Retret Lintas Campus Ministry 2017 – “Compassion, Commited, dan Connected”
Rabu, 31 Mei 2017 | 15:44 WIB

clip_image002Retret bersama lintas Campus Ministry adalah kegiatan tahunan yang dirancang untuk menjalin relasi yang baik antar Universitas Katolik yang ada di Semarang dan Yogyakarta. Tahun 2017 ini merupakan tahun ketiga diadakan retret bersama lintas Campus Ministry dengan Atmajaya sebagai tuan rumah acara. Atas kesepakatan bersama kegiatan berlangsung pada Kamis-Sabtu, 25-27 Mei 2017 bertempat di Wisma Salam Muntilan dengan mengusung tema “Compassion, Commited, Connected”. Peserta retret tahun ini mencapai 48 orang, terdiri atas 25 orang dari Atmajaya, 18 orang dari Unika Soegijapranata dan Teresiana 5 orang.

clip_image004Misa yang dipimpin oleh Rama Paulus Triwahyu Pr atau akrab disapa Rama Gendhon menjadi penanda pembukaan retret bersama lintas Campus Ministry 2017.

Dalam sesi I Rama Gendhon menceritakan keprihatinannya saat ini yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan masalah agama, sehingga mengangkat tema “Compassion, Commited, dan Connected”. Rama Gendhon menjelaskan kepada peserta tujuan memilih tema tersebut, dimulai dari Compassion diharapkan anak muda Katholik saat ini dapat berbela rasa kepada sesama tanpa membeda-bedakan. Kemudian Commited yaitu berkesanggupan atau komitmen untuk dapat terus mempertahankan iman Katholik dan bersikap sesuai ajaran Gereja Katholik yaitu cinta kasih. Dan selanjutnya Connected yang mengajak rekan muda Katholik untuk terampil menjalin persahabatan di tengah banyaknya perbedaan ini.

Sesi II belajar dari tokoh inspiratif masa kini dengan mendatangkan Pak Dalijo seorang pelawak TVRI yang sangat terkenal di Jogja. Beliau berbagi pengalaman suka duka, tantangan menjadi menjadi seorang pelawak yang beragama Katolik di tengah masyarakat yang multikultur dan hidup sebagai kaum minoritas. Salah satu pengalamannya adalah beliau pernah kehilangan job MC acara pernikahan setelah sang client berkunjung ke rumahnya dan melihat ada pohon natal beserta pernak-perniknya dan bertanya, “Mas Dalijo Katholik toh?”

Lalu dengan tegas dan tidak malu Pak Dalijo menjawab, “Njih kula Katholik”. Selang beberapa hari kemudian Pak Dalijo mendapat telepon pembatalan job tersebut. Pak Dalijo sebelumnya sudah merasa raut wajah sang client berubah ketika mengetahui dirinya seorang katholik. Pengakuannya sebagai orang Katholik itu tidak disesali karena bagi Pak Dalijo semua sudah diatur oleh Tuhan yang punyanya hidup.

Hari pertama ditutup dengan Rosario kreatif dari lima kelompok dengan melakukan drama maupun ilustrasi di setiap peristiwanya sambil jalan mengelilingi Wisma Salam.

Terjun ke Masyarakat

clip_image006Dalam retret bersama tahun ini salah satu tokoh yang ingin diteladani adalah Santo Paulus. Ia luar biasa dalam mewartakan kerajaan Allah di tengah masyarakat. Santo Paulus rela dan berkomitmen menempuh perjalanan panjang untuk mewartakan kerajaan Allah dari satu negara ke negara yang lainya. Para peserta diajak untuk bermisi bersama Santo Paulus dengan tujuan untuk menemukan militansi iman dan merasakan perjuangan Paulus dalam melakukan pewartaan.

Kegiatan hari kedua peserta dibagi menjadi tiga kelompok besar. Acara dilakukan di luar ruangan dengan 6 pos permainan yaitu rappling, meditasi alam, bekerja di pasar, jalan buta, take the flag dan public speaking. Para peserta ditugaskan ke pasar untuk belajar terjun langsung dan menjalin hubungan dengan masyarakat seperti teladan Paulus. Salah seorang peserta berkata “ternyata susah mencari kerja”. Ada juga peserta yang sudah mendapat pekerjaan, namun tidak mendapat imbalan apa-apa. Dinamika ini mengajarkan untuk tulus, mau menjalin relasi dengan siapa saja serta perjuangan mempertahankan hidup.

clip_image008Kegiatan ini benar-benar bermisi bersama Paulus. Setiap kelompok diberi sebuah kertas bergambar peta petunjuk jalan untuk melanjutkan misi permainan di tiga pos selanjutnya dengan menempuh jarak perjalanan kira–kira sejauh 10 km. Setiap kelompok berjalan melewati jalan raya, sawah-sawah, kebun salak, tambang pasir dan lingkungan perkampungan rumah warga dengan dibekali air minum 1,5 liter, trash bag untuk memungut setiap sampah yang mereka jumpai di perjalanan.

Tak jarang mereka salah membaca peta, “kami tersesat gara-gara memilih jalan yang lurus”, celetuk Yoga saat ditanya dalam sesi sharing. Banyak pengalaman dan pelajaran baru yang mereka dapat diantaranya: berbelarasa (Compassion) saat mencarikan kendaraan tumpangan untuk teman yang kakinya sakit dan tidak sanggup melanjutkan perjalanan pulang. Ada yang mendapat tumpangan motor tetapi ada juga satu kelompok yang mendapat tumpangan mobil pick up.

Mereka belajar komitmen (Commited) menyelesaikan misi sampai akhir walaupun sudah lelah dan tidak sanggup lagi berjalan karena kaki lecet berdarah, dan kaki rasanya mau copot. Selain itu, mereka belajar menjalani hubungan (Connected) dengan orang lain di sekitar mereka. Mereka saling berkomunikasi dengan sesama anggota kelompok dan berani meminta bantuan pada warga yang mereka jumpai saat mereka kehabisan air minum selama perjalanan bermisi bersama Paulus.

Kecil Bergerak

clip_image010“Kecil Bergerak” dihadirkan sebagai komunitas kaum muda inspiratif di Yogyakarta. Dalam komunitas ini kaum muda dari berbagai agama diajak untuk menulis dan menyampaikan aspirasinya melalui suatu karya tulisan maupun video clip yang dapat dilihat di blog www.ketjilbergerak.org. Motto “siapa yang muda, kreatif dan berdikari adalah ketjil bergerak” dipilih untuk mengajak kaum muda berani bergerak walau diawali dengan tindakan yang kecil.

Dalam rangka menindaklanjuti ajakan kaum muda untuk berani bergerak keluar dari zona nyaman, maka mereka diajak untuk membuat suatu program kerja di masing-masing universitas yang dapat menunjukan kreatifitas kaum muda. Unika Soegijapranata menyusun program ’Angsa’ (Angkringan Aspirasi). Angsa ini bertujuan menampung aspirasi mahasiswa Katholik dalam mendalami 100% Katholik 100% Indonesia.

Program Penyuluhan di berbagai bidang dipilih oleh Atmajaya, sedangkan Teresiana memilih sosialisasi kesehatan sebagai program yang akan dilakukan sebagai generasi muda Kkatholik yang berani bergerak di tengah masyarakat yang multikultur. Program-program kerja ini diharapkan dapat dijalankan sesuai dengan rencana dengan melibatkan atau mengundang masing-masing universitas yang ikut serta dalam retret bersama ini untuk lebih mempererat kebersamaan dan persaudaraan yang telah dibangun sebelumnya dalam retret lintas Campus Ministry.

Untuk mengakhiri dinamika selama 3 hari 2 malam serta memberkati semua niat dan rencana baik selama retret bersama, ditutup dengan misa yang dipimpin oleh Rama Wahyu.

“Semoga acara retret bersama ini tahun depan bisa diadakan lagi ya dengan bertambahnya jumlah peserta dan universitas lain yang ikut bergabung,” ungkap Pak Krist selaku staf Campus Ministry Atmajaya.# (Jessica AB)

clip_image002[4] clip_image004[4] clip_image006[4]

Kategori: