Jika Kita Bukan Siap-siapa, Wajib Gandeng Orang Lain
Kamis, 27 April 2017 | 11:26 WIB

WWS 25_04_2017 Jika Kita Bukan Siap-siapa, Wajib Gandeng Orang LainKerja kuda dengan menaiki kuda, kejar kereta dengan naik kereta, kejar pesawat dengan naik pesawat. Filosofi ini dipegang founder sekaligus chairman Lippo Group Mochtar Riyadi. Hal tersebut disampaikannya, dalam talkshow Entrepreneurship Wisdom di kampus Universitas Katolik (Unika Soegijapranata) Semarang,kemarin.

"JIKA kita bukan siapa-siapa, maka kita harus bisa menggandeng orang lain yang memiliki sesuatu hal, untuk membantu kita dalam berusaha mencapai tujuan kita," terangnya.

Dirinya mencontohkan, sewaktu ingin menjadi bankir, namun tidak disetujui oleh sang ayah. "Ayah saya bilang, bahwa profesi bankir hanya untuk orang kaya. Namun saya sampaikan, bahwa perbankan merupakan bisnis kepercayaan, bukan hanya sekedar modal, sehingga sepanjang saya memiliki kepercayaan saya akan berjuang menjadi bankir. Disanggah lagi oleh ayah saya, bahwa kepercayaan itu berasal dari reputasi yang baik, sementara saya tidak punya. Namun kembali saya yakinkan, bahwa saya bisa menunggang reputasi orang lain yang sudah sukses untuk meningkatkan reputasi saya," tandasnya.

‘Kuda tunggangan’ ini menjadi salah satu kunci kesuksesannya. "Istilahnya naik kuda untuk kejar kuda, naik mobil untuk kejar mobil, kalau mau kejar kuda tanpa kuda tidak mungkin, apalagi sekarang kalau ingin mengejar pesawat terbang juga harus dengan pesawat terbang. Ini artinya jika ingin menjadi besar dan berhasil, kita juga harus belajar dari orang yang berhasil," lanjutnya.

Hal tersebut dibuktikannya dengan membangun Bank Kemakmuran, sebelum berpindah ke sejumlah bank lainnya seperti Bank Buana hingga Panin Bank. "Pada saat itu saya ingin membangun bank yang bisa menjadi kliring house, sebab saat itu yang bisa melakukan hanya Bank Indonesia," jelasnya lagi.

Menggandeng
Ilmu ‘kuda’ ini diterapkan lagi dengan menggandeng salah satu konglomerat Indonesia dengan mendirikan Bank Central Asia (BCA). Kerja sama keduanya berhasil menjadikan BCA menjadi bank swasta terbesar di Indonesia. Capaian tersebut diraih, selain karena kemampuannya dalam bisnis perbankan, juga didukung kejeliannya dalam memilih ‘kuda’. Selama 16 tahun di bank tersebut, dirinya berhasil merangkul 84 sektor industri.

Dalam masa kepemimpinannya, Mochtar Riady juga memperkenalkan sistem transfer perbankan atau kliring seperti sekarang ini, padahal waktu itu proses transfer uang membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu.

Sementara dalam pemaparannya, Mochtar Riady strategi khusus untuk menghadapi tantangan zaman agar Lippo Group bisa ikut berinteraksi dalam arena globalisasi ekonomi. Hal ini, lanjut dia, dilakukan agar perusahaannya
menjadi perusahaan multinasional yang terus berkembang tanpa tergerus persaingan secara global.

“Jika ingin menjadi wirausaha sukes, tidak hanya pintar melihat peluang, namun juga harus pandai memilih kuda tunggangan yang membantu kita dalam meraih tujuan,”pungkasnya. (■ Wawasan 25 April 2017 hal. 17)

Kategori: