RI Perlu Segera Gunakan Energi Baru Terbarukan
Senin, 20 Maret 2017 | 8:32 WIB

Dr Tomasz Andrzej Siewierski dosen Lodz University of Technology Polandia

Pakar bidang energi (kelistrikan) yang juga dosen Lodz University of Technology Polandia Dr Tomasz Andrzej Siewierski berpendapat pemerintah Indonesia perlu segera mengambil langkah strategis serta cepat dalam menerapkan penggunaan energi baru terbarukan. Tujuan utamanya untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil seperti minyak dan batubara. Misalnya tenaga surya, angin, air dan lain-lain yang sangat berlimpah di Indonesia. Bila tidak segera dilakukan, ada kemungkinan Indonesia akan mengalami krisis energi sejalan dengan semakin meningkatkan kebutuhan masyarakat akan energi di era modern ini.

Dr Tomasz Andrzej Siewierski menyampaikan hal tersebut di hadapan eserta kuliah umum tentang “New and Renewable Energy” yang diselenggarakan Prodi Teknik Elektro Fakultas Teknik Unika Soegijapranata Semarang di kampus Jalan Bendan Duwur Semarang, Kamis sore (16/03/2017). Pembicara lainnya adalah Kaprodi Teknik Elektro Unika  Soegijapranata Dr Ir Budi Setiawan MT.

Menurut pakar energi Polandia ini, seperti halnya Negara Polandia yang masih sangat tergantung sumber energinya dari bahan fosil (Polandia hanya punya batubara dan 90 persen enrgi nasionalnya bergantung pada batubara), Indonesia juga mengalami hal serupa karena selama ini masih tergantung pada sumber energi fosil seperti minyak, batubara dan lain-lain. Walau tidak mudah, Indonesia perlu segera siap dan beralih ke reaktor (sumber) energi yang lebih banyak menghasilkan energi (listrik), lebih efisien, dan lebih ramah lingkungan seperti misalnya tenaga surya, angin, dan lain-lain. Banyak negera di dunia ini, termasuk Polandia dan Indonesia, menghadapi tantangan yang serupa terkait dengan semakin meningkatnya kebutuhan energi yang bersih dan terjangkau harganya bagi masyarakat.

“Keputusan harus dilakukan dengan cepat dan segera dijalankan agar tidak terlambat guna beralih ke energi baru terbarukan seperti air, angin, surya dan lain-lain. Apalagi kalau ingin pula membangun reaktor listrik tenaga nuklir, perlu waktu minimal 10 tahun untuk membangunnya sehingga bila tidak cepat diputuskan maka kebutuhan enegri 10 tahun ke depan juga semakin meningkat dan bisa menjadi masalah lagi” tandas Dr Tomasz Andrzej Siewierski. (►http://www.kampussemarang.com)

Kategori: