Kebhinekaan Berbingkai Toleransi oleh Drs. Ign. Dadut Setiadi, MM.*
Jumat, 3 Maret 2017 | 12:29 WIB

Inspirasi 150-XIII-Februari 2017 Kebhinekaan Berbingkai ToleransiIndonesia merupakan negara terbesar ke-4 dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta di dunia setelah Cina yang berpenduduk sekitar 1,2 milyar, India dengan penduduk sekitar 1,06 milyar, dan AS dengan penduduk sekitar 294 juta. Tidak dipungkiri lagi Indonesia menjadi negara urutan pertama yang penduduknya menganut agama Islam dengan jumlah sekitar 199 juta atau 85 persen dari jumlah penduduknya dan selebihnya menganut agama Buddha, Hindu, Katolik, Kristen, Konghucu dan aliran kepercayaan. Indonesia mempunyai suku berjumlah lebih kurang 1128 suku. Dengan melihat data tersebut Indonesia merupakan negara yang memiliki ragam budaya dan agama cukup banyak serta heterogenitas yang luar biasa sehingga munculah keberagaman atau kebhinekaan. Maka tidak bisa dipungkiri lagi akan muncul kelompok mayoritas dan minoritas. Hal ini apabila tidak dijaga akan menimbulkan kesenjangan di berbagai aspek seperti ideologi, sosial, politik, budaya, keamanan sampai dengan ekonomi.

Kebhinekaan bukan hal yang asing di Indonesia karena negara kita memiliki potensi tersebut dengan jumlah penduduk, suku dan agama yang cukup banyak dan tumbuh subur dibanding negara lain. Kelimpahan dan berkat (banyaknya penduduk, suku dan agama) merupakan anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada Indonesia yang mestinya dijaga dan dirawat dengan baik agar kehidupan rakyat Indonesia tetap tenang dan nyaman. Maka, keragaman (kebhinekaan) haruslah dibingkai atau dijaga dengan sebuah sikap dan tindakan yang disebut toleransi.

Kehidupan toleransi sejak zaman dulu sudah muncul di bumi Indonesia. Toleransi dapat diartikan dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelom.pok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Toleransi di Indonesia selalu dihidupi dan diusahakan oleh para pemimpin negara maupun pemimpin agama, maka di negara Indonesia perlu dijaga dan dilestarikan 2 (dua) model toleransi yaitu toleransi umat beragama dan toleransi sosial.

Toleransi umat beragima lebih mengedepankan. sikap saling menghargai para pemeluk agama dan tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama yang sama dengan dirinya sera tidak mencela dan menjelekkan agama orang lain. Sedangkan toleransi sosial lebih mengutamakan kepada kelompok mayoritas untuk menghargai kelompok minoritas di dalam masyarakat. Dalam kehidupan politik saat ini pun haruslah diusahakan adanya toleransi politik bagi para pegiat politik dalam berbagai partai yang ada di Indonesia.

Di bumi pertiwi yang kita cintai kadang terjadi gesekan-gesekan yang diakibatkan munculnya pemicu adanya pertentangan dan pertikaian yang mudah meletup apabila dikaitkan dengan isu agama. Kadang beberapa oknum menggunakan isu agama untuk menjadi alat pemicu konflik. Mengapa agama dijadikan kambing hitam? Padahal dalam kehidupan agama ada 2 dimensi yaitu pribadi dan kelompok. Dua dimensi tersebut sangat mudah diusik karena agama menyangkut keyakinan pribadi yang hakiki pada setiap orang dan tidak bisa diintervensi baik pribadi, kelompok maupun negara.

Solusi yang sebenarnya terletak pada niat baik pemerintah dan rakyat untuk menghidupi bangsa ini dengan aman dan nyaman dan sekali lagi toleransi adalah kata kunci yang harus selalu dijaga dan dirawat untuk ditumbuhkan secara terus menerus dalam masyarakat. Contoh yang paling mudah adalah dengan dialog karya, sebuah kegiatan yang melepas segala atribut baik dari strata sosial, ekonomi, politik dan agama untuk mengadakan kegiatan sosial yang mengedepankan pada kohesivitas atau kehangatan untuk saling memberi dan menerima dengan kerendahan hati bahwa kita semua sebagai manusia mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Pendidikan kunci utama
Sikap toleransi dapat dikembangkan dan dilestarikan melalui model dan sistem pendidikan karakter atau kepribadian. Pendidikan pertama yang harus ditekankan adalah mengedepankan sikap menghargai hakikat manusia. Meminjam istilah Romo Drijarkara, SJ, sikap ini biasa disebut memanusiakan manusia yang diharapkan dapat diajarkan sejak muda,. Hal ini haruslah dilaksanakan sejak dalam keluarga ketika orang tua membekali kehidupan agama pada orang muda. Dan kita sebagai orang yang lebih dewasa haruslah memberikan contoh bagaimana kita menjalankan kehidupan agama dengan tindakan-tindakan yang nyata bukan dengan teori-teori saja.

Pendidikan yang kedua dilakukan dengan menanamkan sikap positif, maksudnya adalah dalam pikiran manusia harus selalu ditanamkan sikap positif jadi selalu memikirkan hal-hal yang baik saling menghargai, membantu, melayani dan lain sebagainya. Pendidikan ketiga adalah pendidikan religiusitas karena dalam pendidikan itu selalu mengedepankan tentang penyadaran dalam diri dan perilaku manusia yang sempurna sebagai ciptaan Tuhan dalam menghadapi kehidupan masyarakat yang heterogen dan kompleks.

Sejak kecil, anak-anak harus dikenalkan dengan sikap menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di dalam keluarga. Karena kita semua yakin dengan pendidikan toleransi yang dimulai dari keluarga niscaya ketika seorang anak keluar dalam lingkup kehidupan keluarga, anak akan mampu menghadapi perbedaan dan keragaman dengan pengalaman kehidupan toleransi dalam keluarga.

Dewasa ini perkembangan teknologi sangatlah mempengaruhi sikap hidup manusia. Tergantung manusianya, teknologi bisa menjadi alat untuk berkomunikasi yang menimbulkan provokasi negatif atau teknologi dapat digunakan sarana komunikasi menyebarkan kedamaian dan sukacita. Sebagai pribadi yang selalu ingin mengusahakan dan menjaga toleransi, perkembangan teknologi sangatlah membantu dalam menyebarkan informasi hal hal yang baik dalam menjaga nilai kebhinekaan dan toleransi.

Salah satu contoh yang sangat sederhana adalah mengirimkan ucapan selamat saat peringatan hari agama (Idul Fitri, Natal, Waisak, Galungan) pemeluk agama lain yang merayakannya dengan menggunakan SMS, WA, BBM, e-mail dan lain sebagainya. Orang tua sebaiknya memberi contoh kepada generasi muda supaya selalu memberikan contoh dengan karya nyata bukan mengajarkan teori-teori saja.

Dengan karya atau dialog karya orang-orang muda bisa menangkap dengan baik pesan tersebut baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja maupun masyarakat. Kebhinekaan di negara kita tercinta Indonesia ini adalah sebuah karunia dari Tuhan dan tidak dimiliki oleh negara manapun, maka haruslah kita jaga dan kita rawat dengan sebuah bingkai yang bernama toleransi. Dalam hal ini pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia harus semakin menyadari bahwa kita semua diciptakan oleh Tuhan sebagai mahluk ciptaan yang paling sempurna maka sudah sewajarnya kebhinekaan yang ada di bumi Indonesia ini harus tetap dijaga dengan dibarengi toleransi yang selalu terus diusahakan keberadaannya dalam kehidupan masyarakat.

*Penulis adalah Anggota The Soegijapranata Institute Unika Soegijapranata

(â–ºMajalah Inspirasi No. 150 Tahun XIII Februari 2017)

Kategori: ,