Dosen Kesulitan Penuhi Target
Kamis, 9 Februari 2017 | 12:56 WIB

SM 08_02_2017 Dosen Kesulitan Penuhi Target
Kewajiban Menulis di Jurnal Ilmiah Intemasional

Seiring dengan pemberlakukan Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) No 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor, tahun depan, diperkirakan akan ada banyak dosen dan profesor yang kehilangan tunjangan kehormatannya.

Sebab, sulit untuk mengejar target menulis di jurnal ilmiah internasional hingga menjelang batas akhir kewajiban per November 2017.

"Rasanya sangat tidak mungkin, dalam waktu yang sangat pendek harus menerbitkan jumal bereputasi internasional dan nasional. Sebab, untuk bisa masuk dan dipublikasikan butuh waktu paling tidak dua tahun. Itu belum proses menulisnya," ungkap Ketua Ikatan Alumni Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi Bisnis UGM Yogyakarta wilayah Jateng Prof Dr Andreas Lako, Rabu (7/2).

Dalam Permenristekdikti itu ada ketentuan yang mewajibkan profesor untuk menulis sedikitnya tiga karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal nasional terakreditasi. Atau sedikitnya satu karya ilmiah yang diterbitkan dalam jumal intemasional selamakurun waktu tiga tahun.

Selain itu, profesor juga harus menghasilkan buku atau paten, dan karya seni monumental/desain monumental dalam kurun waktu tiga tahun (November 2015- November 2017). Jika hingga batas waktu yang ditetapkan tidak mencapai target, maka tunjangan kehormatan profesor akan dicabut. Tunjangan kehormatan itu cukup besar, besarannya 2 kali gaji pokok.

Lebih lanjut Andreas Lako yang juga dosen Unika Soegijapranata Semarang menyatakan sebenamya bukan persoalan dosen enggan untuk menulis, tetapi lebih pada waktu yang sangat pendek. Semestinya ketika peraturan itu diterbitkan berlaku surut ke depan atau tidak. "Tetapi ini malah dihitung mundur ke belakang mulai 2015," papamya.

Menurutnya, ada perbedaan paradigma, di mana sertifikasi dosen di zaman Presiden SBY merupakan paradigma kesejehteraan untuk dosen sementara di era Presiden Jokowi sertifikasi dan jabatan fungsional harus berbasis kinerja. "Dosen tampaknya masih kaget perubahan paradigma ini dan dinggap terlalu cepat karena baru saja ditetapkan, November nanti sudah dievaluasi," tandasnya.

Menjadi Daya Pacu
Rektor Unnes Fathur Rahman mengemukakan, pihaknya juga sudah mengumpulkan para profesor Unnes untuk mencermati Permenristekdikti No 20 Tahun 2017 dalam kerangka peningkatan produktivitas profesor. "Prinsipnya kami menyambut Permenritekdikti dan berupaya memfasilitasi para profesor dan dosen untuk produktif berkarya dalam bentuk artikel internasional dan/atau paten. Harapan kami Permenristekdikti ini menjadi daya pacu bagi profesor untul produktif, bukan menjadi punishment bagi profesor dalam penghentian tunjangan kehormatan," jelas Fathur.

Meski demikian, dia juga berharap agar pemerintah memfasilitasi perguruan tinggi untuk peningkatan produktivitas profesor dalam Tri Damla Perguruan Tinggi (PT).

Pengelola program master dan doktor Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Yogya Prof Mudrajat Kuncoro mengatakan, melalui peraturan menteri yang baru ini, para guru besar tak boleh sibuk mengejarja batan struktural, tetapi juga harus tetap mengajar, melakukan penelitian dan menerbitkannya dalam jurnal ilmiah Karena, fakta di lapangan selama ini menunjukkan, dari sekitar 6 ribu profesor yang ada, sedikit sekali yang rajin menulis dalam jumal ilmiah "Padahal, meneliti dan menulis juga merupakan bagian dari pekerjaan profesor."

Dalam enam tahun terakhir, Indonesia masih tertinggal jauh dari Malaysia dan Thailand Hal ini berdasarkan perbandingan publikasi intemasional, Indonesia di Web of Science Periode 2010- April 2016. Tercatat jumlah publikasi Indonesia baru mencapai 17.636, hanya lebih baik dari Filipina yang berjumlah 9 445. Adapun Malaysia ada 89.422 dan Thailand 55.292. (â–ºSuara Merdeka, RABU, 8 FEBRUARI 2017, hal. 22, http://berita.suaramerdeka.com)

Kategori: ,