Inginkan Jadi Pemain Global, Unika Menuju Akreditasi Asean
Selasa, 7 Maret 2017 | 8:18 WIB

KampusSemarang 2_03_2017 Inginkan Jadi Pemain Global, Unika Menuju Akreditasi AseanWakil Rektor I (Bidang Akademik) Unika Soegijapranata Semarang Dr Augustina Sulastri, S.Psi., Mpsi menyatakan user alumni perguruan tinggi (PT) atau perusahaan/industry meng-hire (menjadikan karyawannya) fresh graduate tidak hanya karena factor IPK saja tetapi juga factor lain seperti kredibilitas prodi atau universitas tempat calon karyawan menempuh studi.

“Pada tahun 2001, saya pernah mengikuti workshop tentang talent scouting. Dalam workshop, saya ingat adanya salah satu pengakuan dari para perusahaan bahwa seringkali mereka hire fresh graduate tidak hanya memperhatikan IPK, tetapi juga kredibilitas dari universitas atau program studi fresh graduate itu berasal. Hal itu cukup mencengangkan saya yang berarti user memiliki kesan setiap fresh graduate dipertanggungjawabkan oleh universitas atau prodi tempat mereka menimba pendidikan. Untuk itu, sejak saya dipercaya menjadi dosen dan salah satu pejabat struktural, salah satu perhatian saya bahwa pentingnya tata kelola suatu organsisasi dalam setiap bidang” ujar WR I Unika Dr Augustina Sulastri, S.Psi., Psi saat memberikan sambutan mewakili Rektor pada pembukaaan “Sosialisasi Sistem Penjaminan Mutu Internal dan Refreshing Internal Auditor Mutu Akademik” yang diselenggarakan LPM (Lembaga Penjaminan Mutu) Unika Soegijapranata belum lama ini.

WR I Unika seraya mengutip ucapan Rektor menyatakan penyerahan sertifikat akreditasi institusi peringkat A pada Unika sebagai kebangaan. Namun juga sifatnya adalah siklus mengenai bagaimana Unika menjamin penyelenggaraan pendidikan sehingga Unika layak mempertahankan akreditasi tersebut hingga 5 tahun ke depan. Selain itu Rektor juga menyampaikan akreditasi yang diperoleh saat ini menjadi cikal bakal siklus penyelenggaraan pendidikan yang menjamin Unika bisa menjadi pemain di tingkat global. Untuk itu, tujuan Unika saat ini, tidak hanya puas dengan menggenggam akreditasi A, tapi juga harus menyasar AUN (Asean University Network)” jelas Dr. Augustina Sulastri, S.Psi Psi.

Acara sosialisasi tersebut menghadirkan narasumber Dr. Ir. J. P. Gentur Sutapa (Staf Kantor Jaminan Mutu Universitas Gajahmada Yogyakarta, Tim Pengembang Sistem Penjaminan Mutu Direktorat Pendidikan Tinggi, dan Assessor Asean University Network). Acara dihadiri para pimpinan universitas dan pejabat struktural baik Fakultas, Biro, maupun UPT serta kelembagaan di lingkungan Unika Soegijapranata.

“Berdasarkan Undang Undang No. 12 tahun 2012 Bab III, setiap perguruan tinggi diharuskan menerapkan sistem penjaminan mutu baik PTN maupun PTS. Akreditasi institusi dinilai berdasar 25 standar dan akreditasi program studi dinilai berdasar 11 standar. Saat ini sistem penilaian yang berstandar AUN mulai diterapkan dikarenakan sudah banyak negara lain seperti Vietnam dan Cina yang telah secara massive menerapkannya. Sistem Penjaminan Mutu sendiri terdiri dari Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME), dimana akreditasi merupakan salah satu contoh SPME dan diperlukan adanya keseimbangan antara SPMI dan SPME. Saat ini, peran pengembangan penjaminan mutu tahap awal lebih banyak didominasi oleh pemerintah dibandingkan perguruan tinggi” ujar WR I.

Sementara itu menurut Dr. Gentur, untuk ke depan, peran perguruan tinggi lebih diperbanyak dalam pengembangan penjaminan mutu karena menurutnya momen akreditasi A yang diperoleh Unika Soegijapranata merupakan momen yang bagus. Dengan ini, diharapkan semakin meningkatkan kualitas yang komprehensif secara bersama-sama. Untuk proses akreditasi sendiri, dari assessor juga ingin melihat bukti sebagaimana dalam penjaminan mutu yang lebih dipentingkan bukan hanya sekedar unitnya melainkan juga ada kegiatan penjaminan mutu. Misalnya dari standar dosen, dari proses recruitment hingga pengakhiran hubungan kerja bisa dibuat menjadi beberapa standar. Dari pihak DIKTI juga telah dibuat SPMI meski tidak dibuat secara mendetail, karena DIKTI menyadari perlu adanya penerjemahan kembali hingga dapat diimplementasikan sesuai nilai universitas.

Akreditasi di Masa Depan

Lebih lanjut menurut Dr Gentur, untuk akreditasi ke depannya, yang dinilai bukan hanya pada pemenuhan tiap standar akan tetapi lebih pada hubungan kesinambungan antar standar. Misalnya saja yang dilihat ke depannya bukan jumlah doktor yang ada di tiap universitas akan tetapi lebih pada jumlah karya yang dihasilkan oleh para doktor. Untuk itu, tujuan yang utama sendiri mengenai apa yang dipelajari oleh mahasiswa bukan apa yang diajarkan dosen bahkan kampus bukan hanya tempat dosen mengajar lebih dari itu, kampus sebagai tempat mahasiswa belajar. Untuk sisten penjaminan mutu sejatinya hanya membutuhkan 2 dokumen mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukan.

“Untuk ke depannya, peraturan tentang penjaminan mutu diharapkan semakin sedikit, sehingga bisa dilihat berbagai universitas di luar negeri yang tidak memiliki sistem penjaminan prosedur akan tetapi dosen dan karyawan melakukan berbagai peraturan. Ini berarti sudah ada internalisasi yang diharapkan dan perlu ditekankan bahwa audit mutu bukan mencari kesalahan melainkan mencari ruang peningkatan mutu. Untuk itu, audit mutu yang baik, dapat membuat suatu lembaga yang diaudit tidak memiliki perasaan diaudit dan hal ini perlu dilatih pemilihan diksi yang baik. Di Universitas Gajahmada audit mutu telah dilakukan di semua unit, baik itu di tingkat progdi, fakultas, laboratorium, Unit Kegiatan Mahasiswa sampai dengan lingkungan terkait” ujar dr Gentur.

Mengenai SPME, tambah Gentur, untuk akreditasi ke depan, nilai akreditasi yang dihasilkan bukan A, B, C melainkan unggul dan baik dimana predikat baik merupakan predikat yang paling rendah. Selain itu, untuk akreditasi institusi ke depan tetap diassessment oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), sedangkan akreditasi fakultas dan program studi bisa melalui masyarakat, pemerintah, dan BAN-PT” jelas Dr. Gentur Sutapa.(►http://www.kampussemarang.com)

Kategori: