Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Berprestasi
Rabu, 26 April 2017 | 10:50 WIB

Mungkin sebagian dari kita jika menimba ilmu di tempat yang bukan menjadi pilihan awalnya ada rasa agak malas. Namun hal itu tidak berlaku untuk Agata Cahyaning Widhiartanti, mahasiswi lulusan Program Studi D3 Perpajakan Unika Soegijapranata Semarang.  Walau berkuliah di tempat yang tidak menjadi pilihan tidak lantas membuat Agata , begitu sapaan akrabnya, menjadi patah semangat. Agata malah mampu bertahan dan bisa menjadi mahasiswi yang berprestasi dan aktif di berbagai kegiatan organisasi. Bagaimanakah ceritanya hingga Agata bisa bertahan dan lulus berprestasi?

Pada semester 1 Agata masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri di lingkungan Unika Soegijapranata. Pada semester satu itu pula ia mendapat banyak hal positif di Unika. Setidaknya ada 4 hal positif yang membuat Agatha bertahan hingga dinyatakan lulus pada bulan Maret 2017 yang lalu. 4 hal tersebut mulai dari : (1) pengalaman hidup, (2) relasi dengan banyak orang, (3) aktif dalam suatu organisasi, dan yang tak kalah pentingnya adalah (4) Agata mendapatkan suatu pembelajaran pentingnya toleransi beragama. “Di Unika ini saya mendapat banyak pengalaman dan relasi. Relasi itu baik kepada sesama mahasiswa maupun dengan dosen. Di Unika saya juga sudah terlanjur aktif di suatu organisasi. Dan di Unika ini toleransinya sangat tinggi, walaupun sekolah katholik, tapi saya juga punya banyak teman non-katholik” ujar wanita berparas cantik kelahiran Kabupaten Semarang 25 Juni 1996.

Seputar Tugas Akhir

Untuk menyelesaikan studi nya, Agata harus menyelesaikan tugas akhir. Dalam tugas akhirnya ini Agata mengambil Judul : “Manfaat Pengembalian Pendahuluan atas PPN Lebih Bayar Terhadap Kinerja Keuangan PT ABC”.  Setiap penulisan karya ilmiah tentunya memiliki manfaat bagi semua pihak, begitu juga dengan Agata. Ia menuliskan tugas akhirnya ini agar bisa bermanfaat bagi semua pihak terutama untuk perusahaan yang menjadi tempat penelitiannnya. Ia berharap dengan adanya penelitian ini, PT ABC mengerti akan kelebihan jumlah pembayaran pajak dan sebenarnya kelebihan pembayaran tersebut bisa dioperasikan untuk operasional perusahaan yang lainnya serta bisa memperbaiki keuangan perusahaan.

Mengerjakan tugas akhirnya ini pun ia jalani meskipun  ada hambatan menghadang. Hambatan yang ia alami sama seperti mahasiswa lainnya yakni masalah kecocokan jadwal bimbingan dengan dosen pembimbing dan cek anti plagiasi. “Terkadang saya sulit untuk mengatur waktu pertemuan dengan dosen pembimbing dan antri cek plagiasi yang panjang” ujar Agata yang hobi berbisnis.

Walaupun Agata mampu menyelesaikan studi D3 Perpajakan dalam waktu singkat yakni 2,5 tahun dan meraih Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,72 , tidak lantas membuat Agata lupa dengan kegiatan keorganisasian. Sejak tahun 2014 hingga tahun 2016 dirinya sudah menduduki 3 jabatan organisasi  yaitu Wakil Ketua Panitia Seminar MEA Progdi Perpajakan Pada Tahun 2014, Koordinator Divisi Koran UKM Dian Fenata periode tahun 2014-2015 dan Ketua UKM Dian Fenata Periode Tahun 2015-2016.

Saat ini di sela sela menunggu waktu wisuda pada tanggal 29 April 2017, Agata tengah aktif dalam kegiatan pelayanan gereja dan bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi di kota Semarang. (Hly)

Kategori: ,

One Response to “Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Berprestasi”

  1. Ayom Krisnoto says:

    Terimakasih atas prestasimu anakku Agata Cahyaning Widhiartanti.
    Terimakasih semua saja yang telah membantu Agata dalam menylelesaikan belajarnya kami tidak dapat menyebutkan satu persatu.
    Semoga semua budi baik yang dari bapak ibu dan saudara sekalian mendapatkan rahmat yang melimppah dari Tuhan yang penuh kasih.
    Sehubungan dengan tulisan diatas “TIDAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK BERPRESTASI” saya sangat menghargai sekali atas tulisan ini, karena Agata jika dikatakan berprestasi, dia tidak berangkat dari fasilitas lengkap dan mewah tapi justru berangakat dari kesederhanaan.
    Mulai dari awal pendaftaran sampai sekarang pergi pulang kampus mengandalkan angkutan umum, yang nota bene selalu berdesakan, panas dan pengap belum lagi ada tangan tangan jahil yang mengganggu.
    Kalau tidak salah dua kali kehilangan HP diangkutan umum, namun tidak menyurutkan semangatnya. Dalam mengikuti kegiatan kadang sampai dirumah sudah diatas jam 21, tentunya sebagai orang tua ada kegelisahan hingga saya rela menunggu dipinggir jalan kadang lebih dari satu jam, tapi itu bagi kami sekarang bukanlah suatu penderitaan tapi sekarang merupakan kebahagiaan, karena dengan fasilitas yang minim namun hasilnya menggembirakan.
    Bisa dibayangkan Mahasiswa yang hanya ber uang saku Rp 20-30 ribu untuk naik angkot PP oper 2 kali dan tak jarang karena macet harus naik ojek.
    Agata walaupun mahasiswa tidak malu membawa bekal makan jika diperkirakan pulangnya melewati jam makan siang, ini diluar kebiasaan para mahasiswa.
    Fasilitas minim, sederhana namun diterimanya dengan tetap ceria.
    Jika Agata dianggap bisa dalam mata kuliah dia tidak pelit dalam berbagi ilmu banyak teman temannya yang belajar di rumah. Mereka bilang Agata menerangkan dengan jelas.
    Beberapa kali mendapatkan bea siswa dapat memberikan semangat untuk giat belajar.
    Ingin rasanya menulis panjang lebar tentang Agata tapi keterbatasanlah yang menghentikanku.
    Semoga ini menjadi awal yang baik untuk masa depanmu yan nak… berbahagialah selalu.