Teknik Sipil Unika Jalin Kerja Sama Dengan Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia
Selasa, 21 Maret 2017 | 8:31 WIB

Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik (FT) Unika Soegijapranata Semarang bekerjasama dengan Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) mengadakan “Roadshow Seminar Nasional Rancang Bangun Konstruksi Baja”  di Ruang Theater Gedung Thomas Aquinas kampus Unika akhir pekan lalu.

Narasumber yang hadir di antaranya Ir. Singgih Wasesa (Chairman Steel Indonesia Institute) dan Ristiara Guntur Nugraha (Engineering Staff of Gunung Steel Construction). Kedua narasumber membawakan beberapa topik antara lain “mengenal lebih dekat rancang bangun konstruksi baja”, “pengenalan produk baja konstruksi”, “teknologi pelapisan anti karat”, “perkembangan peralatan kerja konstruksi”, “manajemen proyek atau manajemen mutu”, “standarisasi bangunan gedung dan jembatan”.

Di sela-sela seminar, dilakukan pula penandatanganan MoU (Memorandum Of Understanding) antara Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) dengan 22 Perguruan Tinggi dan rencana pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa Rancang Bangun Konstruksi Baja (UKM RBKB).   

Chairman Steel Indonesia Institute Singgih Wasesa menyatakan saat ini AMBI bersama Kemristekdikti melakukan riset bentuk kapal nelayan. Selama ini terbuat dari kayu atau fiber namun sedang dicoba dibuat menggunakan pelat baja datar. Program ini sebagai program yang diprakarsai oleh Kementerian Kelautan dengan mencoba membangun 3.500 unit kapal yang akan disebar di seluruh Indonesia.

“Ketika kapal diproduksi secara besar-besaran dalam suatu tempat, tentunya muncul tanda tanya mengenai proses distribusi dari pabrik produksi menuju tempat-tempat yang membutuhkan. Masalah tersebut saat ini telah didapat solusi yaitu bahan baku yang telah diproduksi didistribusikan sebagai ­pre-engineering building yang akan mengalami  proses assembling di tempat-tempat yang dekat dengan pihak penerima kapal. Misalnya saja dari pihak AMBI bekerjasama dengan UKM RBKB Unika Soegijapranata untuk menghimpun beberapa bengkel yang sanggup untuk diajak bekerjasama. Beberapa pihak yang sanggup, akan dibina cara-cara mengassembling kapal. Dari solusi yang ada telah menumbuhkan beberapa peluang kerja baru. Apabila hal ini benar-benar dijalankan, tugas dari AMBI hanya “mengamen” pada pihak kementerian dengan menunjukkan hasil berupa prototype yang telah dihasilkan oleh mahasiswa” ujar Singgih Wasesa.

Selama ini, tambah Singgih, pihak kementerian  banyak membangun proyek baik dalam wujud jembatan maupun jalan. Proyek ini juga dibantu dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan yang bisa menghemat anggaran daerah. Karena dana CSR merupakan dana yang tidak masuk alokasi pajak dan tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam pemasukan perusahaan sehingga dana CSR harus dihabiskan.

Adapun dari pihak AMBI, selama ini telah memfasilitasi mahasiswa dalam forum online di www.infoambi.com untuk saling tukar pikiran antar mahasiswa Teknik Sipil se-Indonesia.

“Baja merupakan produk jadi yang dihasilkan oleh pabrik sehingga dalam menangani baja, pekerja butuh ketelitian tinggi. Untuk itu, diperlukan tim engineering  yang kuat untuk mengolah baja dari input sampai output di lapangan. Jadi, untuk pemakaian bahan baja jangan lagi ada quality design. Jika di lapangan masih ada proses modifikasi berarti proyek yang dijalankan tidak sukses karena pemakaian baja sungguh menjaga quality dari baja tersebut. Baja sendiri membutuhkan ketelitian, jika ada salah proses misalnya salah drilling 2 mm dari posisi yang telah ditentukan maka seluruh bahan baja harus diganti 1 material. Saat ini banyak program yang dapat mendukung seperti SAP 2000, Auto CAD, Start pro, Midas, Lincoln, Ms. Tower, Auto CAD, Tekla Structure, BOCAD dan lainnya tetapi jangan menjadikan program tersebut sebagai yang utama karena seorang engineer bukan seorang operator program dan sejatinya program-program tersebut hanyalah alat bantu” jelas Ristiara Guntur Nugraha. (►http://www.kampussemarang.com)

Kategori: