Pernah Ngamen hingga Jualan Koran
Senin, 29 Mei 2017 | 10:58 WIB

Pernah Ngamen hingga Jualan Koran

Dibalik kesuksesannya sekarang, siapa sangka advokat kondang Jawa Tengah, Theodorus Yosep Parera mempunyai cerita kelam. Namun hal itu cukup menginspirasi bagi publik, yakni semangatnya untuk menempuh pendidikan bersama adik semata wayangnya, Rutchiana Parera. Wakil Ketua Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Jateng ini juga bangga karena bisa turut serta mengantarkan adiknya sukses menjadi Kepala Legal perusahan Agung Podomoro Group.

Yosep mengaku semua kejadian yang dialaminya sejak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) bukan keinginannya, melainkan keadaan lah yang membawanya mandiri dan mengutamakan pendidikan karena pesan dari almarhum ibundanya, Agnes Heliana.

Ketua Universal Taekwondo Indonesia Profesional (UTI Pro) Jateng ini mengatakan sejak ibundanya meninggal, ayahnya menikah lagi. Kemudian setelah menikah, ia dan adiknya pindah ke Klaten karena awalnya tinggal di Papua. Tidak lama dari pernikahan kedua, ayahnya menceraikan ibu tirinya dan ayahnya dipindahtugaskan ke Jakarta. Karena ia dan adiknya sudah bersekolah di Klaten dan sedikit jengkel dengan tindakan ayahnya tersebut, maka ia memutuskan hidup sendiri dan menetap dengan cara kost di Klaten bersama adiknya.

Setelah menetap untuk kost, Yosep mengaku berbagai aktifitas pekerjaan dilakukannya untuk biaya hidup dan sekolah. Mulai mengamen antar bus, menanam padi, mencabuti rumput di sekitar padi, serta memotong padi saat musim panen. Sedangkan, di musim kering dia mengangkuti tanah brongkolan dari sawah untuk dibuat batu bata dan menanam jagung.

Selain itu, ia dan adiknya juga terbantu masih ada biaya pensiunan almarhum ibu yang ia peroleh dari negara sebesar Rp 5.000 setiap bulannya. Ia bahkan masih ingat jelas masa itu terjadi sekitar 1984.

“Sejak SMP kelas 1 sudah di Cawas, Klaten. Saya kost bareng adik saya. Untuk membiayai kost dan sekolah saya lakukan kerja tersebut. Biasanya saya lakukan sepulang sekolah, paling sehari dapat Rp 300 sampai Rp 500,” kata Yosep saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Jumat (26/5).

Begitu memasuki usia SMA, Yosep mengaku untuk menghidupi biaya kost dan sekolahnya maupun adiknya, dia bekerja di percetakan batu bata dan sesekali menjadi buruh bangunan, jualan koran dan kembali mengamen di bus antar kota. Ia mengatakan, saat itu pertama kali bersekolah di SMA Kristen 1 Klaten, kemudian naik kelas 2 biaya hidupnya mulai kekurangan, akhirnya memutuskan keluar sekolah dan berhenti 1 tahun.

“Saya memutuskan pergi jualan koran dan majalah di terminal Lebak Bulus Jakarta, sesekali nyambi kuli bangunan, itu sekitar 1989, tapi adik tetap sekolah di Klaten,” sebut Dewan Penasehat Chevrolet Estate Optra (CEO) Regional Jateng ini.

Kemudian setelah setahun kerja di terminal Jakarta dan punya tabungan Yosep memutuskan kembali dan melanjutkan sekolahnya yang sempat terputus. Namun dia pindah sekolah di SMA PGRI Sukoharjo langsung duduk di kelas II.

“Uang itu saya pakai sekolah dan kost di Sukoharjo, tapi tetap adik saya di Klaten. Saya nyambi ngamen berdua sama teman di bus-bus antar kota arah Wonogiri ke Solo,” kenangnya.

Theodorus Yosep Parera

Bahkan Yosep sempat dititipi 9 anak nakal saat itu. Mereka dititipkan para orang tuanya, agar Yosep bisa memotivasi untuk bersedia sekolah. Yosep bangga saat ini kesembilannya sudah berhasil. Ada yang menjadi dosen, advokat, satpam, kadus, pengusaha dan Ustadz di Solo.

“Orang tuanya mempercayakan saya karena melihat perjuangan saya sekolah dan menghidupi adik saya,” kata Mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang ini.

Begitu lulus SMA, Yosep memutuskan kuliah di Fakultas Hukum Unika Soegijapranata Semarang melalui jalur umum. Namun karena uangnya masih kekurangan, ia memutuskan kembali bekerja di terminal Lebak Bulus Jakarta selama dua tahun dari 1992 hingga 1994. “Setelah dua tahun kerja, mulai punya tabungan lagi, akhirnya 1994 kembali kuliah. Tapi setahun kuliah uang sudah habis dan sudah berencana mau keluar lagi,” ungkapnya.

Namun saat rencananya mau keluar kuliah, Yosep mengatakan, sore harinya bertemu Ignatia Sulistya Hartanti (istrinya sekarang) untuk diantar pulang ke rumah, karena saat itu satu kampus. Ia juga mengaku sempat mencurahkan isi hati (curhat) atas masalah yang dialaminya.

“Tiba-tiba besok dia (Hartanti) datang ke kost saya. Padahal awalnya baru kenal. Saya dimotivasi agar terus kuliah, mengenai biaya makan juga diminta makan di rumahnya. Lama-lama saya jatuh cinta dan sampai sekarang dia menjadi istri saya,” sebutnya.

Karena makan dan minum sudah dipersilahkan untuk datang ke kediaman Hartanti, Yosep mengaku terbantu, akhirnya ia nekat tetap kuliah. Tak berapa lama ia mendapatkan beasiswa Supersemar dan beasiswa dari Yayasan Binter Busi dari Belanda.

“Dari situ saya semakin giat kuliah, saya juga nyambi kerja membantu mengetik skripsi. Dulu dibayar Rp 1 juta per skripsi. Selain itu, saya nyambi kerja debt collector utang piutang, hingga saya lulus sarjana hukum di Unika,” ungkapnya.

(►http://radarsemarang.jawapos.com, https://radarsemarang.com)

Kategori: ,