Minim, Swasta Berakreditasi A di Jateng
Selasa, 21 Februari 2017 | 12:01 WIB

Kompas 21_02_2017 Minim, Swasta Berakreditasi A di Jateng

Dari 251 perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah, baru satu yang mendapat nilai A. Kurangnya publikasi ilmiah, keterbatasan sarana dan prasarana, serta tata kelola yang belum baik jadi kendala utama bagi pengelola PTS.

Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VI Jateng Sugiharto, Senin (20/2), di Semarang, mengatakan, proses akreditasi untuk mendapatkan nilai A cukup sulit dan memakan waktu enam bulan.

"Beberapa kendala antara lain minimnya publikasi ilmiah dan tata kelola yang belum baik," ujamya di sela-sela serah terima Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi dengan nilai A. kepada Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Senin.

Menurut Sugiharto, untuk menyandang gelar terakreditasi A, setiap perguruan tinggi harus mendapatkan nilai minimal 360 poin. Nilai itu ditunjang hasil akreditasi setiap program studi.

Secara umum, status 251 perguruan tinggi swasta (PTS) di Jateng telah terakreditasi. Namun, baru Unika Soegijapranata yang terakreditasi A Sementara itu, 23 PTS terakreditasi B dan 20 PTS terakreditasi C.

Kopertis Wilayah VI Jateng menargetkan empat PTS terakreditasi A pada 2017. Selain Unika Soegijapranata, tiga PTS lainnya adalah Universitas Dian Nuswantoro (Semarang), Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan UniVersitas Kristen Satya Wacana (Salatiga). Untuk mencapai target itu, Kopertis memberi pendampingan khusus, seperti dalarn penyusunan visi dan misi serta kurikulum pendidikan.

Kepala Seksi Penilaian Kinerja Perguruan Tinggi Direktorat Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Dian Indra yang hadir saat itu mengatakan, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tengah menyusun standar dan prosedur akreditasi perguruan tinggi terbaru. Standar akreditasi akan dinaikkan dari 7 menjadi 9 kriteria "Penambahan kriteria untuk meningkatkan mutu Perguruan tinggi," katanya.

Rektor Unika Soegijapranata Y Budi Widianarko menilai, pencapaian akreditasi nasional belum cukup bagi perguruan tinggi di tengah persaingan global. Unika Soegijapranata, misalnya, akan meningkatkan kualitas untuk memperoleh akreditasi tingkat regional dan internasional. Hal itu guna memperluas pasar, terutama ke China dan India.

Menurut dia, penggunaan bahasa Inggris menjadi kendala utama lolos akreditasi ditingkat regional dan internasional. Hal ini terkait kesiapan dosen dan program studi mempersiapkan kurikulum dan metode pengajaran berbasis internasional. terkait hal ini, Unika Soegijapranata berencana membuka kelas internasional untuk sejumlah program studi mulai 2018. (â–ºKompas 21 Februari 2017, hal. 24)

Kategori: