Peduli pada Tanah Air dan Kemanusiaan
Kamis, 4 Mei 2017 | 10:02 WIB

Praba Th 68 no5 Maret 2017 Peduli Pada Tanah Air dan Kemanusiaan - Rm Y Gunawan PrTak terasa kita sudah memasuki sebulan lebih tahun 2017 ini. Kita pantas bersyukur banyak hal yang telah dicapai bangsa Indonesia pada tahun lalu. Pemerintahan Presiden Joko Widodo semakin memberi harapan bagi terwujudnya kemanusiaan dan kesejahteraan yang merata antar pulau. Sebut saja, misalnya peningkatan dan perbaikan pelayanan publik, penegakan hukum, pembangunan infrastruktur di Jawa dan luarJawa, pemberantasan korupsi dan pungli, dsb.

Sebagai warga bangsa kita masih mempunyai tantangan dan pekerjaan rumah yang tidak mudah. Disadari bersama bahwa keprihatinan masih mewarnai masyarakat kita, baik konflik dengan isu agama, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, pungutan liar (pungli), kerusakan lingkungan hidup, broken home, pengangguran, dsb.

Tantangan lain di depan mata adalah pelaksanaan pesta demokrasi Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) serentak tanggal 15 Februari 2017 di 101 daerah, terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Peristiwa itu akan menjadi ujian bagi partisipasi politik masyarakat dan peningkatan kualitas pelaksana, serta proses penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut.

Lantas, sosok negarawan (pemimpin) macam apa yang dibutuhkan bangsa ini untuk menghadapi aneka tantangan tersebut? Saya berpendapat bahwa bangsa kita saat ini membutuhkan sosok negarawan (pemimpin) yang religius-humanis. Beriman kuat dan peduli pada keadaan rakyat (bonum commune).

Talenta pro Patria et Humanitate

Bangsa yang besar adalah bangsa menghargai dan tidak melupakan para pahlawannya. Dari figur para pahlawan kusuma bangsa, kita bisa berefleksi sekaligus menimba inspirasi guna menggapai mimpi. Dalam semangat nasionalisme dan religiositas, misalnya, kita bisa menggali sosok negarawan dalam diri Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (1896-1963). Mgr Soegija diangkat menjadi pahlawan nasional dengan Kepres no. 152, tertanggal 26 Juli 1963. Dia juga dianugerahi pangkat Jenderal TNI Kehormatan dengan Kepres/Panglima Tertinggi ABRI No. 223/AB-AD, tanggal 17 Desember 1964.

Pemikiran dan tindakan Soegija sangat inklusif dan berorientasi pada bangsa dan negara ini. Sebagai contoh, ia mendukung pemerintahan Indonesia yang berpindah dari Jakarta Ke Yogyakarta, dengan memindahkan pusat gereja dari Semarang ke Yogyakarta (1946-1949). Untuk mendukung pengakuan kemerdekaan Indonesia di dunia internasional, ia melakukan silent diplomacy ke berbagai negara Eropa dan Amerika. Selain itu, ia juga mendorong orang Katolik sejak awal kemerdekaan untuk menyumbangkan talenta-talenta untuk tanah air dan kemanusia (talenta pro patria et humanitate).

Talenta pro patria et humanitate itulah yang sekarang dihidupi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang sebagai motto bersama. Unika mengemban tanggung jawab sejarah mendidik generasi muda saat ini menjadi pribadi yang peduli pada tanah air dan kemanusiaan. Syukur kepada Allah kampus Unika Soegijapranata meraih Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) denga nilai "A" dari Pemerintah. Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan (SK) No. 0384/SK/BAN-PT/Akred/PT/I/2017 tertanggal 26 Januari 2017. Sebagai orang Katolik, kita pantas bangga karena Unika merupakan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pertama di Provinsi Jawa Tengah (dari 249 PTS) yang meraih Akreditasi A.

Dalam Aksi Kemasyarakatan Katolik-Aksi Pancasila pada 8 Mei 1960, Mgr. Soegija menegaskan, “Sekarang (tidak besok atau lusa), kita harus sungguh-sungguh menjadi: GARAM – garam-garam yang menggarami, masuk, mencebur, meluluhkan diri. Garam yang hanya berdiam diri, thenguk-thenguk, dia melalaikan kewajibannya sebagai garam”.

Dalam konteks ‘revolusi mental’ era Presiden Jokowi saat ini, Mgr. Soegija memberi insight pada generasi sekarang. Dalam sebuah pesan Natal, Mgr. Soegija menegaskan: “Kristus telah melaksanakan pembangunan semesta mulai dengan membangun manusia. Hendaknya kita dalam menyelenggarakan pembangunan seluruhnya mengutamakan atau sekurang-kurangnya janganlah mengabaikan pembangunan mental dan rohani….”.

Pembangunan mental dan pembangunan rohani yang ditawarkan oleh Mgr. Soegija adalah sebuah ‘revolusi mental’, yakni kemampuan dan kemauan untuk mengubah habitus lama (manusia tua) menuju habitus baru (manusia baru). Habitus lama yaitu hidup yang diwarnai “…egoistis, individualistis, keloba-lobaan, gila akan hormat, dan pangkat”. Sedangkan habitus baru yaitu hidup yang diwarnai“…bertata-tertib, bertata-susila, sadar akan kewajibannya, sadar akan tanggungannya, setia, lugu, jujur, bebas dari penyakit suap…berani mengambil resiko; meskipun selalu waspada dan bijaksana (bertindak dengan perhitungan yang masuk akal), bersemangat sosial, dan altruistis”. Mari kita sebagai orang beriman Katolik yang berhati nasionalis, siap berevolusi mental dengan peduli pada tanah air dan kemanusiaan. ***

Y. Gunawan, Pr
Kepala Campus Ministry
Unika Soegijapranata Semarang

(►Majalah Praba Th 68 No 5 Maret -I 2017)

Kategori: