Mahasiswa Turki Kunjungi Unika Soegijapranata
Kamis, 4 Mei 2017 | 9:42 WIB

Turki dikenal sebagai negara kaya akan budaya seperti halnya Indonesia. Kekayaan budaya Turki terbagi menjadi 2 kelompok yang tidak lepas dari letaknya yang berada di batas terdepan Benua Asia dan Eropa. Salah satu kekayaan yang tersimpan adalah paras nan elok tiap penduduknya, salah satunya Mùge Ertùrk.

Mùge merupakan salah satu darmasiswa (mahasiswa asing yang mendapat beasiswa studi pemerintah Indonesia di perguruan tinggi Indonesia) yang saat ini tengah berkunjung ke Unika Soegijapranata. Dia berasal dari Istanbul, ibukota Negara Turki.

Kunjungannya ke Unika Soegijapranata dalam rangka mengerjakan thesis mengenai tata kota. Sebelum mengunjungi Indonesia,  Mùge dan 2 temannya yang lain diberi penawaran mengenai beberapa topik penelitian di Indonesia. Untuk mempermudah pengumpulan data, Mùge dan 2 temannya kompak memilih membuat penelitian mengenai air yang merupakan salah satu sumber masalah terbesar di Indonesia. Masalah yang ditimbulkan dari air salah satunya rendahnya akses warga terhadap air bersih sehingga Mùge memilih mengadakan penelitian mengenai Water Governance.

Namun ketika tiba di Indonesia, ternyata Mùge dan kedua temannya mengerjakan proyek yang berbeda dikarenakan masing-masing proyek disesuaikan dengan keahlian masing-masing. Misalnya, salah satu temannya mengerjakan penelitian yang berfokus pada banjir sedangkan temannya yang lain mengenaifinancial part of the water.

Sedangkan Mùge cenderung lebih menekuni program Environment and Society. Hal ini disebabkan di negaranya sendiri, masalah lingkungan menjadi isu yang utama. Baginya, salah satu pokok pembelajaran yang menarik dari ilmu ini yang sangat berguna adalah mengenai bagaimana mendaur ulang suatu barang bekas atau sampah dan meningkatkan sustainable suatu barang.

Sukarelawan EVS

Mùge Ertùrk sebelum datang ke Indonesia, setahun lalu menetap di Belanda untuk melanjutkan pendidikan masternya (S2) pada bidang Environment and Society dan Human Geography di Radboud University, Nijmegen, Belanda. Namun karena  gelar Bachelornya (Sarjana/ S1) pada bidang Industrial Engineering diIstanbul Technical University, maka Mùge Ertùrk diharuskan mengambil program Pre-master.

Setelah lulus Bachelor Degree, Mùge sempat menetap di Coimbra, Portugal dan bekerja sebagai salah satu relawan kemanusiaan selama 1 tahun untuk menangani para difabel. Mùge bekerja sebagai sukarelawan EVS (European Volunteering Service) yang merupakan bagian dari program Erasmus Plus yaitu sebuah program yang digagas oleh Uni Eropa.

Coimbra merupakan kota dimana terdapat pusat kaum difabel yang menjadi partner kerjasama Uni Eropa. Selama menjadi sukarelawan EVS, Mùge banyak mendampingi aktivitas sehari-hari para difabel dan memberikan pengajaran berbagai jenis keterampilan. Bagi Mùge, memberikan pendampingan kepada kaum difabel merupakan cara yang paling baik untuk menjalankan masa break sebelum memasuki kepenatan dunia kuliah kembali. Hingga akhirnya setelah kuliah kembali dan menekuni pendidikan masternya serta mengerjakan thesis maka ia mengunjungi Unika Soegijapranata untuk memperdalam kajian penelitiannya tentang Environment and Society.

(►http://www.kampussemarang.com)

Kategori: