Institusi Unika Terakreditasi “A”
Rabu, 8 Februari 2017 | 11:37 WIB

IMG_7605Euforia masih terasa hingga saat ini, dimana Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang akhirnya berhasil meraih peringkat “A” pada akreditasi institusi menurut hasil pengujian yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) no. 0384/SK/BAN-PT/Akred/PT/I/2017. Predikat ini menobatkan Unika Soegijapranata sebagai perguruan tinggi swasta pertama yang memperoleh peringkat “A” di provinsi Jawa Tengah.

Dengan adanya hasil tersebut, Unika sendiri berharap Jawa Tengah terutama Kota Semarang dapat menjadi simbol pendidikan tinggi (Higher Education Hard) di Indonesia bersama dengan wilayah lain seperti Yogyakarta dan Malang. Dimana saat ini, di kota Semarang ada 3 perguruan tinggi yang memperoleh akreditasi institusi peringkat “A” salah satunya Unika Soegijapranata.

“Sebagai perguruan tinggi swasta, kami merasa bersyukur dan bangga bahwa universitas kami yang tidak terlalu besar mendapatkan kepercayaan. Tidak seperti sebelumnya, dimana sertifikat hasil penilaian BAN-PT dikirimkan via pos. Khusus perguruan tinggi yang memperoleh peringkat “A”, sertifikat akan diserahkan secara langsung oleh pejabat Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi yang disertai dengan pemberian kontrak sosial. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kampus akan dibagi 2 dan daya tampung akan diturunkan agar beban terhadap lingkungan menjadi berkurang. Selain itu, kami juga banyak merekrut dosen muda. Di samping itu, kami juga akan meningkatkan rasio doktor yang saat ini sekitar 30 % dan tentu idealnya target kami pada akreditasi selanjutnya tahun 2022 rasio doktor telah sebanyak  50%. Kami sendiri akan membuka program studi baru yang telah kami ajukan antara lain Fakultas Kedokteran, Hubungan Internasional, dan Program Doktoral (S3) Kepemimpinan Lingkungan” tegas Prof. Dr. Y. Budi Widianarko, M.Sc sebagai rektor Unika Soegijapranata.

“Apabila pemerintah memfokuskan publikasi karya ilmiah yang bagus khususnya pada bidamg eksakta dan teknologi, pemerintah harus membantu penyediaan alat laboratorium. Karena tanpa alat laboratorium yang bagus, publikasi karya ilmiah akan berjalan sulit dikarenakan alat yang sudah terlalu kuno. Jadi, saya harap pemerintah memiliki tanggung jawab tidak hanya memberi sertifikasi dan dana penelitian tapi juga harus memperkuat alat laboratorium. Sehingga, jangan sampai penelitian yang dihasilkan berjumlah banyak tapi tidak terlalu berdampak pada ilmu pengetahuan” harap Prof Budi untuk Pemerintah Indonesia.

Dalam bidang penelitian, Unika mengalami peningkatan dalam beberapa cluster pada program penelitian yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang sebelumnya masih berada di cluster madya dengan kuota pembiayaan Rp 2 miliar kemudian meningkat menjadi cluster utama dengan kuota pembiayaan Rp 3 miliar. Selain itu, Unika juga menerapkan persyaratan yang lebih ketat terutama mengenai umur dari sebuah karya ilmiah yang harus dihasilkan oleh para guru besar dan dosen yang hanya berlaku selama 1 semester.

Terkait sumber daya manusia, Unika telah mencoba mengembangkan sumber daya manusia dengan mengadakan perekrutan dosen dan tenaga kependidikan. Setelah diterima, para dosen dan tenaga kependidikan yang baru, diberikan pendampingan yang disebut Career Formation, dimana dalam acara tersebut para dosen dan tenaga kependidikan yang baru diperkenalkan dengan spirit dari Unika itu sendiri dan diberikan penjelasan mengenai jenjang karier selama di Unika. Mengenai sistem informasi yang berkembang di Unika, fasilitas internet di Unika Soegijapranata telah didukung dengan bandwith 1,1 GB/detik dan saat ini Unika telah mengembangkan fasilitas E-learning yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa tidak hanya untuk mengunduh dan mengupload materi tapi juga terdapat proses akademik lainnya termasuk pemeriksaan plagiasi yang ada.

Dari sisi kemahasiswaan, saat ini mahasiswa Unika sangat beragam apabila dilihat dari asalnya yaitu berasal dari 29 provinsi di Indonesia. Meskipun Unika berlabel universitas katolik, faktanya 5 agama yang telah diakui di Indonesia memiliki proporsi yang merata di Unika Soegijapranata. Selain itu, Unika Soegijapranata juga telah menyiapkan suatu sistem yang melembaga bagi mahasiswa sejak masuk masa orientasi mahasiswa baru untuk melatih softskill. Mahasiswa baru Unika juga wajib mendapatkan pelatihan kepribadian yang dinamakan Arising The Grateful Winner (ATGW) yang dilaksanakan selama 2 hari berturut-turut disertai dengan aksi sosial. Unika juga mendampingi secara intensif organisasi mahasiswa (ormawa) yang ada di lingkup kampus, tiap ormawa tersebut diwajibkan untuk mengikuti format tertentu yang akan dinilai oleh pihak universitas dalam akreaditasi ormawa.

Sebelumnya, Unika telah mengajukan akreditasi sebanyak 2 kali dan ketika pertama kali mengajukan akreditasi tahun 2008. Ketika itu, Unika memperoleh peringkat “B” dan menempatkan Unika Soegijapranata sebagai salah satu diantara 50 universitas paling menjanjikan di Indonesia (50th promising university). Dalam menyiapkan akreditasi, Unika menyiapkan puluhan tim yang berada di bawah Lembaga Penjaminan Mutu. Dalam penilaian yang dilakukan oleh asessor BAN-PT, ada 7 standar yang menjadi obyek penilaian : (1) visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi pencapaian universitas, (2) tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu; (3) mahasiswa dan lulusan; (4) sumber daya manusia; (5) kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik; (6) pembiayaan, sarana dan prasarana, sistem informasi; (7) penelitian, pelayanan, pengabdian masyarakat dan kerjasama.(cal)

Kategori: ,