Fasilitas Kesehatan Malaysia Lebih Lengkap ■ KKL Mahasiswa Magister Hukum Kesehatan Unika
Senin, 13 Maret 2017 | 11:40 WIB

Sejumlah 38 Mahasiswa Magister Hukum Kesehatan Unika Soegijapranata mempresentasikan hasil KKL di University Kebangsaan Malaysia (UKM) dan National University of Singapore(NUS).

Mereka melakukan hal itu di hadapan dosen dan mahasiswa dalam sebuah seminar bertajuk ”Belajar model dan regulasi pelayanan kesehatan di negeri jiran” di ruang teater Thomas Aquinas, Jumat (10/3). Seminar ini dimoderatori wartawan Suara Merdeka Triyanto Triwikromo.

Kelompok KKL angkatan 23 tersebut terbagi dalam empat kelompok. Setiap kelompok mempresentasikan hasil kunjungan tersebut dengan  membandingkan pelayanan kesehatan di dua negara tersebut dengan di tanah air.

Salah satu permasalahan yang muncul tentang kemampuan rumah sakit di Malaysia yang dapat menyediakan beragam alat kesehatan untuk keperluan diagnostik dengan biaya yang relatif murah dibandingkan di Indonesia. Selain itu karena fasilitas terapi lengkap pasien tidak perlu dirujuk kesana kemari untuk pemeriksaan.

Menambah Pengalaman
”Hal ini wajar karena di negara tersebut untuk impor atau pengadaan alat-alat kesehatan mendapat fasilitas dari pemerintah dan tidak dikenakan pajak. Ini berbeda dengan di Indonesia yang pajaknya tinggi. Hal ini juga menjadi penyebab mengapa biaya rumah sakit di sini lebih mahal,” ungkap Budi Laksono, perwakilan dari Kelompok II saat presentasi.

Sementara juru bicara kelompok I, Pradana menyoroti pendidikan kedokteran di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Ia menyatakan lama pendidikan kedokteran di Malaysia hampir sama. Perbedaan terletak pada waktu  internship untuk Malaysia 2 tahun sedangkan Indonesia 1 tahun.

”Kurikulum Malaysia pada mata kuliah hukum kesehatan, mahasiswa hanya belajar hukum selama 5 semester sedangkan di Indonesia hanya satu semester,” jelasnya.

Juru bicara kelompok II, dr Riko Natalio Fajar mengemukakan pelayanan kesehatan di Malaysia sudah menjadi semacam industri. Di negara tersebut memiliki layanan kesehatan dengan mengoperasikan dua sistem yakni kesehatan umum oleh pemerintah serta sistem  kesehatan swasta yang bisa berjalan berdampingan.

Juru bicara kelompok IV dr Antoni menyebutkan Advanced Surgical Skills Centre (ASSC)di University Kebangsaan Malaysia (UKM) dilengkapi simulasi digital teknologi tinggi, sedangkan di Indonesia metode penyampaian materi pelatihan menggunakan kuliah interaktif dan workshop di Skills Lab.

Ketua Program Studi Magister Hukum Kesehatan Unika Soegijapranata, Prof Dr Agnes Widanti mengungkapkan kegiatan KKL ini dimaksudkan agar mahasiswa memiliki wawasan terutama soal pengelolaan kesehatan di negeri jiran. (►Suara Merdeka 11 Maret 2017, hal. 22)

Kategori: