Perlu Antisipasi Fenomena Ledakan Informasi
Rabu, 3 Mei 2017 | 11:46 WIB

Universitas Katolik Soegijapranata mengadakan acara wisuda periode I tahun 2017 pada Sabtu (29/4) bertempat di Auditorium Gedung Albertus Lantai 3. Dalam acara wisuda ini, Unika Soegijapranata melepas sebanyak 373 wisudawan yang berasal dari 6 program studi magister, 13 program studi sarjana, dan 1 program studi diploma.

Acara wisuda ini memiliki arti tersendiri bagi Prof. Dr. Y Budi Widianarko, M.Sc selaku Rektor Unika Soegijapranata karena acara wisuda ini merupakan wisuda terakhir dimana Prof. Budi menjabat sebagai Rektor Unika Soegijapranata. Pada wisuda periode selanjutnya, acara wisuda akan dipimpin oleh Rektor Unika yang terpilih, yaitu Dr. Ridwan Sanjaya, SE., S.Kom., MS., IEC . Selain itu, acara wisuda ini juga yang pertama kali diadakan setelah Unika Soegijapranata memperoleh peringkat A pada Akreditasi Institusi dari Kemenristekdikti.

Dalam acara wisuda ini, Prof. Budi memberikan penjelasan bahwa saat ini kita banyak yang hidup berdampingan dengan fenomena ledakan informasi yang membanjiri lini masa dan banjir pilihan. Dimana dunia menawarkan banyak pilihan untuk hidup sehingga untuk mem-filternya diperlukan strategi yang disebut satisficing, suatu kata bentukan baru yang merupakan penggabungan dari satisfying yang berarti memuaskan dan sufficient yang berarti cukup. Dalam implementasi, setiap jawaban atas masalah yang diperoleh tidak harus memuaskan 100% yang penting secukupnya untuk hal-hal tertentu. Namun, untuk beberapa hal menjadi prioritas dilakukan secara sungguh-sungguh. Hal ini dapat menjadi suatu  problem solving karena otak manusia dalam memproses informasi yang diperoleh memiliki limit (batasan). Sehingga, seringkali ketika manusia baru mendapatkan informasi yang sedikit langsung mengambil keputusan.

Prof. Budi pun mengambil contoh dimana setiap hari setiap orang membaca sebanyak 175 media cetak secara rata-rata. Sehingga otak akan segera mengambil keputusan atas informasi yang diperoleh. Misalnya saja, apabila seseorang melihat iklan mengenai makanan, maka orang tersebut akan mengalami keinginan untuk makan secepatnya begitupula dengan iklan lainnya. Akan tetapi, di tengah banjir informasi akan iklan apapun, otak tidak bisa dituntut untuk membuat prioritas atas informasi yang diperoleh, sehingga penerimaan informasi di otak menggunakan prinsip first come, fisrt serve (informasi yang datang dahulu, langsung diproses). Prinsip itu akan terus berjalan sampai dengan kemampuan otak yang mencapai batasnya (limit).

Dalam mengatasi masalah tersebut, strategi yang dapat digunakan adalah kembali ke prinsip manusia yang sederhana,  manusia zaman dahulu. Prinsip yang dapat diteladani adalah dimana dalam pergerakan informasi yang begitu cepat, terkadang manusia perlu berhenti sejenak. Dalam kondisi ini, diperlukan penguatan akan rohani yang bisa dalam bentuk puasa, doa, meditasi ataupun refleksi. Dalam hal ini, refleksi yang diadakan tiap hari dibutuhkan untuk memilah beberapa informasi yang tidak menjadi prioritas sehingga di hari selanjutnya, orang akan fokus untuk beberapa hal tertentu. (Cal)

Kategori: ,