Jangan Biarkan Ayam Mati di Lumbung – Refleksi Karya 2017 Unika
Selasa, 28 Februari 2017 | 9:28 WIB

SM 28_02_2017 Jangan Biarkan Ayam Mati di Lumbung - Refleksi Karya 2017

BANYAK yang tidak percaya dan bertanya-tanya, Wonosobo yang memiliki destinasi wisata terkenal hingga ke mancanegara, termasuk kabupaten termiskin di Jawa Tengah.

Data penduduk miskin di angka 22,08 persen itu menempatkan Wonosobo berada di urutan paling buncit, karena berada di bawah persentase kemiskinan Provinsi Jateng 14,44 persen dan nasional 11,47
persen. Adakah yang salah dengan angka yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik itu?

Sejumlah indikator yang ada membuat Wonosobo dikatakan Kabupaten termiskin. Timbul pertanyaan tingginya angka kemiskinan itu dilihat dari indikator apa? Bila dikatakan miskin, dilihat dari aset wisata mampu menghasilkan pendapatan, rumah-rumah di desa sudah mulai bagus, kendaraan roda dua dan empat bertebaran dan sebagainya.

Bardasarkan temuan data itulah, Unika Soegijapranata terpanggil untuk peduli dengan kondisi masyarakat di kabupaten yang diapit Gunung Sindoro dan Sumbing itu.

Kondisi warga di sini bisa diibaratkan ayam mati di lumbung padi. ”Untuk itu, jangan biarkan ayam mati di lumbungnya. Kita semua bersama-sama dipanggil untuk memberdayakan masyarakat di Wonosobo ini. Agar mampu bangkit dari angka kemiskinan,” kata Rektor Unika Prof Y Budi Widjanarko, dalam sarasehan di Hotel Kresna, Sabtu (25/2).

Acara dihadiri Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagyo, Ketua PSE Keuskupan Agung Semarang Romo Alexius Dwi Aryanto Pr dan Romo Yohanes Gunawan Pr.

Menurut Rektor, mengapa dengan potensi begitu besar yang ada di hampir sebagian besar di wilayah ini, Wonosobo masuk dalam kategori miskin. Hal ini tentu menyiratkan ada sesuatu yang kurang beres.

Untuk mengetahui persoalan dan permasalahan tersebut. Para dosen dan tenaga kependidikan peserta ”Refkeksi Karya 2017”yang jumlahnya mencapai 400 orang disebar ke 12 wilayah desa. Di situ mereka berdiskusi dengan perangkat dan lembaga-lembaga masyarakat.

Kegiatan yang digelar Universitas satusatunya terakreditasi A di Jateng ini, diadakan tiap tahun menjelang tahun akademik baru ini. Tujuannya menguatkan dan menyatukan makna kerja serta kebersamaan membangun organisasi institusi pendidikan tinggi.

Tema karya tahun ini adalah ”Peduli, Aktif dan Bermakna”diadakan 24-25 Februari, di Kabupaten Wonosobo.

Pola Pikir
Hasil dari diskusi dan kunjungan ke kawasan perdesaan ini lalu dikaji dalam sarasehan untuk menemukan penindaklanjutan seperti apa yang akan dilakukan.

Hasil sementara yang didapatkan sebagian besar memaparkan adanya perilaku dan pola pikir yang perlu diberi pendampingan. Selain itu, ketidaktahuan mengoptimalkan potensi lingkungan sekitarnya.

Dari hasil temuan di lapangan itu di antaranya berkaitan dengan indikator yang menyebabkan Wonosobo meraih predikat sebagai kabupaten termiskin.

Setelah menemukan persoalan, menurut Rektor, Unika akan segera melakukan langkah selanjutnya melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). ”Nantinya diharapkan bisa membantu mengentaskan tingkat kemiskinan berdasarkan data yang ada, ”katanya.

Sebelumnya Rektor Unika Y Budi Widianarko dan Bupati Wonosobo Eko Purnomo menandatangani kerja sama atau MoU di Pendapa Kabupaten, Jumat (24/2) malam.

Bupati Wonosobo menyambut dengan positif atas kerja sama itu. Dia berharap, Unika dapat mendukung potensi pembangunan di beberapa kecamatan di Wonosobo
sebagai penerapan tri darma perguruan tinggi.

Menurut Budi Widianarko, kerja sama tersebut merupakan kelanjutan yang selama ini dikerjakan di beberapa daerah dalam
membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan. ”Para dosen dan tenaga kependidikan tidak hanya berkutat dengan buku dan mahasiswa saja. Tetapi juga harus mampu melakukan sesuatu untuk membantu bangsa dan negara, ”katanya. (►Suara Merdeka 28 Februari 2017, hal. 24)

Kategori: