Guru Besar FAD Unika Join Riset Di Jerman
Jumat, 21 April 2017 | 15:53 WIB

Awal Mei 2017 Prof. Dr. -Ing. L. M. F. Purwanto yang merupakan Guru Besar Prodi Arsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata akan mengadakan penelitian bersama dengan peneliti dari Jerman terkait dengan desain arsitektur bangunan dengan fasade kaca.

Saat ditanya tentang latar proses perjalanan dari penelitian ini, Prof. Purwanto begitu sapaannya menjelaskan bahwa sewaktu mengambil dan menyelesaikan studi S-3 di Jerman yang didanai oleh Katholischer Akademischer Ausländer-Dienst (KAAD), Prof. Purwanto tidak langsung lost contact melainkan dari KAAD masih memberikan bantuan buku selama 3 tahun.

Kemudian program yang akan saya ambil ini adalah Re Invitation Programme atau dalam bahasa Jerman bernama Wiedereinladungs-programm yang sebetulnya sudah lama tidak pernah saya ambil walaupun saya selalu dikontak dan diberi kesempatan oleh pihak KAAD untuk bisa datang lagi ke Jerman. Dan sebenarnya saya juga diberi kesempatan untuk ikut Re Invitation Programme setiap 3 tahun sekali,  namun karena kesibukan saya maka baru sekarang bisa saya ambil.

Adapun jangka waktu Re Invitation Programme ini adalah 3 bulan sampai dengan 1 tahun, sedangkan untuk Re Invitation Programme yang besok saya ambil adalah  3 bulan karena menyesuaikan dengan kondisi dan kesibukan saya.

Re invitation Programme ini baru yang pertama kali saya ambil setelah saya lulus S-3 di Jerman. Langkah untuk mendapatkan ini hampir sama dengan langkah yang saya lakukan saat S-3 dulu yaitu pertama saya harus punya Profesor di Jerman yang mau bekerja sama dalam penelitian yang akan saya lakukan, yang kedua ada rekomendasi dari profesor yang ada di Indonesia, dalam hal ini adalah Prof. Dr. -Ing. Gagoek Hardiman dari Undip yang sama-sama lulusan Jerman.

Tahun lalu sebenarnya saya sudah pernah mengajukan ke pihak KAAD tapi mungkin karena kurang lengkap, dengan alasan tidak ada dana maka KAAD menolak permohonan saya. Perasaan saya saat itu, mungkin pengajuan saya tergolong minimalis sehingga akhirnya saya buat perbaikan dan saya lakukan lagi pengisian formulir dengan seakan-akan data saya belum ada disana, kemudian saya melengkapi semua aplikasi ini seperti dulu saya akan mendaftar S-3, seperti : Formulir aplikasi, Curiculum vitae, fotocopy paspor, motivasi kerja, proposal yang dilengkapi dengan time schedule, surat rekomendasi dari Profesor di Jerman, surat rekomendasi dari Prof. Gagoek (Profesor dari Indonesia), surat rekomendasi dari Prof Dr. Y Budi Widianarko selaku Rektor Unika Soegijapranata dan surat rekomendasi dari Romo Paroki.

Dengan pengajuan yang lebih lengkap ini, saya kirim dalam bentuk softcopy dan cetak menggunakan laserprint, sehingga lebih bagus dan gambar-gambarnya lebih jelas, maka 2 minggu lalu saya mendapat kabar bahwa saya mendapatkan beasiswa ini.

Saat ditanya tempat penelitiannya, Prof. Purwanto menjelaskan, “Universitas yang akan saya tuju adalah salah  satu universitas yang menjadi acuan arsitektur yaitu Technische Universität Darmstadt yang letaknya dekat dengan bandara Frankfurt. Disana saya akan melakukan penelitian dengan meminjam laboratoriumnya yang lebih canggih, sekaligus penelitian bersama kemudian menulis  jurnal bersama dengan Profesor dari Jerman,”

“ Judul penelitian saya jika diterjemahkan dari bahasa Jerman kurang lebih artinya adalah Perhitungan Panas Matahari Dalam Bangunan dengan Menggunakan Arsitektur Kaca atau Bangunan yang Banyak Menggunakan Kaca di Semarang Indonesia,” papar Prof. Purwanto.

Ketika ditanya tentang implikasi dari penelitian ini, Prof. Purwanto menjelaskan, “Dari hasil penelitian ini, saya akan memberikan kritik kepada para arsitektur Indonesia bahwa apabila kita banyak menggunakan kaca dalam sebuah bangunan itu, bangunannya jadi panas. Saya akan membuktikan hal tersebut secara ilmiah dan terukur pasti dengan fasilitas laboratorium di Jerman. Saya menengarai panas pada bangunan kaca akan lebih panas di dalam bangunan daripada di luar bangunan,” tuturnya.

“Indonesia itu kekurangan contoh bangunan yang menggunakan arsitektur tropis, banyak orang menggunakan pendekatan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) dan ini sangat berpengaruh dan berdampak apabila tidak ada contoh bangunan tropis yang memiliki kearifan lokal,” imbuhnya.

Saat ditanya tentang motivasi dalam melakukan penelitian bangunan dengan facade kaca ini, Prof. Purwanto menjawab,”Motivasi kerja saya selain menunjang pendidikan saya, saya juga akan mempergunakan ilmu saya ini untuk desain-desain bangunan pada umunya dan juga desain gereja karena saya masih aktif di dalam gereja, keaktifan saya di dalam gereja tidak hanya dalam bidang arsitektur bangunan tetapi saya juga aktif sebagai prodiakon selama 5 periode,” pungkasnya. (Fys)

Kategori: ,