Kematian yang Menyelamatkan
Jumat, 21 April 2017 | 21:48 WIB

TRB 15_04_2017 Kematian yang Menyelamatkan

Paskah kembali datang. Kesempatan untuk berefleksi dan intropeksi diri. Umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Paskah, perayaan kebangkitan Yesus (Isa Almasih) yang wafat disalib. Wafat Yesus dirayakan dalam ibadat Jumat Agung.

Di tengah saudara-saudari kita yang menjadi korban kekerasan, teror bom, perang, aborsi, dan bencana alam akhir-akhir ini, perayaan kematian Yesus mempunyai makna yang istimewa.
Sebut saja misalnya, dua peristiwa di Mesir dan Ponorogo. Di dua gereja di kota Tanta dan Alexandria, Mesir, ada dua bom diledakkan saat ibadah Minggu Palma kemarin (9/4). Puluhan orang menjadi korban. Selain itu, di Ponorogo Jawa Timur ada bencana tanah longsor yang memakan korban, Sabtu (1/4). Ada puluhan yang meninggal dunia dan ada yang terluka.
Lantas, apa makna perayaan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus? Menjadi murid Yesus zaman ini berarti ikut memikul salib dan mengikuti-Nya. Salib sudah ditemukan Yesus dan manusia tinggal ikut memikulnya. Yesus sendiri bersabda, ”Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak mengikuti Aku” (Mat 10:38). Jika keduanya dipisahkan, beban yang dipikul bisa-bisa bukan lagi salib yang membawa keselamatan, tetapi hanya berhenti pada penderitaan saja. Hidup orang Kristen dipanggil untuk membuat diri menjadi kenampakan Yesus yang dengan salibnya telah menampakkan keilahiannya.

Seorang Teolog J.B. Metz mengungkapkan bahwa “mengikuti” berdimensi mistik dan politis. Artinya, menyambung pada kehadiran Allah dalam sejarah manusia dan membiarkan diri digerakkan oleh kehadiran itu, agar semakin banyak orang dilibatkan dalam perjumpaan dengan Allah yang hidup.

Demi tujuan itu, hidup murid Yesus juga berdimensi politik, yaitu membangun kebersamaan yang inklusif (terbuka) dengan semua orang di tanah air Indonesia ini. Orang Kristen dipanggil mewartakan kehidupan bersama yang mengarah pada peradaban kasih yang sejahtera, beriman dan bermartabat.

Pelopor Peradaban Kasih

Semboyan 100% Katolik 100% Indonesia (patriot) dari Uskup Pribumi pertama, Mgr Albertus Soegijapranata, bukan sekedar wacana, tetapi sungguh diwujudnyatakan dalam kehidupan konkret. “Kita adalah sungguh-sungguh Katolik, daripada itu kita adalah sebenar-benarnya patriot juga. Oleh karena kita merasa patriot seratus prosen, sebab itu kita pun merasa Katolik seratus prosen pula” (Sambutan Pembukaan KUKSI II tanggal 27-30 Desember 1954).

Pernyataan itu dikatakan Soegija saat ada Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia di Semarang. Kesadaran umat Katolik untuk cinta pada tanah air Indonesia sudah terjadi pada awal kemerdekaan ini. Ada beberapa pahlawan nasional yang beriman Katolik. Mereka rela menyerahkan nyawanya dan berkorban untuk tanah air. Sebut saja misalnya, Ignatius Slamet Riyadi, Agustinus Adisutjipto, Laksama Madya Yosaphat Sudarso, dan Ignatius Yoseph Kasimo.

Bahkan Mgr. Soegijapranata sendiri juga dinyatakan sebagai pahlawan nasional dan dimakamkan di Taman Makam Giritunggal Semarang. Ia diangkat menjadi pahlawan nasional dengan Kepres no. 152, tertanggal 26 Juli 1963. Juga dianugerahi pangkat Jenderal TNI Kehormatan dengan Kepres/Panglima Tertinggi ABRI No. 223/AB-AD, tanggal 17 Desember 1964.

Iman kebangkitan akan bergema jika diwartakan dan diwujudnyatakan dalam tindakan. Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati (Yak 2:17). Begitu penegasan Rasul Yakobus. Sejak masa Prapaskah umat Katolik, terlebih di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah diajak untuk mengolah permenungan “Aku Pelopor Peradaban Kasih”. Menjadi pelopor peradaban kasih adalah panggilan murid-murid Yesus Kristus untuk mewujudkan imannya. Iman harus berdampak dan berbuah bagi kebaikan bersama (bonum commune).

Bahkan Paus Fransiskus menegaskan,“Tidak ada lagi yang mengubah dunia selain orang-orang yang bersama Yesus dan yang mengabdikan hidup untuk perubahan itu, serta yang bersama Dia pergi menjumpai mereka yang miskin dan bertemu langsung di tempat-tempat kotor. Terjunlah juga ke dunia politik. Berjuanglah demi keadilan dan kemanusiaan, secara khusus bagi mereka yang paling miskin di antara yang miskin”.

Bersyukurlah Indonesia mempunyai dasar negara Pancasila. Di dalam sila-silanya terdapat nilai-nilai luhur yang menuntun orang untuk hidup seimbang antara relasi vertikal dan horisontal. Atas dasar iman pada Tuhan Yang Mahaesa, orang diajak bersikap peduli pada kemanusiaan, bersatu, bermusyawarah, dan bertindak adil. Saat ini bangsa kita sedang menghadapi ujian yang cukup berat. Masih semarak kekerasan atas nama agama, intoleransi, ketidakadilan, dsb.

Dalam situasi “terjal” masa kini, iman kebangkitan diuji. Orang Kristiani ditantang mengaktualkan imannya sekaligus merefleksikan kembali gambaran Allah Maharahim yang diimaninya. Benarkah Allah yang Maharahim itu membiarkan manusia dililit oleh ketidakadilan dan penderitaan? Di salib terjadi sebuah paradoks.

Paradoks salib ialah pelepasan semua kebesaran ilahi dalam diri Yesus dan menjadi manusia. Dalam wujud itulah Yesus kehilangan martabat sebagai manusia. Himne Kristologi dalam Filipi 2:6-9 mengungkapkan bahwa salib pada dasarnya pengosongan diri (kenosis). Pengosongan diri itu bukan asal membuat diri kosong, melainkan membiarkan diri agar dipenuhi keilahian. Ketaatan Yesus pada kehendak Allah berpuncak pada wafat-Nya di salib demi menyelamatkan manusia.

Dengan perayaan Paskah ini, umat Kristiani diingatkan untuk menjadi pelopor peradaban kasih dalam hidup berbangsa dan bernegara. Mampu dan peka melihat Tuhan yang bangkit dalam diri sesama yang dijumpai dalam hidup sehari-hari. Penampakan Yesus kepada Maria Magdalena (Yoh 20:11-18) menunjukkan bahwa Tuhan itu sungguh hidup dan bangkit dari antara orang mati.

Begitu disapa secara pribadi dengan namanya, Maria Magdalena langsung percaya dan berseru, “Aku telah melihat Tuhan”. Mari kita melihat Tuhan yang bangkit dalam diri sesama yang menjadi korban kekerasan, ketidakadilan, teror, dan bencana alam akhir-akhir ini. Selamat menjadi pelopor peradaban kasih bersama Yesus yang bangkit.

Y Gunawan, Pr
Rohaniwan, Kepala Campus Ministry, dan Dosen Religiositas Unika Soegijapranata Semarang

(Tribun Jateng 15 April 2017 hal. 2, http://jateng.tribunnews.com)

Kategori: , ,