Butuh Pendampingan Ahli
Senin, 13 Februari 2017 | 9:13 WIB

SM 13_02_2017 Butuh Pendampingan AhliKEKERASAN di kalangan kampus, menurut psikolog dari Unika Soegijapranata Semarang, Siswanto, karena pada tingkat ini fase pembentukan emosi belum matang, di mana membutuhkan pencarian jati diri melalui beberapa bentuk. Tak jarang para anak muda ini memilih bergabung dengan sebuah kelompok atau geng.

”Namun, di sisi lain tak sedikit para mahasiswa salah melangkah terhadap fase ini dan membuat kelompok sosial yang memiliki sejarah kehidupan yang sama, tindakan bullying terhadap anggota baru atau adik kelasnya,” jelas Siswanto.

Menurut dia, mereka melakukan bullying berdasarkan solidaritas kelompok atau untuk mendapatkan penerimaan atau pengakuan kelompok. Di luar pihak pelaku dan korban sebenarnya ada sekelompok saksi, di mana saksi ini biasanya hanya bisa diam membiarkan kejadian berlangsung, tidak melakukan apa pun untuk menolong korban, bahkan seringkali mendukung perlakuan bullying.

Ia mengakui untuk memutus mata rantai kekerasan ini memerlukan waktu lama. Selain itu butuh pendampingan ahli seperti psikilog. Siswanto yang juga menjadi konseling menambahkan, untuk memutus mata rantai kekerasan di sebuah kampus di Semarang ini bahkan harus lebih dari 4 kali melakukan pendampingan.

”Tidak bisa langsung, harus ada perhatian khusus kepada mereka untuk memberikan pemahaman,” ujarnya. Selain itu, lanjut dia, perlu dicari akar permasalahan atas berbagai kekerasan yang terjadi. Pertama, meninjau kembali implementasi pendidikan karakter seperti budi pekerti dan perilaku.

Kemudian adalah soal spritualitas dalam pendidikan. ”Pada dasarnya anak muda atau mahasiswa merindukan pendidikan spiritual untuk menyiapkan mereka membangun inter-connection (silaturahmi, baik dengan Tuhan, manusia maupun alam), compassion (rasa kasih sayang dan kepedulian), dan character (akhlak mulia) agar dapat mengisi kehidupan mereka.”

Penerapan spiritualitas dapat dimanifestasikan melalui memaksimalkan kegiatan kerohanian. Kegiatan keagamaan diharapkan dapat membantu internalisasi nilai positif. ”Selain itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Jika deteksi dini sudah dilakukan maka potensi kekerasan di kampus dapat diminimalisasi,” papar Siswanto. (http://berita.suaramerdeka.com, Suara Merdeka 13 Februari 2017 hal.6 )

SM 13_02_2017 Butuh Pendampingan Ahli2

Kategori: ,