KONSISTEN ANTARA KULIAH DAN ORGANISASI
Rabu, 26 April 2017 | 10:33 WIB

Menjadi seorang aktivis organisasi dalam kampus merupakan hal yang tidak mudah, karena harus mampu mengatur jadwal antara kegiatan organisasi dan perkuliahan. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Wahyu Lia Wibowo yang berhasil mencatatkan namanya sebagai Aktivis kampus yang mampu membuktikan bahwa organisasi dengan akademik bisa berjalan seimbang. Dibuktikannya melalui pencapaian menjadi Wisudawan terbaik dari Program Studi Teknik Sipil Faklutas Teknik pada Wisuda Periode I bulan April 2017.

Pria yang akrab disapa Wahyu ini memang sudah aktif dengan kegiatan organisasi sejak awalmula berkuliah di Unika Soegijapranata karena ia ingin bersosialisasi dengan orang lain, mengingat dirinya yang merupakan alumnus SMAN 3 Sragen tidak begitu mengenal orang-orang baru yang ada di Fakultasnya.

“Saya ikut organisasi karena saya menyadari saat itu saya butuh untuk mengenal teman-teman baru di lingkungan yang baru. Kebetulan melalui kegiatan PTMB saat itu, saya mengenal salah satu kakak angkatan yang mengajak saya untuk bergabung ke organisasi, dan BEM Fakultas Teknik menjadi batu pijakan pertama saya dalam menjajaki lingkungan kampus. Saya berkecimpung dalam BEM Fakultas Teknik selama 2 periode sampai pada akhirnya saya mendaftarkan diri di Senat Mahasiswa tingkat Universitas periode 2014/2015. Karena kepercayaan teman-teman dan pengurus sebelumnya, saya terpilih menjadi ketua SMU pada saat itu,” ungkap Wahyu.

Meskipun mengikuti berbagai kegiatan organisasi yang ada di kampus, prestasi dari Wahyu Lia Wibowo ini juga tidak ketinggalan dengan teman-temannya yang lain. Disela-sela kesibukannya, ia selalu menggunakan waktunya untuk belajar dan memanfaatkan waktu dengan baik. Peraih IPK 3,20 ini mampu melaksanakan tanggungjawabnya sebagai mahasiswa dan sebagai pengurus organisasi mahasiswa dengan baik.

Dengan mengambil Judul Tugas Akhir “Perencanaan Struktur Student Apartement di Jalan Gajahmada 91 Semarang.”, berhasil mengantarkan pria kelahiran Sragen, 18 Juli 1994 ini meraih gelar Sarjana Teknik. Ia mengambil judul tersebut karena tertarik dengan perencanaan struktur bangunan dan ia ingin mempelajari lebih lanjut mengenai ilmu pengukuran dalam perencanaan struktur bangunan.

“Judul yang saya ajukan ini lebih karena rasa ketertarikan mengenai struktur perencanaan bangunan, bagaimana penerapannya dalam kondisi nyata. Selain itu, sebelum mengajukan judul ini juga terlebih dahulu saya mencari materi bersama partner tugas akhir saya, kembali mereview materi kuliah yang telah dipelajari,”tuturnya.

Berbeda dari program studi lain yang menyaratkan satu judul untuk satu mahasiswa, di prodi teknik sipil setiap satu judul tugas akhir, dikerjakan oleh 2 mahasiswa. Dalam pelaksanaannya, Wahyu banyak menemui hambatan karena tidak bisa bertemu langsung dengan rekan sekerjanya dalam membuat tugas akhir lantaran kesibukan masing-masing terutama kesibukan dalam bekerja.

“Hambatan yang saya dan partner alami adalah kesulitan dalam mengatur waktu karena kesibukan dalam bekerja di luar, sehingga ketika mengerjakan hanya mengandalkan handphone agar dapat saling terhubung. Ketika datang untuk asistensi dengan dosen pembimbing, terkadang saya bisa atau partner saya ga bisa”jelasnya.

Meskipun mengalami hambatan, Wahyu yang berpegang pada motto hidupnya “Hidup adalah pilihan” ini mengatakan bahwa setiap apa yang telah diputuskan untuk dilakukan harus dijalani dengan total, karena hidup ini merupakan pilihan, maka harus dijalani dengan enjoy dan senang. (Ign)

Kategori: ,