Pembangunan Sering Remehkan Ruang Kosong
Selasa, 21 Maret 2017 | 9:15 WIB

SM 20_03_2017 Pembangunan Sering Remehkan Ruang KosongMahasiswa bidang arsitektur, setelah lulus diharapkan berkeinginan membangun gedung berbasis ramah lingkungan, tanpa mengesampingkan aspek arsitekturnya.

Hal itu disampaikan praktisi arsitek, Yu Sing dalam seminar yang diselenggarakan Program Studi Arsitektur, Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata di ruang teater gedung Thomas Aquinas Unika Soegijapranata, baru-baru ini.

Selain Yu Sing, seminar dengan tema ”Arsitektur Remeh Temeh”, juga menghadirkan praktisi arsitek Universitas Palangkaraya Wijanarka. Menurut Yu Sing, arsitektur sering kali diremehkan, padahal karya arsitektur dapat berdampak baik ataupun sebaliknya merusak.

”Maka kita harus lebih peka terhadap arsitektur, terlebih ruang lingkup pelayanan arsitektur cenderung lebih melayani kalangan menengah ke atas padahal itu hanya 10 persen saja, sedangkan yang 90 persen adalah kalangan menengah ke bawah yang belum terlayani dengan baik, yang dimaksud adalah apakah arsitektur bisa melayani kalangan menengah ke bawah dengan cara tetap menjadi karya bangunan yang ramah lingkungan, terjangkau, mempedulikan ruangruang ekosistem alam yang lain dan material lokal,” tutur Yu Sing.

Menurutnya arsitek memiliki beban berat karena dia bisa memperindah kota tetapi sekaligus juga bisa merusak, tergantung bagaimana memposisikan diri dan belajar. Sebagian besar kota-kota besar di Indonesia diniainya sudah rusak karena kesalahan dalam menata kota yang terlalu berorientasi bangunan.

Hal itu meremehkan keberadaan ruang kosong atau ruang alam. ”Sehingga kota-kota besar sangat kekurangan ruang terbuka hijau, ruang biru dan sebagainya.

Oleh karena itu kami berharap banyak pada mahasiswa lebih peka, punya wawasan dan sikap supaya saat menjadi seorang arsitek bisa menghadapi permintaan klien yang kadangkadang juga tidak mempedulikan hal-hal itu, ” tambahnya.

Kearifan Lokal

Sementara Wijanarka mengungkapkan dalam proses berkarya, arsitek bisa melakukan penggalian kearifan lokal yang telah berkembang.

Misalnya penggalian soal bagaimana menghadapi kenaikan air laut. ”Dalam arsitektur berbasis air itu intinya ada tiga bentuk yaitu bertiang, terapung dan amphibi (bisa naik turun).

Selama ini kampung-kampung di Kalimantan itu selalu bertiang, walaupun untuk saat ini harus dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan.

Sementara di pesisir Jawa mulai banyak yang bertahan menghadapi kenaikan muka air laut dengan cara menimbun, yang bersifat sementara,” tutur dia. (►http://berita.suaramerdeka.com, Suara Merdeka 20 Maret 2017, hal. 22)

Kategori: ,