Teknik Sipil Unika Gali Informasi Melalui Alumni dan Stakeholder
Jumat, 26 Mei 2017 | 10:57 WIB

“Dalam rangka proses pengajuan akreditasi Program Studi (Prodi) Teknik Sipil Unika Soegijapranata yang baru selesai tahun depan sekaligus penerapan kurikulum baru yang tentunya membutuhkan berbagai saran dari stakeholder. Sehingga dalam acara ini, kami dari Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ingin mengetahui saran dari pengguna alumni kita di lapangan yang tentunya lebih tahu daripada kita mengenai kurikulum yang telah dirancang apakah masih diperlukan tambahan mata kuliah lain yang mungkin lebih praktis atau lebih mengacu pada kondisi di lapangan” jelas Daniel Hartanto, ST., MT sebagai Ketua Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, saat ditanya alasan diadakannya  acara “Temu Stakeholder dan alumni Teknik Sipil Unika Soegijapranata” bertempat di Ruang Anggrek, Hotel Pandanaran pada hari Sabtu (20/5).

Pada acara tersebut juga turut hadir perwakilan perusahaan konstruksi anggota INKINDO (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia) dan kontraktor dari GAPENSI (Gabungan Pelaksana Konstuksi Nasional Indonesia).

“Dari kurikulum sebagai pedoman Prodi, Teknik Sipil saat ini diperlukan adanya pembaruan karena telah berjalan 5 tahun dimana saat ini kita menggunakan kurikulum 2012. Acara ini juga pernah diadakan oleh Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata pada periode 2000-an” jelas Daniel.

“Setiap 3 hingga 4 tahun secara rutin kami akan mengadakan acara seperti ini karena sebentar lagi akan mengajukan akreditasi dimana salah satu komponen yang diinginkan berupa umpan balik, kami harapkan dari para undangan bisa memberikan saran kepada kurikulum yang digunakan misalnya saja dari pengguna alumni kami bisa menambahkan saran pada kurikulum kami, dan berbicara tentang materi, para alumni kami sudah tidak perlu diragukan” terang Djoko Suwarno  selaku Dekan Fakultas Teknik Unika Soegijapranata.

Testimoni Stakeholder dan Alumni

“Pengalaman saya  selama menjadi kontraktor  dalam mencari karyawan, tidak mudah mencari staff teknik yang siap pakai. Kalaupun telah memiliki pengalaman, biasanya pengalaman yang ia miliki tidak sesuai dengan yang kita butuhkan. Pada lulusan baru, banyak hal yang sebetulnya dibutuhkan di dunia usaha tapi tidak diajarkan di kuliah satu contoh misalnya di mata kuliah RAB (Rencana Anggaran Biaya) diajarkan mengenai pembuatan schedule, pembuatan anggaran yang mungkin lebih dipertajam pada RAB misalnya yang saat ini hanya diajarkan koefisien hingga didapatkan harga barang padahal kalau sudah di dunia kerja  selain analisa kita juga membutuhkan RAP (Rencana Anggaran Biaya Proyek Pembangunan) yang menjadi panduan kontraktor dalam pelaksanaan proyek. Mayoritas lulusan baru tidak mengerti bagaimana membuat RAP. Selain itu, para lulusan teknik sipil juga perlu diperdalam untuk ilmu beton karena di lapangan, para lulusan teknik sipil secara rata-rata tidak bisa menghitung bigesting” ujar Ibu Rini  dari PT. Majapahit Astabaja.

“Pada kesempatan ini saya akan sharing mengenai beberapa proyek yang pernah saya tangani seperti Hotel Tekko Sunter Jakarta, Hotel Manhattan Jakarta, Merlynn Park Hotel dan beberapa proyek lainnya yang tersebar di Jababeka (Jawa Barat dan Bekasi). Dalam proses pengerjaan proyek, saya bertemu banyak konsultan terkemuka akan tetapi yang saya temui konsultan arsitek yang lebih memilih merekrut lulusan arsitektur Unika Soegijapranata dibanding lulusan teknik sipil Unika. Menurutnya mungkin bisa dilakukan studi banding mengenai ilmu arsitektur untuk mengatasi hal tersebut. Selain itu, pada saat rapat proyek, ada kebanggaan yang saya rasakan, saat saya dikelilingi oleh alumni perguruan tinggi terkemuka lain di Indonesia yang menandakan bahwa Unika bukan hal yang dapat diremehkan karena lulusannya dipercaya untuk memimpin beberapa proyek yang besar,” tutur Budi Setiawan selaku alumni Teknik Sipil Unika yang membidangi manajemen Konstruksi.

Alumni Teknik Sipil Unika lainnya, Agung yang pernah bekerja selama 10 tahun sebagai konsultan dan sejak 2012 hingga saat ini, Agung menjabat sebagai project manager di salah satu perusahaan kontraktor. Menurut pengalaman Agung selama menangani Kerja Praktek mahasiswa Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Agung mengeluhkan banyak mahasiswa yang belum memahami penerapan teknis dan kurikulum yang ada di kampus sehingga saat para mahasiswa turun ke lapangan, peran mereka sangat minim. Agung pun memberikan saran untuk memperbanyak kurikulum mengenai kerja praktek, ia pun memperjelas dengan menyarankan untuk memberikan porsi lebih pada tinjuan ke lapangan seperti misalnya tinjauan ke jalan, gedung, dan bendungan. Menurut Agung, saat para mahasiswa berada di lapangan terlihat sangat canggung karena kurangnya aplikasi antara teori dengan sosialisasi kondisi di lapangan. (Cal)

Kategori: ,