Program Dua Bahasa di Sekolah Belum Sesuai Harapan
Senin, 29 Mei 2017 | 9:18 WIB

SM 27_05_2017 Program 2 Bahasa di Sekolah Belum Sesuai Harapan

Keberadaan program dwi bahasa di sekolah-sekolah belum sesuai dengan yang di harapkan. Sebab tidak semua guru yang seharusnya menjadi role model memiliki kompetensi berbahasa Inggris yang tinggi.

Hal itu diungkapkan mahasiswa program pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) Heny Hantoro saat ujian terbuka doktor Program Studi Bidang Pendidikan Bahasa Inggris di kampus Pascasarjana Unnes. Semarang Jumat (2615).

Dalam sidang terbuka tersebut. Heny meraih predikat sangat memuaskan. Adapun sebagai ketua tim penguji Prof Dr Achmad Slamet.

Wanita kelahiran Magelang 13 September 1972 tersebut menulis desertasi "Communicative Competence, English Training Course, Bilingual Primary School Teachers" "Para guru membutuhkan training profesional untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka" jelas Heny.

la menambahkan, penelitian pengembangan pendidikan ini bertujuan untuk mengaji training bahasa Inggris untuk guru yang sudah ada dan menginventaris apa yang clibutuhkan oleh guru-guru pengajar program dwi bahasa. Tujuannya untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi dengan bahasa inggris.

Penelitian ini melibatkan 56 guru dan lima kepala sekolah dari lima sekolah dasar swasta di Semarang yang memiliki program dwi bahasa.

Training Bahasa Inggris
Menurutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah-sekolah dalam penelitian ini tidak secara kontinu menyelenggarakan training bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

Training yang selama ini ada hanya tentang teknik mengajar, bagaimana mengajar dalam bahasa Inggris, dan bagaimana menggunakan buku ajar tertentu. Sementara itu, evaluasi yang digunakan oleh sekolah adalah TOEFL, micro teaching, wawancara, dan terjemahan,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut dia, para guru membutuhkan training yang komprehensif dan berkelanjutan. Jadi, tidak hanya berfokus pada sistem linguistik tetapi juga pada aspek-aspek kompetensi berbahasa yang lain. Model training bahasa Inggris dikembangkan atas dasar model kompetensi berbahasa dengan semua komponen training seperti deskripsi training tujuan silabus, dan evaluasi.

Adapun sebagai promotor dalam ujian doktor ini adalah Prof Mursid Saleh MA PhD, sedangkan co-promotor Prof Dr Warsono Dip TEFL MA, dan anggota Dr Dwi Anggani LB MPd.

(►Suara Merdeka,  27 MEI 2017 , hal. 23)

Kategori: