100 orang.

Kegiatan Ziarah Unika 2017 ini diawali berdoa Rosario yang dipimpin oleh Sr. Emiliana Bupu, CM dan Ibu Rosalia Rus Hambrini. Lalu dilanjutkan dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh Rama Yohanes Gunawan Pr, Kepala Campus Ministry. Didampingi oleh Rama Vinsensius Watun OMI, Pastor Paroki Santo Stefanus Cilacap. Koor dari Campus Ministry dengan iringan petikan gitar.

Dalam homilinya Rama Gunawan mengungkapkan bahwa Ziarah Unika tanggal 13 Mei 2017 ini bertepatan dengan peringatan 100 tahun (seabad) Penampakan Bunda Maria di Fatima kepada tiga bocah gembala, yaitu Yasintha, Francisco, dan Lucia. Peringatan itu memiliki pesan positif dan penting untuk kehidupan, yakni ajakan membangun pertobatan dan jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

“Ziarah kali ini mengajak kita untuk menggali tema karya unika pada point bermakna. Kita ingin memaknai hidup di dunia ini sebagai sebuah perjuangan. Jangan mudah menyerah atau putus asa jika menghadapi kesulitan dan tantangan. Maju terus dan tetap bersemangat baik jalannya datar, naik, turun, sempit, terjal, becek, maupun menanjak,” tutur Rama Gunawan.

Tema Karya Unika Tahun Akademik 2016-2017 adalah Peduli, Aktif, dan Bermakna. Mengacu pada gerak Unika tahun ini, ziarah kali ini menitikberatkan pada kata “Bermakna”. Campus Ministry selaku yang penanggungjawab ziarah ini berkerja sama dengan panitia ziarah merumuskan tema Ziarah Unika 2017: “Bersama Maria Memaknai Hidup sebagai Perjuangan”.

Gua Maria Ratu Kesederhanaan dipilih sebagai lokasi Ziarah Unika 2017. Gua Maria ini terletak di Pulau Nusakambangan dan lebih tepatnya berada di desa Klaces, Kecamatan Kampung Laut, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Masuk daerah reksa pastoral Paroki St. Stefanus Cilacap. Sepintas jika kita mendengar kata “Pulau Nusakambangan” mungkin yang terlintas dibenak kita adalah lokasi penjaranya para pelaku kejahatan kelas kakap dan para koruptor seperti yang diungkapkan oleh salah satu peserta ziarah.

“Sejauh ini, yang diketahui khalayak umum adalah Nusakambangan dikenal sebagai pulau penjara bagi para penjahat kelas kakap dan koruptor besar”, ujar Bapak Stevanus Hardiyarso, dosen Fakultas Hukum dan Komunikasi yang menjadi peserta Ziarah. Namun dari image tersebut ternyata perjuangan hidup yang sesungguhnya terdapat di sepanjang perjalanan menuju Gua Maria yang sudah ada sejak abad ke-16 itu.

Para Peserta Antusias

“Ziarah kali ini bisa disebut juga ziarah ekologis. Kita melaksanakan nasihat Bapa Suci Paus Fransiskus dalam Ajaran Laudato Si untuk bersahabat dan mencintai alam. Kita menikmati perjalanan darat 6 jam dari Unika ke Cilacap. Kita menikmati keindahan Sunrise, matahari terbit, di Teluk Penyu. Lalu kita menyusuri Segara Anakan yang sejuk dan indah dengan Perahu Compreng selama 2 jam sambil sarapan nasi leles, salah satu kuliner legendaris di kota Cilacap. Kemudian kita berjalan kaki menuju Gua Maria yang indah ini menyusuri hutan yang rindang”, papar Rama Gunawan dalam homilinya.

Dari hasil pantauan, sesampainya di Gua Maria Ratu Kesederhanaan, rasa lelah para peserta ziarah menjadi hilang karena kagum dengan keindahan dan keaslian Gua Maria yang murni terbentuk dari batu kapur secara alami dari stalagtit dan stalagmit (bukan buatan manusia) serta melihat keindahan patung Bunda Maria yang terbuat dari stalagmit pula. Stalagtit adalah sejenis mineral sekunder yang menggantung di langit-langit gua kapur. Nah, inilah yang sering kita lihat ada di langit-langit atas gua. Sedangkan Stalagmit adalah batuan yang terbentuk di lantai gua, hasil dari tetesan air di langit-langit gua di atasnya, letaknya ada di bawah lantai gua.

Selain itu, para peserta ziarah juga terpantau khusyuk dalam berdoa di Gua Maria karena kondisi alam sekitarnya yang sunyi masih bersatu dengan alam. Ada gemercik air dari langit-langit gua dan ada sungai yang air jernihnya mengalir di dalam Gua Maria tersebut.

Bapak Al. Ponco Hadi Heru C. S.Kom., MM selaku Ketua Panitia Ziarah Unika 2017 menerangkan bahwa untuk melaksanakan ziarah ini awalnya memang ada beberapa kendala. Kendala tersebut antara lain lokasi yang relatif jauh, sistem akomodasi dan transportasi yang cukup sulit. Namun kendala tersebut bisa diatasi. Panitia menyadari inilah perjuangan sesuai dengan tema yang diangkat.

“Kita harus benar-benar berjuang untuk memaknai tema ziarah perjuangan. Untuk menempuh Gua Maria Ratu Kesederhanaan membutuhkan perjuangan dengan jalan kaki, kalaupun misal naik ojek trek jalannya sangat luar biasa,” tutur Ketua Panitia yang akrab disapa Pak Alfon ini.

Walau ada beberapa kendala, Bapak Alfon mengungkapkan bahwa para peserta seluruhnya sangat antusias terbukti ketika berjalan kaki menyusuri hutan para peserta tidak ada yang sakit, malah enjoy, dan bersemangat. Bahkan ada salah satu peserta yang memiliki penyakit kronis pun tetap enjoy tidak menunjukkan rasa sakitnya. “Tidak ada peserta yang sakit. Merek enjoy dan semangat, bahkan ada yang memiliki riwayat penyakit jantung pun tetap enjoy tidak menunjukkan sakitnya. Ini menunjukkan bukti bahwa mereka bahagia dalam ziarah,” ujar Pak Alfon.

Ungkapan pak Alfon tersebut sesuai dengan pantauan tim Kronik di lapangan. Walau harus melewati kondisi jalan hutan yang sempit, terjal, dan menanjak para peserta tetap enjoy berjalan kaki, bahkan ada beberapa peserta yang berjalan kaki sambil bernyanyi dan bermain gitar.

Bu Inneke Hantoro selaku Wakil Rektor II, dalam sambutannya sebelum menyerahkan tanda kasih dari Unika kepada Rama Vinsen, mengucapkan terimakasih atas kerja keras panitia dan kesetiaan para peserta ziarah. “Gua Maria yang indah ini terbentuk dari tetesan air yang sedikit demi sedikit. Akhirnya menjadi karya yang indah. Demikian juga Unika Soegijapranata menjadi makin indah dan besar berkat ketekunan dan keuletan bapak ibu dalam berkarya di Unika dari hari demi hari”, tegas Bu Inneke.

Kegiatan Ziarah Unika 2017 ini ternyata memiliki dampak positif bagi salah satu peserta yakni Bapak Stevanus Hardiyarso. Ia merasakan terbukanya cakrawala dan wawasan baru mengenai kebersamaan, persaudaraan dan saling mendukung.

Kebersamaan dan persaudaraan itu dirasakan ketika sesampainya rombongan di SMA Yos Sudarso untuk transit sejenak, Dewan Paroki Santo Stefanus Cilacap sudah menyambut dan siap mendampingi hingga lokasi Gua Maria. Di samping itu, dewan paroki juga sudah menyiapkan perahu compreng dan sarapan pagi. Rasa kebersamaan juga dirasakan bersama warga di desa Klaces yang sudah menyiapkan transportasi ojek bagi peserta yang tidak kuat berjalan. # (HOLY)

Kategori: ,