Unika Bekali Tenaga Kependidikannya Dengan Leadership
Senin, 13 Februari 2017 | 15:21 WIB

Pelatihan di PurbadanartaLPSDM (Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia) Unika Soegijapranata mengadakan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Madya Tenaga Kependidikan Unika Soegijapranata bertempat di Wisma Purba Danarta selama 2 hari, Jumat (10/2) – Sabtu (11/2). Dalam acara pelatihan ini, turut diundang beberapa pembicara untuk menyampaikan materinya antara lain : Prof. Dr. Y. Budi Widianarko, MSc. ; Valentinus Suroto, SH, M. Hum ; Thomas Budi Santoso M.SI, Ed. D ; Dr. M. Sih Setija Utami, M. Kes. ; dan Ferdinandus Hindiarto, S.Psi, M.Psi.

“Acara pelatihan ini dihadiri sebanyak 41 orang Tenaga Kependidikan Unika Soegijapranata. Di acara kepelatihan ini, ada hal yang menarik bagi LPSDM dimana ada beberapa unit kerja yang mengirimkan stafnya untuk mengikuti kegiatan kepelatihan ini meskipun usianya sudah tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan sejak awal. LPSDM menyambut baik hal ini yang berarti ada kebutuhan bagi kelangsungan pengembangan Unika Soegijapranata” jelas Valentinus Suroto, SH, M. Hum  sebagai Kepala LPSDM Unika Soegijapranata.

Sebagai pembicara pertama, Prof. Budi Widianarko selaku Rektor Unika Soegijapranata memberikan materi “The Future Organization The Leader Of Future”. Dalam materinya, Prof. Budi membuka dengan cerita dalam sebuah buku mengenai Burung Camar yang pada umumnya terbang untuk mendapatkan makanan kemudian kembali lagi ke sarangnya. Bagi sebagian besar Burung Camar yang lebih penting adalah makan dibanding proses terbang untuk mendapatkan makanan. Tetapi, ada 1 Burung Camar yang lebih mementingkan proses terbang dibanding mendapatkan makanan dan Burung Camar tersebut bernama Jonathan Livingstone. Kalau misalnya Burung Camar yang lain terbang mendapat makanan, berbeda dengan Jonathan Livingstone yang mencoba terbang ke berbagai arah. Hingga pada satu saat, Jonathan disidang atas tingkah lakunya. Tidak berhenti disitu, Jonathan meneruskan kebiasaan anehnya untuk terbang ke berbagai arah dengan manuver-manuvernya hingga berjalannya waktu kebiasaan Jonathan diikuti oleh beberapa Burung Camar muda hingga akhirnya diikuti juga oeh Burung Camar dewasa lainnya. Menurut, Prof. Budi peran leader kurang lebih hampir sama seperti yang dilakukan oleh Jonathan.

Tidak hanya isi buku mengenai Jonathan Livingstone, akan tetapi Prof. Budi juga menceritakan  tentang cara mendapatkan buku tersebut yang dipandang cukup menarik sehingga bisa disebut sebagai “destiny“. Buku tersebut didapat saat pertama kali bekerja di Unika Soegijapranata, Prof. Budi mendapat buku Jonathan Livingstone tersebut dari Rm. Paulus Wiryono.

Visi, Misi dan Goals

Lebih lanjut Prof. Budi menjelaskan, “Dalam titik ini, Unika memerlukan calon pemimpin. Jiwa pemimpin sendiri bisa diperoleh melalui “destiny“. Dari “destiny” bisa memiliki motif bermacam-macam, ada tujuan yang memang telah direncanakan sedari awal dan ada pula istilah mendapat “durian runtuh” atau secara kebetulan. Bagi saya, menjadi pimpinan bukan secara kebetulan atau mendapat durian runtuh melainkan sesuatu yang harus kita sadari. Untuk itu, seorang Pemimpin sendiri harus bekerja dengan memiliki Visi : kemana kita akan menuju? ; Misi : mengapa kita ada? ;  Goals : keberhasilan apa yang harus kita capai ?. Semuanya berawal dari misi : mengapa kita ada? setelah itu dilanjutkan dengan visi : ke mana kita akan menuju barulah goals : keberhasilan apa yang harus dicapai terjawab. Kalau misalnya misi anda hanya mencari nafkah, visinya ingin memiliki mobil misalnya, maka Unika akan menghormati itu tapi anda bukan leader. Leader sendiri suatu kualitas yang berbeda lebih dari itu dan semua orang punya kesempatan. Baik Vision for the future ; Mission for the present ;  Goals for target dimana ketiganya dibungkus oleh nilai inti (core values). Core Values begitu dilanggar, akan menimbulkan sanksi yang berat. Jiwa seorang leader akan mulai muncul apabila seseorang telah memikirkan kepentingan organisasi yang ia ikuti. Untuk itu, apabila semua orang memikirkan kepentingan organisasinya seperti misalnya kepentingan universitas, menurut saya universitas tersebut akan maju” jelasnya.

Masih melanjutkan ceritanya, “Dari tahun 2013-2017, Prof. Budi mengharapkan Unika agar “lebih dari biasa” dimana segala masalah dasar harus terselesaikan seperti seimbangnya rasio dosen dan mahasiswa. Dari “lebih dari biasa” itulah Unika akhirnya bisa menorehkan beberapa prestasi. Selain itu, “lebih dari biasa” membawa kabar yang cukup unik bagi Unika dimana Kampus BSB yang sedang dalam tahap perencanaan memiliki bentuk U “U- Shaped Unika” yang bisa diartikan Unika merupakan “U- Shaped University” atau universitas berbentuk U bisa juga dimaknai “U (You) Shaped Unika” atau “kita semua yang membentuk universitas”.

“Menurut impian saya, Unika Soegijapranata di tahun 2030 saya harapkan memiliki 30.000 mahasiswa dengan 1.000 mahasiswa asing dan dilayani oleh 800 orang dosen dan 300 tenaga kependidikan. Tapi tentunya, tidak bisa dilupakan bahwa kemajuan Semarang juga membawa kemajuan bagi Unika. Kita sendiri cukup berbangga, Kota Semarang berhasil memperoleh peringkat ke-5 kota pariwisata terbaik Indonesia 2017; Kota dengan sistem tata kelola terbaik no-2 di Indonesia dengan di dukung bandara tercantik di Indonesia yang dikelilingi oleh laut dan BSB, kampus baru Unika hanya berjarak 9 km dari bandara. Selain itu, Unika di tahun 2030 juga memiliki multiple campuses (kampus jamak), dwi bahasa; sistem belajar online dan hybird, memiliki program kuliah sarjana, master dan doktoral “pungkas Prof. Budi. (Cal)

Kategori: ,